Jumat, 19 Juni 2015

AKIBAT MENYEPELEKAN SESUATU


Ketenangan Cakra Jiwa

Seorang telik sandi saat kondisi santai melihat paku tapal kuda kaki kiri depannya goyah..
namun ia tetap berleha-leha dalam persembunyiannya...tanpa lekas memperbaikinya...
saat ia tertidur sebentar... merpati pembawa berita datang....
isi berita tentang penyerbuan besar-besaran ke pasukan yang sedang istirahat di titik kumpul....
ia bergegas menunggangi kudanya dan berlaju cepat......
paku tapal yang goyah akhirnya lepas saat kuda ua pacu dengan kencang....
sang kudapun tersungkur....
telik sandi tpdak bisa menggunakan kudanya karena kakinya patah....
iapun bertekad berlari menuju peristarahatan pasukannya....
sayang semangat dan tenaga untuk berlari tidak sama dengan kuda miliknya....
sesampainya disana... yang ia lihat... adalah ribuan pasukan temannya...
sudah menjadi korban peperangan.....
ia menangis.... dan tangisannya tpdak bisa mengembalikan nyawa pasukan nya..

Rabu, 17 Juni 2015

Tujuan Penciptaan


Cuplikan Kitab Kimiya' Al Sa'adah

Ketahuilah, manusia tidak diciptakan secara main-main atau sembarangan. Ia diciptakan dengan sebaik-baiknya dan demi tujuan yang mulia. Meski bukan bagian dari Yang Kekal, ia hidup selamanya; meski jasadnya rapuh dan membumi, ruhnya mulia dan bersifat ilahi. Melalui tempaan zuhud, ia sucikan dirinya dari nafsu jasmani dan mencapai tingkatan tertinggi, tidak menjadi budak nafsu, dan meraih sifat-sifat malakut. Ia temukan surganya dalam perenungan tentang Keindahan Abadi dan tak lagi memedulikan kenikmatan badani. Kimia ruhani yang mampu menghasilkan perubahan seperti ini, layaknya kimia yang mengubah logam biasa menjadi emas, tak mudah ditemukan. 

Sabtu, 13 Juni 2015




SHOLAT DULU BARU MAKAN atau MAKAN DULU BARU SHOLAT

Oleh Pengasuh Ketenangan Cakra Jiwa (Syajaratul Yaqin)

Pukul 17.30 mbah Qodim mulai melangkahkan kakinya dari rumahnya menuju mushola...
setibanya di warung kopi mak Narti... terlihat pak RW dan pak RT sedang bersi tegang...
Mbah Qodim tersenyum saja melintasinya, karena pada dasarnya mbah Qodim tidak suka perdebatan...
Tiba-tiba pak RT berteriak.. "Nah itu mbah Qodim!!! kita tanya saja beliau... mbah tolong kemari sebentar!!"
Mbah Qodim pun dengan senyum khasnya mendekati pak RT dan pak RW...
Mak Narti berkata "Mbah .. tolong ini dari jam 3 tadi nggak rampung-rampung berdebatnya"
Mbah Qodim "Memang apa toh yang di perdebatkan?"
Pak RT "Gini mbah, saya bilang kan bagusnya sholat dulu baru makan, eh pak RW bilang makan dulu baru sholat, gmn menurut mbah?"
Mbah Qodim "Lah pak RW kenapa makan dulu baru sholat?"
Pak RW " Gini mbah, kalau kita makan dulu baru sholat artinya makan sah2 saja bila ingat sholat, asal jgn sholat ingat makan!!"
Mbah Qodim "Bener itu, setuju pak RW"
Pak RT "Tapi mbah, kalau kita sholat dulu baru makan, kan makannya bs santai, atau mau tambah lg jg sudah tidak dikejar-kejar waktu mbah!"
Mbah Qodim "Lah kuwi yo bener juga pak RT"
Pak RT dan Pak RW "Lalu yang lebih benar yang mana mbaaaaaaahhh???!!!"
Mbah Qodim ternyum "Keduanya bener bila dilihat dari situasi pada saat itu, Rasulullah SAW pernah silaturrahim ke rumah Sayyidina Ali RA, saat itu makanan sudah disiapkan oleh sayyidana Fatimah RA, saat sdh siap makan, eh azan berkumandang, lalu Sayyidina Ali mengajak Rasulullah SAW sholat, namun Rasulullah SAW mengajak mereka makan dulu, ya ituuu biar sholat nggak ingat makan, Dan sholat dulu baru makan juga bagus, krn sholat di awal waktu lebih utama... YANG NGGAK BENER itu .. makan sambil sholat atau sholat sambil makan"
Pak RW dan pak RT manggut2,
Mbah Qodim " Nah pak RW sama pak RT ngeributin sholat dari tadi berdebat dari jam 3 sdh sholat ashar belum???"
Pak RW dan pak RT pun tersenyum malu sambil menunduk...
Mbah Qodim "Wealah bapak2 ini .. pinter debat tok... nglakono ora, wesss aku tak minggir ae... "
Pak RW dan pak RT celinggukan malu..
Mbah Qodim berjalan menuju mushola sambil geremeng "Ayoo kita sholat magrib bapak2!!"
sekali lagi pak RW dan pak RT menunduk "Duluan mbah"
Mbah Qodim "Lengkap sudah keadaan bangsa ini saat ini, pinter ngoreksi, debat, dll, semua yg didebatkan seolah2 mencari kebaikan.... TETAPI HANYA NGOMONG TOK!!!"
Mak Narti senyum2 melihat Mbah Qodim dengan sendal jepit tipisnnya sembari memegangi sarungnya yang sudah kelihatan lusuh tersebut berlalu dari warung miliknya....
Kebersamaan .... Ketenangan Cakra Jiwa (syajaratul Yaqin)

Rabu, 17 Desember 2014

HIDAYAH

Oleh : Ketenangan Cakra Jiwa ( Syajaratul Yaqin )



"Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siap yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya" (QS Al-Baqarah: 272).

Setelah menerangkan tentang orang-orang beriman pada ayat-ayat sebelumnya, pada ayat ini Allah Swt. mengalihkan pembicaraan-Nya kepada Rasulullah Saw.

Pembicaraan ini dilakukan dalam rangka untuk menetapkan beberapa hakikat besar yang mempunyai pengaruh yang sangat dalam untuk membangun dan menegakkan persepsi yang benar di atas prinsip-prinsip Islam.

Pembicaraan ini juga sangat mempengaruhi tegaknya suluk Islami (tingkah laku yang Islami), sebuah jalan yang telah ditentukan Allah Swt. yang dijelaskan pada ayat ini.

Pada awal ayat ini Allah mengatakan, "Laisa ‘alaika hudahum walakinnallaaha yahdi man yasyaa" (Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya).

Pada ayat ini Allah Swt. menerangkan kepada kita tentang masalah hati, khususnya tentang masalah masuk atau tidaknya hidayah Allah kepada hati seorang manusia. Ketika seseorang mendapatkan hidayah dari Allah Swt. maupun tetap berada pada kesesatan, hal bukan berada dalam kekuasaan manusia, akan tetapi semata-mata hak prerogatif Allah Swt.

Sampai-sampai manusia yang paling mulia sekalipun, yang dalam hal ini adalah Rasulullah Saw. tidak mempunyai wewenang untuk memberikan hidayah kepada manusia.

Yang dimaksud hidayah di sini adalah hidayatut taufiq (petunjuk yang bisa menjadikan seseorang beriman kepada Allah Swt.), bukan hidayah yang artinya al-irsyad wal bayan (memberikan penjelasan tentang Islam).

Hidayah yang artinya adalah memberikan penjelasan tentang Islam kepada orang lain, hal itu dimiliki oleh Rasulullah Saw., sebagaimana juga kita memilikinya.

Pemahaman yang benar tentang masalah hidayah ini penting, agar tidak terjadi kesalahan dalam memahaminya. Kalau kita salah dalam memahaminya, mungkin kita menyangka bahwa ada kontradiksi (ta’arud) antara ayat ini dengan ayat yang lain yaitu ketika Allah Swt. berfirman,

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur`an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur`an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur`an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS Asy-Syura: 52).

Jika pada ayat di atas Al-Qur`an menegaskan bahwa Rasulullah Saw. (dan umat Islam semuanya) bisa memberikan hidayah kepada seseorang, pada ayat yang lain Allah menegaskan bahwa manusia tidak bisa memberikan hidaya, sebagainya yang terdapat pada firman Allah,

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS 28 : Al-Qashash: 56).

Orang yang tidak memahami arti hidayah akan menyangka bahwa dalam Al-Qur`an ada kontradiksi antara ayat-ayatnya, karena pada QS Asy-Syura ayat 52 mengatakan, “Wa innaka latahdii ilaa shiroothil mustaqiim” (Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus), sedangkan pada ayat 272 QS Al-Baqarah, Allah menerangkan bahwa Rasulullah tidak bisa memberikan hidayah.

Perlu kita pahami bahwa hidayah yang Allah nafikan dari Rasulullah Saw. adalah hidayatut taufiq, yaitu hidayah yang menyebabkan seseorang beriman kepada Allah Swt.

" Hidayatut taufiq ini semata-mata milik Allah Swt. saja "

Jika ada orang yang suka berbuat maksiat kemudian mendapatkan hidayah sehingga ia tidak lagi berbuat maksiat, hanyalah Allah yang bisa memberinya hidayah seperti itu. Ini tidak bisa dilakukan oleh manusia sebagai seorang hamba, sekalipun ia hamba yang paling mulia seperti Rasulullah Saw., karena itu hanya dimiliki oleh Allah Swt.

Oleh karena itu hanya kepada Allah-lah manusia seharusnya mohon hidayah. Dan agar mendapatkan hidayah dari Allah Swt., setiap Muslim harus benar-benar siap untuk ber-talaqi (menerima petunjuk-petunjuk yang berkaitan dengan ajaran Allah) hanya dari Allah Swt. saja.

Jika seorang Muslim yang sekaligus juga seorang da’i telah memahami bahwa hidayah semata-mata dari Allah Swt., maka dalam dakwahnya ia tidak akan tertimpa dzikush shadr (merasa sempit dada) jika dakwah yang dilaksanakan menemui banyak rintangan.

Sebaliknya, ketika dakwah yang disampaikannya mendapatkan sambutan yang antusias dari masyarakat, maka ia pun tidak akan ghurur (tertipu) dengan keberhasilannya itu.

Ketika setiap da’i memahami bahwa hidayah hanya ditangan Allah Swt., baik ketika orang yang didakwahi mendapatkan hidayah dengan menerima dakwahnya atau tidak mau menerima dakwahnya, ia akan tetap melaksanakan dakwahnya, karena ia paham bahwa dakwah itu sendiri merupakan ibadah, terlepas apakah obyek yang didakwahi mendapatkan hidayah atau tidak.

Jadi saudara-saudara kita sesama Muslim atau pun yang non-Muslim yang kita dakwahi adalah aset pahala yang tidak boleh kita musuhi. Kalau obsesi kita dalam berdakwah adalah agar orang yang kita dakwahi harus beriman,

Ketika ternyata mereka tidak mendapatkan hidayah sehingga tetap kufur dan tetap berbuat maksiat, maka hati kita pasti merasakan sesuatu yang tidak enak dalam dada kita. Oleh karena itu Allah Swt. pernah mengingatkan Rasulullah Saw. yang sedih karena dakwahnya yang kurang mendapat sambutan. Allah Swt. berfirman,

“Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman” (QS Asy-Syu’ara: 3).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang isnad-nya berasal dari Ibnu Abbas Ra. dari Nabi Saw., dijelaskan bahwa Rasulullah Saw. pernah memerintahkan untuk tidak memberikan shadaqah kepada orang-orang selain pemeluk Islam, sampai turunnya ayat ini.

Dengan turunnya ayat ini, Rasulullah Saw. dan kaum Muslimin diperintahkan untuk memberikan shadaqah kepada setiap orang yang berhak menerimanya baik ia seorang Muslim maupun tidak.

Dari sini bisa kita lihat bahwa Islam tidak hanya melarang umatnya untuk memaksakan agama, lebih dari itu Allah Swt. memberikan toleransi kemanusiaan yang lebih besar lagi yaitu kepedulian Islam kepada seluruh umat manusia dan tidak hanya kepada umat Islam saja.

Pada ayat ini kita diperintahkan untuk memberikan shadaqah kepada siapa pun yang membutuhkannya. Ini menunjukkan betapa Islam mengajarkan kepada kita toleransi yang besar, sepanjang orang tersebut tidak memerangi Islam.

Jadi, pada ayat ini Allah memberikan sebuah dasar prinsip kemanusiaan dalam Islam, sebagaimana sababun nuzul (latar belakang turunnya) ayat ini, dimana sebelum ayat ini turun Rasulullah Saw. memerintahkan kepada para shahabatnya agar tidak memberikan shadaqah kepada orang non-Muslim, akan tetapi kemudian mendapat teguran dari Allah Swt. dengan turunnya ayat ini.

Pemahaman seperti ini perlu ditekankan pada masyarakat kita, karena sebagian masyarakat kita khususnya orang non-Muslim mempunyai persangkaan yang salah tentang Islam, sehingga mereka takut kalau Islam mendapatkan kemenangan dari Allah Swt., mereka akan diterlantarkan atau bahkan takut diusir.

Padahal ketakutan mereka itu tidak pernah terjadi di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Siapa pun yang memerlukan bantuan, Islam akan membantunya sepanjang orang itu tidak memusuhi Islam.

Kita sebagai seorang Muslim harus juga memperhatikan ayat ini, agar kita tidak terjatuh pada sikap ekstrim. Di satu sisi ada seorang Muslim yang memahami wala’ wal bara’ (loyalitas dan antipati) secara berlebihan sehingga tidak mau memberikan pertolongan kepada non-Muslim yang memerlukan bantuan.

Di sisi lain ada juga orang yang ekstrim karena dengan alasan kemanusiaan yang berlebihan, dia tetap bergaul bersama orang-orang non-Muslim yang mengancam dan memerangi Islam. Dengan memahami ayat ini secara benar, insyaAllah kita tidak akan terjatuh pada salah satu diantara dua sikap ekstrim itu.

Selanjutnya Allah mengatakan, “Wama tunfiqu min khairin fali-anfusikum” (Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan di jalan Allah, maka pahalanya untuk kamu sendiri).

Artinya, ketika seorang Muslim taat kepada Allah dengan berinfaq fii sabiilillah, hal itu bukan untuk menambah kekuasaan Allah akan tetapi untuk kebaikan kita sendiri. Allah mengatakan, “Wama tunfiquuna illabtighaa-a wajhillah” (Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah).

Allah menutup ayat ini dengan mengatakan, “Wama tunfiqu min khairin yuwaffa ilaikum wa antum laa tuzhlamuun” (Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya).

Ketika umat Islam berinfaq, itu harus benar-benar karena Allah Swt. Dan jika demikian, Allah pasti akan membalasnya. Jadi ketika berinfaq, jangan sampai berinfaq karena kepentingan politik, karena Allah tidak akan memberikan pahala baginya.

Wallahu a’lam bishshawab.

Al-Insaanu Sirriy,, wa Ana SirroHu (Manusia itu Rahasia-Ku dan Aku menjadi Rahasianya)”.

Sabtu, 15 November 2014

BILA ALLAH MENCINTAI HAMBA-NYA




Oleh : Ketenangan Cakra Jiwa ( Syajaratul Yaqin )


“Siapa yang menyampaikan hadits pada ummatku, dalam rangka menegakkan sunnah, atau demi menghancurkan bid’ah, maka ia berada di syurga.” (HR. Abu Nuaim dalam Al-Hiyah)
Para ahli syurga, dalam hadits mulia ini, adalah mereka yang terus menerus menegakkan Sunnah, membelah bid’ah, demi menuggalkan Allah Ta’ala, tawakkal kepada-Nya, iman dan cinta kepada-Nya.

Sebenarnya kekasih hati adalah Allah SWT. Bila Allah mencintai hamba-Nya Dia menampakkan rahasia-Nya pada keagungan kekuasaan-Nya, dan Allah SWT, menggerakkan hatinya sebagai limpahan anugerah-Nya, Allah SWT, memberi minuman dari piala gelas cinta-Nya, hingga ia mabuk cinta hanya kepada-Nya, lalu ia hidup dalam kemesraam, kedekatan dan kesahabatan dengan-Nya, sampai ia tak sabar untuk segera mengingat-Nya, tidak memilih yang lain dan tidak sibuk dengan satupun selain perintah-Nya. Syeikh Abu Bakr al-Wasthy ra, berkata, “Posisi cinta lebih di depan dibanding posisi takut. Siapa yang ingin masuk dalam bagian cinta, hendaknya ia selalu husnudzon kepada Allah SWT dan mengagungkan kehormatan-Nya.”

Diriwayatkan bahwa Allah SWT, memberi wahyu kepada Nabi Dawud as. “Hai Dawud, Cintailah AKU, dan cintailah kekasih-kekasih-Ku, dan cintailah Aku untuk hamba-hamba-Ku.”
Lalu Nabi Dawud as, berkata, “Ilahi, Aku mencintai-Mu, dan mencintai kekasih-kekasih-Mu, lalu bagaimana mencintai-Mu untuk hamba-hamba-Mu?”
“Ingatlah mereka, akan keagungan-Ku dan kebaikan kasih sayang-Ku…” Jawab Allah SWT.

Dalam hadits disebutkan, “Bila Allah mencintai seorang hamba dari kalangan hamba-hamba-Nya, Jiril as, mengumumkan “Wahai ahlai lagit dan bumi, wahai kalangan wali-wali Allah dan para Sufi, Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai si fulan, maka cintailah dia.”
Dlam riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW :
“Apabila Allah Ta’ala mencintai hamba, maka Jibril mengumandangkan, “Sesungguhnya Allah sedang mencintai si fulan, maka cintailah dia. Lalu penghuni langitpun mencintainya, baru kemudian diterima oleh penghuni bumi.”

Dalam satu riwayat Muslim dusebutkan:
“Apabila Allah Ta’ala mencintai hamba, maka Allah memangil Jibril dan berfirman ; “Sesungguhnya Aku mencintai si fulan maka cintailah dia”. Kemudian Jibrilpun mencintainya, lalu Jibril mengumandangkan, : Sesungguhnya Allah sedang mencintainya, baru kemudian diterima oleh penghuni bumi.”
Namun bila Allah Ta’ala membenci si fulan, maka Allah SWT mengundang Jibril dan berfirman, “Aku lagi membenci si fulan, maka bencilah ia…” Jibrilpun membencinya, kemudian mengajak kepada penghuni langit dengn mengatakan, “Sesungguhnya Allah sedang membenci si fulan, maka bencilah padanya. Lalu rasa benci itu diturunkan di muka bumi.”

Abu Abdullah an-Nasaj ra, mengatakan, “Setiap amal yang tidak disertai cinta kepada Allah SWT, tidak bisa diterima.”
“Siapa yang mencintai Allah SWT, maka Dia mengunjunginya dengan berbagai cobaan. Dan siapa yang berpaling dariNya dari lain-Nya, ia terhijab dari-Nya dan gugur dari hamparan para pencinta-Nya.”

Abdullah bin Zaid ra, mengatakan, “Saya sedang bertemu dengan lelaki sedang tidur di atas salju, sementara di keningnya bercucuran keringat. Aku bertanya, “Hai hamba Allah, Bukankah sangan dingin!” Lalu ia menjawab, “Siapa yang sibuk mencintai Tuhannya, tak pernah merasa dingin.” “Lalu apa tanda pecinta itu?” tanyaku. ” Merasa nasih sedikit atas amalnya yang banyak, dan merasa meraih banyak walau mendapatkan sedikit karena datang dari Kekasihnya.” jawabnya.
“Kalau begitu beri aku wasiat.”
“Jadilah dirimu hanya bagi Allah, maka Allah Bekal bagimu.”

Muhammad bin al-Husain ra, mengatakan, “Aku masuk ke pasar untuk membeli budak perempuan, Ku lihat ada budak perempuan yang sedang di ikat, dan pada kedua pipi tulipnya ada luka, yang terukir tulisan, “Siapa yang berkehendak pada kami, akan kami bangkrutkan dia. Dan siapa lari dari kami, akan kami goda dia.”
Inilah, kataku, sebagaimana firman Allah Ta’ala pada hamba-Nya, “Bila kalian semua mencari-Ku, maka Ku-lalaikan kalian dari selain diri-Ku, dan Ku-fanakan dengan-Ku dari dirinya, hingga tidak tahu siapa pun kecuali diri-Ku.”

Aku kagum dari-Mu dan dariku
Engkau fanakan diriku bersama-Mu dari diriku
Engkau dekatkan diriku dari-Mu
Hingga aku menyangka Engkau adalah aku.


QUL HUWALLAHU AHAD … ALLAHUSHSHOMAD.. LAM YALID WALAM YUULAD.. WALAM YAKUNLAHU KUFUWAN AHAD …

Jumat, 07 November 2014

SEKILAS TENTANG BULAN MUHARRAM



 KETENANGAN CAKRA JIWA



Malam ini sejumlah sahabat-sahabat ku berkumpul... 
mereka ingin mengeluarkan uneg-uneg mereka... 
tentang apakah ada ajaran Rosul tentang mencuci benda-benda pusaka pada bulan ini... karena 1 Muharram lebih terkenal dengan sebutan 1 SURO...

"Sahabat kami, Ketenangan Cakra Jiwa... mohon beri ketenangan pada hati kami karena gundah, apa yang berkembang di kalangan masyarakat kita... pada bulan ini mereka melakukan tapa brata... pencucian keris, atau benda-benda pusaka... ataupun azimat lainnya... apakah zaman Rosululloh hal-hal seperti ini pernah beliau dan para sahabat lakukan..." tanya seorang jamaah

"Sahabat-sahabat ku semua.... ilmu yang kita pelajari hanyalah butiran tetes dari Samudera luasnya Ilmu-ilmu Allah... keterbatasan kita mengenal lebih dekat tentang Rahasia Allah masihlah minim... apalagi untuk mengikuti perjalanan agung dan budi pekerti yang luhur junjungan kita.... kita telah terjebak oleh khilafiyah-khilafiyah keterbatasan pengertian ilmu yg ada pada diri kita....di dalam perjalanan syiar Rosul, Muharram adalah bulan yang di Mulyakan oleh Allah... bahkan pada Bulan ini saat itu para Muslimin di Haramkan untuk berperang 1 bulan penuh... kata “Suro” berasal dari sebutan tanggal 10, yang dikenal sebagai hari As-Syura maka masyarakat kalangan menyebut mudahnya dengan sura atau suro... dan pada bulan inilah karena di haramkan berperang maka para sahabat memanfaatkannya untuk mengkusyukan ibadah mereka karena sedang istirahat dari peperangan... orang menilainya sebagai tapa brata.. pada bulan ini juga para sahabat Rosulullah membersihkan dan mengasah serta merawat pedang dan tombak mereka agar bulan esoknya siap di gunakan kembali untuk berperang... intinya agar tdk berkarat dan tetap siap....mungkin karena para ulama dahulu tidak detil menerangkannya maka yang dipahami oleh masyarakat kita adalah bulan pensucian benda pusaka.... hehehhee semua itu karena untuk kesiapan pribadi masing-masing... maka saya mohon sahabat-sahabat semua.. untuk membuka hati kita... kita masih manusia yang terbatas dalam mengetahui rahasia-rahasia Ilmu Allah... untuk itu mari bulan ini kita perbanyak sholat sunah Tasbih... agar bulan Muharrom ini... kita mendapakan kehidupan yg baru.... selamat TAHUN BARU ISLAM sahabat-sahabat ku...."