Minggu, 19 Juni 2016

DOA


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku niscaya Aku perkenankan bagimu. “[QS. Al-mukmin:60].

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita agar berdo’a kepada-Nya dan Dia akan memenuhi permohonan hamba-Nya.

berkenaan dengan ini Rasulullah Saw bersabda:

“Tidaklah seorang Muslim pun berdo’a dengan do’a yang di dalamnya tidak berisi dosa dan pemutus tali silaturahmi melainkan Allah memberikan kepadanya salah satu dari tiga perkara: Allah akan menyegerakan permohonannya itu (diperoleh di dunia) atau Allah akan menyimpannya untuknya di akhirat kelak, atau Dia memalingkan darinya keburukan yang setimpal dengan do’anya itu.” [HR. Ahmad, hadits shahih].

Jumat, 17 Juni 2016

Agama Laksana Pohon



Di Saung Ketenangan Cakra Jiwa membagi ilmu pengetahuan ke dalam empat bagian. Bagian pertama berkaitan dengan kewajiban dan aturan agama mengenai segala sesuatu dan segala perbuatan di dunia ini. Bagian kedua berkaitan dengan makna batin dan sebab di balik semua ajaran ini. Bagian ini disebut tasawuf—pengetahuan konseptual mengenai segala sesuatu yg bersifat zhanni (tidak pasti). Bagian ketiga adalah falsafah, yg mengkaji rahasia hakekat nurani. Bagian keempat membahas hakikat batin ilmu ini, yakni ilmu mengenai kebenaran. Manusia sempurna harus mempelajari dan mengetahui semua ilmu ini dan mencari jalan untuk meraihnya.

Rasulullah saw bersabda, “Agama adalah pohon, tasawuf adalah cabangnya, falsafah adalah daunnya, kebenaran adalah buahnya. Dan semua itu terkandung dalam Al-Qur’an, dengan tafsir, uraian, dan takwilnya.”

Dalam kitab al-Majma’, kata tafsir—penjelasan, dan ta’wil—tafsir dengan analogi didefinisikan sebagai berikut: “Tafsir Al-Qur’an merupakan penjelasan untuk memberikan pemahaman kepada kaum awam, sedangkan takwil adalah uraian terhadap makna batin melalui ilham yg diterima seorang mukmin sejati, takwil hanya diperuntukkan bagi hamba Allah yg istimewa, yg berpendirian teguh, setia kepada cita-cita ruhani, dan menguasai ilmu untuk memilah antara yg benar dan yg salah. Layaknya pohon kurma yg akarnya menghujam ke bumi, kaki mereka berdiri kokoh di alam materi ini; dan bagaikan pohon kurma yg rantingnya menjulang ke angkasa, hati dan pikiran mereka pun menjulang meraih ilmu samawi.” Berkat rahmat Allah, keteguhan yg tanpa keraguan bertahta di pusat hati mereka. Tingkat keteguhan ini sejajar dengan paruh kedua kalimat tauhid: la ilaha illallaah—illallah, “kecuali Allah”, yg menegaskan keesaan.

“Dialah yg menurunkan Al-Kitab kepadamu. Di antara isinya ada ayat-ayat yg muhkamat, itulah pokok-pokok Al-Qur’an dan yg lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Orang yg hatinya condong kepada kesesatan mengikuti sebagian ayat-ayat yg mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yg mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang yg mendalam ilmunya beriman kepada ayat-ayat yg mutasyabihat, “semuanya dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) kecuali orang yg berakal.” (al ‘Imran: 7)

Seorang mufasir menjelaskan ayat ini bahwa seandainya pintu ayat ini dibuka, semua pintu rahasia alam batin juga akan dibuka.

Hamba sejati wajib melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Ia juga wajib melawan hawa nafsu dan syahwatnya. Nafsu melawan agama dengan memunculkan khayalan yg bertentangan dengan kenyataan. Pada tataran tasawuf, nafsu yg licik membujuk manusia untuk menerima dan mengikuti sebab-sebab dan konsep-konsep yg seolah-olah benar, mengikuti pesan kenabian dan ucapan para wali yg tidak sahih, serta mengikuti para guru atau pemikiran yg sesat. Pada tataran falsafah, nafsu selalu berupaya mendorong manusia untuk mengaku-aku sebagai wali atau bahkan Tuhan—dosa terbesar karena menjadi sekutu bagi Allah:
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yg menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya…” (al-Furqan: 43)
Berbeda dengan ketiga tingkatan ilmu yg pertama, nafsu maupun setan tidak akan sampai pada tataran kebenaran, atau hakikat—bahkan para malaikat pun tak dapat menyentuhnya. Siapa pun, kecuali Allah, yg mendekati kawasan itu akan hancur menjadi debu, sebagaimana dikatakan oleh Jibril a.s, kepada Nabi Muhammad ketika ia tiba di tepi kawasan itu, “Jika aku melangkah satu langkah lagi, aku akan hancur menjadi debu.”

Hamba sejati Allah terlindungi dari setan dan perlawanan hawa nafsunya karena ia memiliki perisai keikhlasan dan kesucian.

“Iblis menjawab, “Demi kekuasaan-Mu, akan kusesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yg ikhlas.” (Shad: 82-83)

Manusia takkan bisa menapai hakikat kecuali dengan menyucikan dirinya, karena sifat-sifat duniawi tidak akan meninggalkannya hingga ia meraih hakikat. Itulah kebenaran dan kebaikan sejati. Ketika ia mencapai ilmu tentang hakikat Allah, semua kebodohannya sirna. Tingkatan ini takkan bisa dicapai melalui pembelajaran. Hanya Allah yg dapat mengajarkannya, tanpa perantara. Dialah satu-satunya guru yg memberikan pengetahuan seperti yg diberikan kepada Khidir. Orang yg dianugerahi pengetahuan akan meraih tingkatan makrifat sehngga ia mengenal Tuhannya dan menyembah-Nya.

Ia akan dapat melihat ruh suci dan kekasih Allah yakni Nabi Muhammad saw, yg akan berbincang dengannya mengenai segala sesuatu, dari awal hingga akhir. Semua nabi dan orang suci akan memberinya kabar gembira mengenai janji persatuan dengan Sang Kekasih. Allah menguraikan keadaan ini dalam ayat Al-Qur’an:
“Dan siapa saja yg mentaati Allah dan rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang yg dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, syuhada, dan orang saleh. Dan mereka itulah teman yg sebaik-baiknya. “ (al-Nahl: 69)

Orang yg tak dapat menemukan ilmu itu dalam dirinya tidak akan menjadi orang bijak meskipun membaca jutaan kitab. Hasil yg dapat diharapkan dari pencapaian ilmu lahir tentang berbagai hal yg bersifat pasti adalah surga: semua yg akan dilihatnya di sana adalah manifestasi sifat-sifat Allah dalam bentuk cahaya. Sesempurna apa pun pengetahuannya mengenai hal-hal yg nyata dan abstrak takkan bisa membantunya memasuki kawasan suci, yg dekat kepada Allah. Seseorang harus terbang menuju ke sana. Agar bisa terbang, ia butuh dua sayap. Hamba sejati Allah adalah orang yg terbang ke sana dengan sayap ilmu lahir dan batin, tak pernah berhenti di tengah jalan, dan tak pernah terhambat. Dalam sebuah hadist qudsi, Allah berfirman:
“Hamba-Ku, jika kau ingin berada di dekat-Ku, jangan menaruh perhatian terhadap dunia ini, atau alam malakut, atau bahkan alam yg lebih tinggi tempat kau menerima sifat-sifat ketuhanan-Ku.”

Alam materi ini adalah godaan atau setan bagi orang berilmu. Alam malakut adalah godaan bagi kaum bijak, dan alam sifat-sifat Ilahi adalah godaan bagi ahli hakikat. Siapa saja yg merasa puas pada salah satunya, ia tertolak dari karunia Allah yg akan membuatnya lebih dekat kepada-Nya. Jika seseorang terperdaya oleh semua godaan ini, ia akan berhenti, tak bisa meneruskan langkah, dan tak kuasa bergerak ke tempat yg lebih tinggi lagi. Meskipun bertujuan unuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta ia takkan pernah bisa mencapainya. Ia terhalang; ia hanya memiliki sebelah sayap.

Namun, para ahli hakikat menerima karunia itu dari Allah; anugrah yg tak dapat dilihat mata, tak didengar telinga, atau tak terlintas dalam hati. Itulah surga kedekatan; anugerah keintiman. Di sana tak ada istana yg terbuat dari permata, juga tak ada pelayan-pelayan yg cantik belia. Setiap orang harus mengetahui bagiannya dan tak menghendaki apa yg bukan haknya. Hadrah ‘Ali r.a. berkata, “Semoga Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada orang yg mengetahui bagiannya, yg sadar untuk tetap berada di batas-batasnya, yg mengendalikan lisannya, dan yg tidak menghabiskan usianya dalam kesia-siaan.”

Orang yg mengetahui harus menyadari bahwa anak ruh yg dilahirkan di dalam hatinya merupakan hakikat sejati kemanusiaan. Ia harus mendidik anak hati ini dengan ajaran tauhid dan melatihnya agar senantiasa mengingat keesaan, menjauhkan diri dari alam materi dan kemajemukan ini, serta mencari alam ruhani, alam rahasia, yg hanya ditempati oleh dzat Alalh. Pada hakikatnya, tak ada tempat lain selain tempat itu; tempat yg tak memiliki awal maupun akhir. Sang anak hati mencapai kawasan yg tak terbatas itu seraya melihat segala sesuatu yg tak pernah dilihat siapa pun, yg tak terkatakan lisan siapa pun, dan yg tak pernah diceritakan siapa pun. Tempat itu adalah tanah air orang yg telah mencampakan diri mereka sendiri merasakan kebersatuan dengan Tuhan, mata keesaan. Ketika melihat keindahan dan karunia Tuhan, wujud mereka yg fana tak lagi bersisa. Seseorang yg menatap matahari takkan bisa melihat sesuatu yg lain. Jika keindahan dan karunia Allah mengejawantah, masih adakah diri? Tentu tak ada.

Nabi ‘Isa a.s. bersabda, “Manusia harus dilahirkan dua kali untuk mencapai alam malakut, bagaikan burung yg dilahirkan dua kali.” Kelahiran yg kedua adalah kelahiran makna dari perbuatan, kelahiran jiwa dari daging. Kemungkinan itu ada dalam diri manusia. Itulah rahasia manusia. Ia lahir dari persekutan ilmu agama dengan kesadaran akan hakikat, sebagaimana semua anak lahir karena perpaduan dua jenis air.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yg bercampur; Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu, Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (al-Insan: 2)

Ketika makna mengejawantah dalam wujud, ia dapat melewati bagian yg dangkal menuju samudra penciptaan dan menyelam di kedalaman perintah Allah. Dibandingkan alam ruhani, seluruh alam materi ini hanyalah seperti setetes air samudra. Hanya jika semua ini dapat dipahami, kekuatan ruhani dan cahaya rahasia sifat Ilahi, hakikat sejati, akan memancar ke dunia nirkata dan nirswara.


Syajaratul Yaqin (Pohon Keimanan) 

Kamis, 16 Juni 2016

BELAJAR DARI POHON


Suatu ketika, seorang guru bertanya pada Sang Maha Guru, “Wahai Maha Guru, aku ingin menjadi guru yang sejati bagi anakku, juga bagi murid-muridku. Apakah Maha Guru memiliki pesan untukku, agar setiap kali mengajar aku akan selalu teringat pesan bijaksanamu?”
Sang Maha Guru terdiam sejenak. Lalu sambil tersenyum arif ia bertanya, “Apakah kamu pernah melihat pepohonan di sekitarmu?” “Ya, tentu saja,” kata si guru. Sang Maha Guru bertanya kembali, “Apakah kamu benar-benar melihat dan memperhatikan apa yang mereka lakukan?” Si guru menggaruk-garuk kepalanya, “Setahuku mereka diam saja dan tidak melakukan apa-apa.” Sang Maha Guru tersenyum lagi, lalu mulailah ia berpesan :

“Jadilah seperti pohon. Perhatikanlah, ia diam tak banyak bicara hingga kamu tidak menyadari apa yang dilakukannya. Padahal ia selalu memberimu udara untuk dihisap. Lihatlah bagaimana ia memberi udara pada semua orang tanpa memandang apakah kamu miskin atau kaya. Atau apakah kamu lahir dari kelompok etnik tertentu. Ia memberi udara bagi semua orang tanpa memandang agama, ras dan suku bangsa. Apakah kamu bersedia membagi ilmumu untuk semua orang tanpa pilih kasih?”

“Jadilah seperti pohon. Ia tidak banyak berbicara tapi terus bertumbuh setiap hari. Jika sudah tidak bertumbuh maka ia akan mati. Apakah dirimu merasa terus bertumbuh?” “Jadi seperti pohon. Apabila sudah besar, ia akan menaungi siapa saja yang berada dibawahnya, tak peduli itu manusia atau hewan. Apakah kamu merasa dirimu sudah semakin besar dan menaungi apa saja yang berada dibawahmu?”

“Jadilah seperti pohon yang selalu menyejukkan, memperindah dan mempercantik tempat-tempat gersang. Apakah kamu merasa kehadiranmu telah membuat hati-hati yang gersang menjadi sejuk dan indah kembali?”

 “Jadilah seperti pohon. Satu-satu kehidupan yang tumbuh ke atas dan berhasil melawan kuatnya gravitasi Bumi. Apakah kamu merasa dirimu telah berhasil melawan kuatnya godaan dan tantangan akan terus bertumbuh menjadi manusia dan guru yang lebih baik dari hari ke hari?”

 “Jadilah seperti pohon yang menyuburkan tanah di sekitarnya dan menyimpan air di bawahnya untuk kehidupan semua makhluk hidup lainnya. Apakah kamu sudah menyuburkan lingkungan sekitarmu?”

 “Jadilah seperti pohon, Seandainya sudah mati pun tubuhnya masih berguna bagi kesuburan tanah atau menjadi bahan baku tempat tinggal yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.”

Menurut Anda, apakah kita sudah lebih baik dari pohon?  

SYAJARATUL YAQIN (Pohon Keimanan)

Rabu, 08 Juni 2016

DETIK-DETIK RASULULLAH SAW DIBANGKITKAN


Ketika sangkakala Malaikat Israfil ditiup, maka kiamat pun terjadi. Pada saat itu orang-orang berlari tunggang-langgang karena ketakutan, sampai-sampai wanita yang hamil pun akan melupakan bayi yang dikandungnya. Ketika huru-hara kiamat terjadi, maka setiap makhluk yang ada di bumi akan binasa, bahkan para setan pun mencoba lari dari kejaran malaikat maut, namun malaikat maut dengan mudah mencabut nyawa setan-setan. Ketika semua makhluk sudah binasa, maka yang tersisa hanyalah malaikat. Kemudian Allah akan memerintahkan malaikat maut untuk mencabut nyawa para malaikat seperti Jibril, Israfil, Mikail, malaikat-malaikat penyangga Arsy Allah, dan malaikat-malaikat lainnya. Kemudian Allah akan memerintahkan malaikat maut untuk mencabut nyawanya sendiri. Dengan demikian, hanya Allah satu-satunya Yang Tetap Hidup.

Saat semua makhluk sudah binasa dan keadaan diliputi kehampaan selama beberapa waktu lamanya, kemudian Allah akan menghidupkan Israfil, Mikail, Jibril, dan malaikat-malaikat yang menyangga singgasana Allah. Dia akan memerintahkan Israfil untuk meniup sangkakala sekali lagi untuk memulai penghisaban.

Allah mengirim Jibril dan Mikail dengan kunci surga untuk membuka makam dari seorang manusia yang paling mulia di dunia. Jadi mereka datang dengan misi spesial untuk membuka makam Nabi Muhammad S.A.W. di Madinah.

Setelah bangkit dari tidur panjangnya, Rasulullah S.A.W. bertanya “Hari apa ini? Apa yang telah terjadi?”

Jibril A.S. menjawab “Sekarang adalah hari dimana amalan manusia akan dihisab.”

Kalimat berikutnya yang keluar dari bibir Rasulullah S.A.W. adalah “Bagaimana keadaan umatku?”

Subhanallah, beliau menanyakan tentang umatnya! beliau tidak menanyakan dirinya, istri, atau anak-anaknya, namun beliau bertanya tentang umatnya, karena beliau tahu bahwa umat Islam membutuhkannya pada hari itu.

Saudara/saudariku sesama Muslim, apakah kalian mencintai Rasulullah S.A.W.? Karena demi Allah, Rasulullah sungguh mencintai kalian.


Sebagai catatan, ada sebuah hadist yang disabdakan Rasulullah berkenaan dengan kita. Pada suatu hari, Rasulullah sedang duduk bersama para sahabatnya. 

Kemudian dia berkata “Aku sangat rindu pada kekasihku.”

Para sahabat berkata Ya Rasulullah, kami berada disini bersamamu, kau tidak perlu merindukan kami.”

Rasulullah bersabda “Kalian semua kuanggap sebagai sahabat, namun aku rindu dengan kekasihku.”

Mereka bertanya “Siapa kekasihmu?”

Rasulullah bersabda “Orang-orang setelahku, yang tak pernah melihatku tapi beriman kepadaku.”

Kesimpulan dari hadist di atas adalah Rasulullah S.A.W. menganggap kita sebagai kekasihnya. Apakah kita juga mencintainya sebagaimana beliau mencintai kita? Karena pada hari penghisaban saudara/saudari Muslim-ku, beliau akan menanyakan tentang kita.

(Pengasuh Saung Ketenangan Cakra Jiwa)

Rabu, 11 Mei 2016

BERGATUNG HANYA KEPADA ALLAH SWT


Mendengar penjelasan Pengasuh Saung KCJ  tentang kebergantungan hanya kepada Alloh SWT, Firman masih duduk termenung. 
Raut wajahnya kelihatan sedikit agak tenang, namun sorot matanya terlihat membumbung tinggi ke awan. Nafasnya terdengar memanjang. 

Perlahan – lahan iapun mulai berbicara.  “ Berarti berkurangnya harapan, karena masih menggantungkan kepada amal, ya kang ?” tanya Firman.  “ Mestinya, panjenengan sudah bisa menjawab pertanyaanmu….” Jawab Pengasuh Saung KCJ.  “ Supaya hati tidak bergantung kepada amal, gimana Kang ?” tanya Firman.  Pengasuh Saung KCJ ikut termenung mendengar pertanyaan Firman.  “ Panjenengan ngaji yang istiqomah…. cari guru pembimbing yang bisa menjelaskan dengan sederhana…….” jawab Pengasuh Saung KCJ sekenanya.  

“ Itu sudah pasti lah kang……, kasih sedikit pencerahan ya….?” Pinta Firman.   Pengasuh Saung KCJ     “ Pertama-tama seseorang dalam beramal, biasanya melihat dengan beramal itulah yang membawanya kehadirat Alloh SWT. Segala aktivitasnya dijadikan kendaraan untuk menuju Alloh. Bila kita dalam berbisnis, itupun bisa dijadikan kendaraan menuju Alloh.  Ia melihat melalui penyebab amalnya, aktivitasnya, ia berharap menuju Alloh. Amaliahnya ini yang dijadikan alat menuju Alloh.  Pada tahap selanjutnya, pandangannya akan berubah. Ia melihat amaliah, aktivitas yang ia lakukan bukan lagi sebagai alat, namun mutlak karunia Alloh semata, dan kehampirannya kepada Alloh juga mutlak karena karunia Alloh semata.”  

“ Masih agak bingung kang ??????” tanya Firman.   Pengasuh Saung KCJ   “ Dengarkan dengan hatimu…..”  “ Rubahlah dari bergantung kepada amal, kepada pemberi amal itu sendiri….. karena panjenengan bisa beramal, bukan karena kemampuanmu, kepintaranmu… namun karunia Alloh semata.”  “ Terus ????? “ sela Firman. “ Kalau panjenengan dikasih satu saja proyek oleh seseorang , panjenengan semangat, masa….. mau dikasih pemberi Sang Maaha proyek, panjenengan gak semangatttt ? “ 

 “ Tandanya saya lagi dikasih karunia gimana kang ? “ sela Firman lagi.  
Pengasuh Saung KCJ “ Panjenengan diberi lebih taat dalam melaksanakan ibadah…….”