Sabtu, 20 September 2014

HUTANG KEPADA ALLAH



Dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan muslim. ( QS. Ali Imran 3 :102 )

Muslim mempunyai arti Damai, Pasrah dan Lunas Hutang. Ayat tersebut menjelaskan bahwa ketika diri kita menghadapi kematian, maka kondisi batin kita harus dalam keadaan damai, pasrah dan telah melunasi hutang kita.

Hutang kita itu terbagi dua :

1. Hutang kepada sesama manusia.

2. Hutang kepada Allah.

Hutang kita kepada Allah adalah lupa atau tidak ingat kepada Allah. padahal sebelum kita dilahirkan kita sudah menyaksikan keberadaan Allah dengan mata rohani kita , tapi sayangnya ketika lahir di dunia, kita lebih senang menikmati keindahan dunia melalui inderawi kita, sehingga kita lupa akan Wajah Allah.

Untuk mengobati penyakit lupa kepada Allah, kita harus mengingat Allah kembali, dengan cara bertemu kembali dengan Allah selagi kita masih hidup di dunia.

Setelah kita bertemu kembali dengan Allah dan saat itu kita menyaksikan kehadiran Allah, maka barulah kita bisa mengingat Allah kembali.

Karena mustahil kita bisa mengingat Allah, kalau kita belum pernah melihat Allah, paling hanya bisa menyebut-nyebut Nama Allah, sedangkan batin melayang-layang entah kemana.

Ketika kita sudah bertemu dan melihat Allah, barulah kita disebut dengan muslim yaitu orang telah melunasi hutangnya kepada Allah.

Dan ketika meninggal dunia, kita bisa kembali kepada Allah dengan pasrah dan damai. Karena dengan melihat dan bertemu dengan Allah, batin kita menjadi mutmainah.

Wahai jiwa yang tenang. Kembali kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi. ( QS 89 : 27-28 )

                                SAUNG KETENANGAN CAKRA JIWA

 

Jumat, 19 September 2014

TERSESAT DI SYURGA



Oleh : Ketenangan Cakra Jiwa ( Syajaratul Yaqin )

Seorang pemuda, yang mengaku ahli amal ibadah datang ke Saung KCJ. Sang pemuda dengan bangganya mengatakan kalau dirinya sudah melakukan amal ibadah wajib, sunnah, baca Al-Qur’an, berkorban untuk orang lain dan kelak harapan satu satunya adalah masuk syurga dengan tumpukan amalnya. Bahkan sang pemuda tadi malah punya catatan amal baiknya selama ini dalam buku hariannya, dari hari ke hari.

Pemuda : “Saya kira sudah cukup bagus apa yang saya lakukan Tuan…”
KCJ : “Apa yang sudah anda lakukan?”
Pemuda :  “Amal ibadah bekal bagi syurga saya nanti…”
KCJ : “Kapan anda menciptakan amal ibadah, kok anda merasa punya?”
Pemuda itu diam…lalu berkata, “Bukankah semua itu hasil jerih payah saya sesuai dengan perintah dan larangan Allah?”
KCJ : “Siapa yang menggerakkan jerih payah dan usaha anda itu?”
Pemuda : “Saya sendiri…hmmm….”
KCJ : “Jadi anda mau masuk syurga sendiri dengan amal-amal itu?”
Pemuda : “Jelas dong tuan…”
KCJ :  “Saya kira anda akan sulit bisa masuk ke syurga. Kalau toh bisa masuk, anda malah akan tersesat disana…”
Pemuda itu terkejut bukan main atas ungkapan KCJ. Pemuda itu antara marah dan diam, ingin sekali menampar muka KCJ. “Mana mungkin di syurga ada yang tersesat. Jangan-jangan tuan ini ikut aliran sesat…” kata pemuda itu menuding KCJ.
KCJ :  “anda benar. Tapi sesat bagi syetan, petunjuk bagi saya….”
Pemuda : “Toloong diperjelas…”
KCJ : “Begini saja, seluruh amal anda itu seandainya ditolak oleh Allah bagaimana?”
Pemuda : “Lho kenapa?”
KCJ : “Siapa tahu anda tidak ikhlas dalam menjalankan amal anda?”
Pemuda : “Saya ikhlas kok, sungguh ikhlas. Bahkan setiap keikhlasan saya masih saya ingat semua…”
KCJ : “Nah, mana mungkin ada orang yang ikhlas, kalau masih mengingat-ingat amal baiknya? Mana mungkin anda ikhlas kalau anda masih mengandalkan amal ibadah anda?
Mana mungkin anda ikhlas kalau anda sudah merasa puas dengan amal anda sekarang ini?”

Pemuda itu duduk lunglai seperti mengalami anti klimaks, pikirannya melayang membayang bagaimana soal tersesat di syurga, soal amal yang tidak diterima, soal ikhlas dan tidak ikhlas.
Dalam kondisi setengah frustrasi, ….KCJ menepuk pundaknya.
KCJ : “Hai anak muda. Jangan kecewa, jangan putus asa. Anda mulai dari istighfar saja. Kalau anda masih berambisi masuk syurga itu baik juga. Tapi, kalau anda tidak bertemu dengan Sang Tuan Pemilik dan Pencipta syurga bagaimana? Kan sama dengan orang masuk rumah orang, lalu anda tidak berjumpa dengan tuan rumah, apakah anda seperti orang linglung atau orang yang bahagia?”
Pemuda : “Saya harus bagaimana tuan…”
KCJ : “Mulailah menuju Sang Pencipta syurga, maka seluruh nikmatnya Insyaa Allah akan diberikan kepada anda. Amal anda bukan tiket ke syurga. Tapi ikhlas dalam beramal merupakan wadah bagi ridlo dan rahmat-Nya, yang menarik anda masuk ke dalamnya…”
Pemuda itu semakin bengong antara tahu dan tidak.
KCJ : “Begini saja, anak muda. Mana mungkin syurga tanpa Allah, dan mana mungkin neraka bersama Allah?”

Sabtu, 13 September 2014

ALLAH MAHA MENGETAHUI APA YANG DIKEHENDAKINYA


Di suatu tempat, hiduplah seorang ibu penjual tempe.
Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup.

Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya.
Ia jalani hidup dengan riang. “Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. ..” demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah sholat subuh, dia pun berkemas.
Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur.
Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang.
Tapi, deg! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang kedelai, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian.

Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang kedelai, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.

Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya.
Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil.
Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa.

“Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini.Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku…” Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya.

Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe.
Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan… dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacang kedelainya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih.

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan… belum jadi. Kacang kedelai itu belum sepenuhnya memutih.

Tak ada perubahan Tapi, dengan m emaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang “memproses” doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi.
Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah.
Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang,dia berdoa lagi.

“Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu.

Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku…” apa pun atas ragian kacang kedelai tersebut. “Keajaiban Tuhan akan datang… pasti,” yakinnya.

Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, “tangan” Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa… berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.

Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. “Pasti sekarang telah jadi tempe!” batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan.
Dan… dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.

Air mata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Apakah Tuhan ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.
Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar…merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya.

Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan… esok dia pun tak akan dapat makan.
Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan “teman-temannya” sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak.

Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat…
Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya.
Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya.

“Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya?”
Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat.
Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan.

“Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi.Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe…” Lalu segera dia mengambil tempenya.

Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. “jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe…”

“Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?” tanya perempuan itu lagi.

Kepanikan melandanya lagi. “Ya Allah.. bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?” ucapnya berkali-kali.
Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu.

Dan apa yang dia lihat, sahabat?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama.

Belum jadi! “Alhamdulillah!” pekiknya, tanpa sadar.

iapun menjawab "Ada bu" Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.
sang ibupun tanpa sadar berucap "Alhamdulillah, hampir putus asa saya mencarinya"

lalu sang ibu membuka ponselnya dan menelfon anaknya .. lagi2 terdengar Alhamdulillah dari dalam suara handphone.

Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. “Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?”

“Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Shalahuddin, yang kuliah S2 di Australia

ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu?”

QOLAA INNI A'LAMU MAALAA TA'LAMUUN (Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui Al-Baqoroh : 30)

pernahkah kita renungkan bahwa kita terkadang mengumpat saat doa kita tdk di kabulkan.. atau ketika ada halangan atau musibah yg kita rasakan...

sesungguhnya Allah sedang memainkan peran Nya...

ucapkan Subhanallah ketika berjumpa apapun juga karena Allah itu Maha Suci atas kehendak Nya..Allahu Akbar saat menjalaninya... Alhamdulillah saat sdh merasakan maknanya... dan Laa Ilaaha Illallah saat semua belum tersentuh hikmahnya

KITA LIHAT BETAPA ALLAH MEMERANKAN SIRR (RAHASIA) NYA KEPADA PENJUAL TEMPE…. KEPADA IBU PEMBELI .. DAN KEPADA SHALAHUDDIN … MEREKA BERTIGA BERDOA DALAM WAKTU YANG BERSAMAAN NAMUN MELIKI MAKNA DALAM ALAM FIKIR MASING2 .. DAN ALLAH ADALAH DZAT YANG MAHA SEGALANYA


                                    Ketenangan Cakra Jiwa (Syajaratul Yaqin)

Jumat, 12 September 2014

GURU MURSYID




Nabi mengatakan bahwa ibadah akan ditolak oleh Allah kalau ibadah itu tidak dilakukan dengan Ikhlas. Bagaimana mungkin ibadah bisa ikhlas kalau dalam hati sanubari masih bersemayam unsur yang menyebabkan hati tidak ikhlas yaitu Iblis beserta bala tentaranya. Selama Iblis dan tentaranya masih bersemayam dalam hati manusia maka selamanya manusia tidak ikhlas beribadah dan ibadahnya akan ditolak.

Iblis tidak akan takut dengan bacaan ayat-ayat Tuhan yang diproduksi oleh mulut kita bahkan Iblis sangat fasih melantunkan ayat-ayat Tuhan. Bagaimana mungkin Iblis bisa dilawan, umurnya jutaan tahun, bisa keluar masuk kemana saja bahkan dia bisa keluar masuk ke surga, sedangkan kita???
Hanya satu yang ditakuti oleh Iblis yaitu Allah !. Ketika hati disinari dengan Kalimah Allah, di isi dengan Nur Allah maka segala unsur-unsur setan dalam diri, Iblis beserta bala tentaranya akan lenyap dengan sendirinya. Pelajaran ini hanya ada di Tarekat tidak ditempat lain.

Kalau kita buka surat Al-Ikhlas maka disana tidak ada satu kata Ikhlas pun disebutkan. Ini bermakna bahwa sebenarnya ikhlas itu bukan sebuah pengakuan yang di akui kepunyaan manusia dan manusia itu sendiri tidak akan mampu mencapai derajat Ikhlas kecuali ruhani nya dibimbing oleh Rasulullah SAW.
Guru Sufi mengatakan, “Kalau sudah ikhlas maka sudah ada Tuhan disana”. Ketika hati manusia telah bersemayam nur Allah maka secara otomatis hatinya akan menjadi Ikhlas karena Sang Maha Ikhlas ada disana. Jadi tidak perlu menerka-nerka tentang ibadah, selama hati belum mengenal Allah dengan baik maka selama itu pula ibadah tidak akan mencapai tahap ikhlas.

Maka lupakan ibadah-ibadah yang telah kita kumpulkan bertahun-tahun karena itu tidak akan bisa menyelamatkan diri kita. Segera perbaiki ibadah kita dari ibadah jasmani kepada ibadah ruhani sehingga kita mengenal Allah dengan benar, barulah kemudian menyembah Nya dengan penuh keyakinan.
Ada sebuah pengalaman menarik ketika saya bersama Guru. Ketika mengabdi, saya sering diminta oleh Guru untuk memijit kaki Beliau, setelah seharian Beliau lelah melayani murid-murid dan orang-orang yang datang baik meminta nasehat maupun orang-orang yang ingin berobat dengan metode Dzikirullah. Ketika Beliau tidur dan sudah dalam keadaan pulas, terdengar halus suara nafas dan Beliau benar-benar dalam kondisi tertidur pulas.

Saya berhenti untuk memijit. Sepengetahuan saya seorang Guru Muryid itu tidak pernah tidur. Dalam hati saya berkata, “Katanya Guru Mursyid itu tidak pernah tidur, tapi ini kenapa tertidur pulas tanpa sadarkan diri?” Belum selesai saya berkata dalam hati, tiba-tiba Beliau bangun dan langsung membentak saya, “Siapa yang mengatakan Guru Mursyid itu tidur?” saya sangat kaget karena Beliau tiba-tiba bangun dan mengatakan itu dengan keras. Beliau tertidur lagi dengan pulas.
Kemudian baru saya pahami bahwa orang-orang yang ruhaninya telah disucikan, dalam keadaan tidur dan terjaga tetap bisa mengingat Allah bahkan bisa membaca isi hati orang lain. Guru tetap tertidur mengikuti alamiah manusia sedangkan Mursyid yang merupakan ruhani Guru tidak pernah tidur, Mursyid selamanya terjaga.

Itulah sebabnya, seorang murid yang bermunajat kepada Allah dengan menyebut nama Guru Mursyidnya akan terus tersambung kepada Allah sampai kapanpun, selamanya dari dunia sampai ke akhirat kelak. Ruhani Guru Mursyid itu pada hakikatnya adalah Wasilah yang berasal dari Allah, dengan Wasilah itulah manusia bisa berkomunikasi dengan Allah.

Orang yang memiliki Guru Mursyid akan terus dibimbing siang dan malam, dimanapun dan kapanpun, terus menerus mendapat pelajaran karena ruhaninya telah hidup sehingga bisa menerima pelajaran dari Allah Yang Maha Hidup. Hakikatnya yang membimbing itu bukan Guru karena Guru mempunyai keterbatasan, yang membimbing itu adalah Allah sendiri setelah mengetahui metodenya yaitu Tariqatullah.

Saya mengucapkan selamat kepada sahabat-sahabat yang akan mengunjungi alkah-alkah zikir, bertawajuh menghadapkan wajah kepada Wajah Allah SWT dibawah bimbingan Guru Mursyid yang Kamil Mukamil. Begitu luar biasanya Tawajuh berjamaah ini sehingga Rasulullah menyebutnya sebagai Taman Surga.
Mengakhiri tulisan ini, marilah kita segera menghidupkan ruhani dengan Dzikirullah (Ingat Kepada Allah) sehingga dari dunia ini kita telah terbangun, sadar sepenuhnya, dengan demikian ketika kita mati kita tidak seperti orang yang terbangun dari mimpi.

Kamis, 11 September 2014

TAMAN SYURGA




“Apabila kamu melalui Taman Syurga, maka ikutlah atau masuklah kamu padanya. Bertanya salah seorang sahabat: Apakah Taman Syurga itu, ya Rasulullah? Sabda Rasul: Yaitu Halqah-halqah dzikir (lingkaran orang berzikir)”. (HR. Imam Tarmizi).

Rasulullah SAW menggambarkan lingkaran orang berzikir sebagai Taman Syurga yang sangat indah, penuh ketenangan dan kedamaian , mengalir segala rahmat dan karunia Allah SWT. Kenapa lingkaran orang berzikir di ibaratkan sebagai Taman Surga? Karena disaat mata terpejam, kepala pun tertunduk untuk merendahkan diri dengan serendah-rendahnya kepada Allah SWT yang Maha Agung lagi Maha Perkasa, lidah terasa kelu tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun, hanya hati yang terus bergetar, dimulai dengan ucapan astarafirullah sebagai wujud permohonan ampun kepada Allah SWT atas dosa-dosa yang kita lakukan baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari, barulah kemudian hati kita bergetar berzikir ALLAH, ALLAH. Seluruh anggota badan ikut merasakan getaran Maha Dasyat dari keagungan Kalimah Allah.

Keindahan zikir dalam lingkaran di bawah bimbingan Waliyammursyida tidak akan bisa digambarkan dengan kata-kata, zikir yang selalu dinaungi oleh Nur Allah beserta segenap Para malaikat-Nya sebagaimana dalam sebuah hadist :

“Apabila duduk suatu kaum mengucapkan dzikir ALLAH, maka melingkungi akan mereka malaikat-malaikat dan meliputi akan mereka Rahmat dan turut atas mereka SAKINAH (ketenangan jiwa) dan ALLAH menyebut mereka pada sisi-Nya”. (HR. Imam Muslim)

Zikir yang senantiasa dikelilingi oleh para Malaikat ini lah selalu dirasakan oleh orang-orang yang intensif berzikir selama 10 hari dalam iktikaf dan suluk dan tentu akan menghasilkan jiwa yang tenang, jiwa yang kelak bila saatnya telah tiba akan dipanggil kembali oleh Allah SWT untuk kembali kepada-Nya.

Marilah kita semua untuk selalu memperbanyak zikir kepada Allah SWT, karena sesungguhnya zikir itu adalah perintah Allah SWT sebagai firman-Nya :
“Dan ingatlah Tuhan mu sebanyak-banyaknya dan tasbihlah di waktu petang-petang dan pagi-pagi (Q.S. Al-Ahzab, 41-42).

“Barang siapa yang tidak mengingat AKU, dia akan mendapat kehidupan yang sulit dan di akhirat akan dikumpulkan sebagai orang buta” (Q.S. Thaha, 124)

“Siksaanlah bagi orang yang engkar hatinya mengingat ALLAH, orang-orang itu dalam kesesatan yang nyata” (Q.S. Azzumar, 22)

Zikir bukan hanya bisa menghilangkan penyakit hati akan tetapi juga bisa menyembuhkan penyakit-penyakit zahir yang kadang tidak bisa ditangani oleh dokter seperti penyakit AIDS/HIV, Kangker ganas, Leukimia, termasuk juga bisa dijadikan terapi untuk menyembuhkan orang gila dan orang yang kecanduan narkoba.

Allah SWT telah memberikan garansi kepada orang-orang yang selalu mengamalkan zikir untuk terlepas dari berbagai malapetaka dan bencana sebagaimana tersebut dalam sebuah hadist:
“Tidak memberi mudharat apa-apa yang dibumi dan tidak pula di dilangit bagi orang yang beserta dengan nama-Nya” (HR. Abu Daud dan Thirmidzi).

Bahkan Allah SWT juga memberikan garansi kepada manusia untuk tidak mengkiamatkan dunia ini kalau masih ada orang yang berzikir menyebut nama-Nya sebagai mana tersebut dalam hadist berikut :
“Tiada akan datang Kiamat, kecuali kalau dimuka bumi tidak ada lagi yang membaca Allah, Allah, Allah” (HR. Muslim)
Disaat seorang hamba berzikir didalam lingkaran (Taman Syurga), bertawajuh dibawah pimpinan seorang Guru Mursyid yang dalam dadanya telah tersalur Nur Ilahi, seluruh badan digetarkan oleh energi Zikir Kalimah Allah yang maha dasyat yang di istilahkan oleh Prof. Dr. SS. Kadirun Yahya MA. M.Sc sebagai Teknolgi Alqur’an, yang dapat memusnahkan segala jenis penyakit dan me-normal-kan kembali fungsi tubuh secara zahir dan mententramkan hati.

Zikir yang bisa menyelesaikan semua problem hidup bukanlah zikir sekedar meniru ucapan, akan tetapi zikir yang mengandung Nur Ilahi. Untuk mendapatkan itu sebelum kita berzikir terlebih dahulu kita mendapatkan frekwensi gelombang dari Rohani Rasulullah (Nur ala Nurin) melalui Rohani sang Mursyid, barulah rohani kita itu, yang pada hakekatnya telah menyatukan diri Rohaninya dengan Rohani Rasulullah, hingga memiliki frekwensi yang sama, barulah rohani kita detik itu, dapat hadir kehadirat Allah SWT karena rohani Rasulullah itu sangat dekat dengan Allah SWT.

Itulah sebabnya kenapa lingkaran zikir digambarkan oleh Rasulullah SAW sebagai Taman Syurga, karena sesungguhnya Syurga itu berada disisi Allah SWT, maka disaat berzikir rohani kita pada hakikatnya telah berada disisi Allah SWT, rohani kita berada di Taman Syurga-Nya yang sangat indah dan damai. Sering-seringlah kita singgah di Taman Syurga semasa kita hidup didunia sebagaimana anjuran Rasulullah agar kelak di akhirat kita bisa masuk kedalam Surga