Selasa, 07 Oktober 2014

AIR MATA SEORANG ANAK UTK IBU NYA



OLEH KETENANGAN CAKRA JIWA


Kisah ini .. terjadi di sebuah desa kecil di sebuah tempat…

Tinggal seorang ibu dengan seorang anak laki-lakinya yang hobinya bermain korek api…setiap hari sang ibu tanpa lelah menasehati, memperingatkan bahwa api akan bahaya bila digunakan oleh orang yang belum cukup usia….

Sayangnya nasehat tersebut selalu di langgar oleh sang anak.. ia secara sembunyi-sembunyi selalu menggunakan korek apinya untuk membakar kertas-kertas bekas atau benda-benda ringan lainya… hatinya selalu tertantang bila ia melakukanya sang ibu tidak mengetahuinya… ocehan ibunya justru membuatnya kebal akan omongan baik nasehat ataupun peringatan… setiap kali api membesar ia pun berlari bersembunyi sambil mendengar ibunya mematikan api tersebut sembari memanggil-manggil namanya… ia justru merasakan kegembiraan melihatnya….

Hari itu ia melihat ibunya lelah dan tidur beristirahat karena kelelahan bekerja….secara sembunyi-sembunyi ia kembali membakar dedaunan kering di belakang rumahnya…. Naas …angin membuat api itu membesar.. ia berlari bersembunyi karena panik tidak bisa mengatasinya… lebih naas lagi api itu terbawa angin dan membakar belakang rumahnya … ia semakin takut dan tanpa sadar menyebut Nama Allah Tuhannya… api dengan cepat membakar rumahnya…

warga sekitar berlarian membawa air berusaha memadamkan api tersebut… anak kecil itu semakin takut membayangkan suara teriakan ibunya yang marah…. Namun sampai dengan api padam ia tak juga mendengar teriakan marah ibunya… ia semakin takut… lebih takut bila suara itu tidak keluar dari mulut ibunya….

Yaahh suara teriakan ibunya itu tidak pernah ia dengar sampai saat ini… karena sang ibu ikut terbakar di dalam rumah miliknya… anak itu selalu menangis menyebut nama ibunya…

Sampai saat ini bila ia mengenang kejadian tersebut….

Yaa Allah .. hiasilah kehidupan kami.. dengan teriakan2 marah ibu kami… karena kami yakin itu untuk kebaikan kami…. Berilah selalu teriakan itu yaa Allah.. sebelum Engkau memberhentikan teriakan tersebut…. Aamiin….

Sabtu, 04 Oktober 2014

MELAPOR PADA TUHAN



Oleh : Ketenangan Cakra Jiwa ( Syajaratul Yaqin )


Laporan adalah informasi, laporan bisa disampaikan secara tertulis maupun lisan. Pada instansi resmi biasanya laporan disampaikan secara tertulis bahkan seringkali harus dipresentasikan atau diexpose. Laporan biasanya juga diminta secara periodik seperti harian, mingguan, bulanan atau tahunan. Laporan ini dibutuhkan untuk mengevaluasi kinerja suatu kegiatan atau aktivitas terhadap objek tertentu. begitulah defenisi singkat saya tentang laporan. 

Dalam hubungan manusia dengan Tuhan dalam konteks hamba dengan Khalik, mutlak diperlukan laporan yang lebih intens oleh si hamba kepada Tuhan, kapan saja, dimana saja dan tentang apa saja yang ingin dilaporkan tanpa ada suatu batasan apapun mengenai waktu, tempat, objek yang dilaporkan dan tanpa harus melewati protokoler apapun untuk melapor kepada Tuhan. 

Perbedaan antara laporan manusia dengan manusia dan laporan antara manusia dengan Tuhan adalah, kalau laporan manusia dengan manusia biasanya yang meminta laporan adalah atasan anda, atasan anda yang meminta laporan anda untuk melihat kinerja anda sedangkan laporan manusia dengan Tuhan adalah atas inisiatip anda sendiri karena andalah yang butuh ”melaporkan” itu, bukan Tuhan.

Melapor kepada Tuhan tentulah berbeda dengan laporan komandan upacara kepada inspektur upacara. Laporan kepada inspektur upacara itu mirip mirip membentak. ’Lapor! Upacara siap untuk dilaksanakan! Laporan selesai!’ begitulah saya membentak kepala sekolah kami pagi senin itu dan beliau langsung menimpali ’laksanakan!’. Melapor kepada Tuhan tentulah di awali dengan puji pujian dulu seperti ’segala puja dan puji bagiMu Tuhan.., Engkau maha pengasih lagi maha penyayang… dan seterusnya.. dan sebagainya… kalau diterjemahkan dalam bahasa arab sperti ini ’alhamdulillahirrabbil ’alamin.. Arrahmannirrahim.. dst.., dsb.., itupun kalau anda orang arab, kalau bukan pakailah bahasa yang anda mengerti lalu di tambah dengan bersholawat kepada Rosulullah SAW. 

Melapor itu lebih mirip sharing (berbagi) daripada berdoa. Sharing itu akrab layaknya anda dengan orang orang terdekat anda ketika anda minta pendapat, ada komunikasi dua arah yang terjadi. 

Contoh, dikisahkan ketika istri terakhir Nabi Ayub AS meninggalkan beliau karena tidak tahan menyertai Nabi yang sedang menerima cobaan Tuhan bertubi tubi dan berkepanjangan, Nabi Ayub AS berkata kepada istrinya ’kalau engkau kembali kepadaku, aku akan menderamu 100 kali. Ketika cobaan Tuhan mereda, kesehatan Nabi Ayub AS membaik diikuti dengan kepulihan ekonomi beliau dan menjadi kaya lagi, sang istri terakhir pun kembali kepada beliau, pada saat itulah Nabi Ayub AS kebingungan dan melapor kepada Tuhanya. Tuhan, aku harus melaksanakan janjiku menderanya 100 kali tapi aku tidak tega, kemudian Tuhan memberikan solusi dan berfirman kepadanya ’Ambillah seratus lidi dan kumpulkanlah lidi lidi itu kemudian pukulkan sekali ke tubuh istrimu’. Sungguh Ayub telah mendapat pencerahan luar biasa ketika Ayub yang berkonsep 1 x 100 kebingungan dan Tuhan menawarinya konsep 100 x 1 dengan hasil yang sama tetapi memberikan efek yang jauh berbeda. Inilah gunanya melapor.

Lalu seberapa pentingkah melapor kepada Tuhan? Saudara, semua orang tahu kalau bersetubuh itu haram meskipun dengan istri sekalipun selama berpuasa. Ketika bulan Ramadhan saat Nabi Muhammad SAW sedang duduk duduk dengan para sahabat, ada seseorang yang datang kepada Rasulullah melapor dan terjadilah ilustrasi dialog kira kira seperti di bawah ini :

Orang melapor ; ya Rasulullah, saya tidak tahan ya Rasulullah, saya telah menggauli istri saya
Rasulullah ; “Merdekakan olehmu seorang budak”
Orang melapor ; “Saya tidak punya uang ya Rasulullah”
Rasulullah ; “Ganti puasamu dengan puasa 60 hari berturut turut pada bulan yang lain”
Orang melapor ; “1 hari saja saya tidak mampu ya Rasulullah, bagaimana saya mampu puasa 60 hari berturut turut?”
Rasulullah ; “Kalau begitu berilah makan 60 orang fakir miskin”
Orang melapor ; “Saya orang miskin ya Rasulullah, saya tidak mampu memberi makan fakir miskin”
Rasulullah ; “ya sudah, bagikan ini kepada orang miskin di tempatmu (sambil nabi memberikan sekeranjang kurma kepada orang melapor tadi)”
Orang melapor ; “ya Rasulullah, saya adalah orang termiskin di tempat saya.”
Rasulullah ; “ya sudah, bawalah pulang anggur itu untukmu”
Orang melapor ; “Terima kasih ya Rasulullah..”

Saudara, kalau lah kita ada di selingkar duduk Nabi pada saat itu mungkin kita sendiri akan iri sambil berguman ’ini orang sudah melakukan kesalahan kok malah dapat hadiah pula?!!’. Akhirnya halal haram boleh atau tidak menjadi tidak penting lagi disini, yang penting adalah MELAPOR! Kalau orang yang melapor tadi tidak tahu Tuhan dia melapor saja kepada Nabi, ketika Nabi tidak memberi sanksi apapun dan malah memberi hadiah kepada si orang tadi, itu sudah menjadi tanggung jawab Nabi lah kepada Tuhan.

Saudaraku,
Melaporlah pada saat senang agar Tuhan juga mau mendengar laporan kita pada saat susah

Melaporlah pada saat banyak uang agar Tuhan juga mendengar laporan pada saat kita tak punya uang

Melaporlah pada saat bahagia agar Tuhan menemani kita pada saat sengsara...

Melaporlah…

Jumat, 03 Oktober 2014

RAHASIA MENEMUKAN JATI DIRI



Oleh : Ketenangan Cakra Jiwa ( Syajaratul Yaqin )



Sering kita mendengar istilah mencari jati diri, kehilangan jati diri, atau paduan suku kata lain yang bermakna hampir sama. Obrolan dua hari yang lalu bersama seorang kawan belum menemukan titik temu arti sesungguhnya, karena pada akhirnya dia berkata belum memahami betul apa itu sejatinya jati diri, diri yang mana, dan wujudnya seperti apa. 
Ditambah dengan penambahan kata mencari atau kehilangan, kian menimbulkan kerancuan pemikiran kami, lalu timbullah pertanyaan, benarkah jati diri itu dicari atau ditemukan? Dan jati diri yang seperti apa sehingga bisa dikatakan hilang?

Baiklah, lewat beberapa coretan kedepan saya bersama pemikiran seadanya akan berusaha mengurai apa yang sempat terlintas di benak ini. Agar lebih paham, mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata jati diri adalah ciri-ciri, gambaran, atau keadaan khusus seseorang atau suatu benda, bisa pula berarti identitas, inti, jiwa, semangat, dan daya gerak dari dalam atau spiritualitas.

Nah, berkaca dari pengertian ini dirasa ada keambiguan seseorang dalam memaknai kata jati diri selama ini. Kalimat mencari jati diri akan terkesan rancu bila dicermati dan kali ini saya dan teman saya sepakat mengiyakannya. Bagaimana tidak rancu, bukankah jati diri itu ada dalam diri? Kenapa musti dicari? Malah saya sempat berpikir bahwa sebenarnya jati diri tak pernah hilang. 

Bila orang berkata hilang, saya pikir tidak. Karena, biar bagaimanapun dalam diri seseorang pasti ada sesuatu yang berbeda dari orang lain dan itu pun tidak akan pernah bisa tercuri atau hilang. Biar lebih mudah kita bisa ambil contoh air, mau dicampur atau diberi pewarna apapun sifat zat cairnya akan tetap ada. Berubah seperti apa air akan tetap dikatakan air, walau dalam wujud comberan sekalipun.

Begitu pula dengan diri kita. Janganlah merasa pesimis tentang kelabilan yang dikira masih dalam pencarian jati diri. Diri ada bukan untuk dicari. Sebetulnya ia telah tertanam dalam diri, tinggal membongkarnya saja. Andaikata memang kesulitan, seseorang tersebut belum menyadari, ditambah dengan kesibukan melihat sekitar atau orang lain malah terlupalah sejatinya diri. 

Menganggap orang lain lebih hebat dan lebih cocok menjadi panutan lambat laun dengan  ketertarikan tersebut akan menimbun ke’aku’ annya. Terkuburlah sosok dia yang sebenarnya dan terganti oleh sosok baru atau cermin lain. 

Maka tak heran ada beberapa orang yang begitu asing dengan dirinya sendiri dan muncullah kalimat ‘siapa aku?’ atau who am i? yang dikiranya dia sedang kehilangan jati diri, padahal tidak. Jati dirinya ada, cuma masih tertimbun oleh tumpukan obsesi dan tekanan ketidakpercayaan diri. 

Semisal, sering kita melihat seseorang berpenampilan layaknya idola yang mereka gemari. Mulai dari gaya rambut, pakaian yang dia kenakan, sampai gaya bicara pun persis. Dengan begitu, kita menjadi kesulitan melihat sosok dia yang sebenarnya. Tidak bisa dikatakan dia sedang kehilangan jati diri, terkontaminasi barangkali iya.

Akhir obrolan dengan kawan, saya melontarkan satu kata kunci ‘proses’. Untuk menonjolkan jati diri sejatinya membutuhkan proses. Kembali lagi ke pengertian yakni adanya identitas, inti, jiwa, semangat, dan daya gerak ternyata ada bukan berjalan dengan sendirinya. Terbentuknya jati diri yang kuat pastilah terlebih dahulu ditempa oleh berbagai pilihan serta problematika dalam perjalanan hidupnya.

Pilihan untuk mengikuti aliran atau tetap mempertahankan kenyamanannya. Bila dia mengikuti aliran bisa jadi dia akan terbawa arus dan lupa pada tujuan serta dirinya sendiri. Kemudian muncullah golongan orang-orang alay, lebay, epigon, dan lain sebagainya. Atau dia akan tetap mempertahankan ke’aku’annya. Walaupun ini baik, bila perlakuannya berlebihan maka akan negatif juga karena bisa memunculkan orang-orang yang bersifat egois atau diktator. Idealnya, kita tetap pada kedirian dan prinsip, namun jangan melupakan keterbukaan. Jangan melupakan bahwa kita adalah makhluk sosial yang berteman dengan segala macam perbedaan.

Sebaiknya, jangan sampai kita menyiksa diri sendiri untuk mengikuti orang lain. Apa salahnya menjadi berbeda, toh itu nantinya tidak akan mengurangi kualitas diri. Banyak orang beranggapan bahwa penampilan fisik adalah segala-galanya dan merupakan bagian dari jati diri. Saya pikir tidak, justru, apa yang terbungkus dalam fisik itulah diri kita sebenarnya. 

Jadi, jangan lama-lama kita mau dikecoh persepsi bahwa jati diri bisa nampak jelas oleh mata melalui bungkus luar. Jangan terlalu lama pula kita bersolek hanya membenahi cover saja, sampai melupakan ketahanan spiritual yang memprihatinkan. Diri ada di dalam, kekuatan ada di jiwa, selamat berproses untuk mempertahankan dan menguatkannya…! 
Banyak orang yang tidak mengenal jati diri sendiri, sehingga membuat mereka sulit untuk menentukan hal-hal apa saja yang patut dan tidak patut untuk dilakukan oleh mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Alasan inilah yang membuat kita perlu mengetahui bagaimana cara menemukan jati diri sendiri, sehingga kita tidak mudah untuk terpengaruh dengan orang lain disekitar kita.

Pengertian Jati Diri

Sebagian orang berpendapat bahwa arti jati diri adalah suatu manifestasi ideologi hidup seseorang. Jati diri sendiri merupakan bagian dari sifat seseorang yang muncul dengan sendirinya mulai dari kecil, kemudian sifat bawaan kadang juga terpengaruh dengan faktor lingkungan tempat seseorang hidup dan dibesarkan.
Kita tentu sudah tidak asing mendengar istilah seorang anak yang sedang mencari jati diri, hal ini sering terungkap karena dalam proses pembentukan karakter yang sebenarnya pada diri seseorang adalah pada masa pancaroba, yaitu masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa.

Cara Menemukan Jati Diri

Dari pengertian jati diri yang sudah dipaparkan diatas, bahwasanya jati diri itu sendiri merupakan suatu manifestasi ideologi hidup seseorang, sehingga bagaiaman cara menemukan jati diri sendiri itu juga merupakan hak mutlak bagi seorang individu untuk menentukan jati dirinya sendiri.
Ketika seseorang yang telah dapat memahami akan kemampuan dan kekuatan pada dirinya yang didasari dengan iman dan taqwa pada Tuhan, maka saat itulah seseorang sudah dapat dikatakan menemukan jati dirinya sendiri.
 
Seseorang, disaat mengalami suatu masalah sering merasa kebingungan bagaimana cara menyelesaikannya. Dan dari sini kemudian akan berkembang menjadi masalah lain yang menimbulkan seseorang menderita, susah, dan lain-lain. Hal ini bisa terjadi, dikarenakan tidak pernah menyadari, bahwa setiap manusia hidup didunia, mau tidak mau, suka maupun tidak,  tidak akan pernah lepas dari permasalahan. 

Walaupun didalam setiap doa yang disampaikan pada Tuhan, selalu meminta agar dilepaskan dari permasalahan. Padahal, sebagaimana yang pernah saya tuliskan jauh sebelumnya, bahwa manusia hidup didunia ini adalah sementara. Disamping itu, alam dunia ini bukan merupakan alam manusia yang sebenarnya, jadi kita harus selalu siap untuk mendapatkan masalah yang beraneka ragam. Jika kita tidak pernah memperhatikan, maka kita sebagai manusia akan selalu mengalami penderitaan disaat masalah telah menerpa kita.

Untuk itu, sebagai langkah awal, lewat tulisan ini saya mencoba untuk mengurai terhadap permasalahan hidup manusia yang tidak akan lepas dari munculnya suatu warna perasaan disaat permasalahan itu timbul.

Dan, agar tidak terlambat didalam antisipasi, diperlukan suatu pemikiran dan perenungan pada setiap masalah yang timbul didalam kehidupan kita sehari-harinya. Apa yang harus dipikirkan, dan direnungkan?  Yaitu, segala sesuatu yang terjadi pada hari ini, dan kemudian dicocokkan dengan apa yang telah terjadi pada hari-hari sebelumnya, khususnya terhadap segala perasaan yang timbul akibat adanya permasalahan yang kita alami. Contoh ; disaat kita  selesai marah, pikirkan dan renungkan kenapa tadi kita marah, bisakah untuk selanjutnya tidak marah lagi bila ada permasalahan yang sejenis?
Begitu pula, disaat kita selesai mengalami kesedihan, penderitaan dan lain-lain. Bisakah kita untuk tidak mengalami hal yang sama disaat perasaan itu akan timbul kembali? Adapun caranya tidak ada lain, kecuali hanya dengan berpikir, apakah jika perasaan itu muncul, adakah keuntungan yang kita dapatkan? Bila ternyata tidak ada, lantas untuk apa kita marah dan kita bersedih? Hal ini bisa menjadi bahan perenungan, disaat masalahnya telah berlalu. Sebab pada saat kita marah, kita bersedih, tentu hati kita akan jadi gelap, sehingga kita tidak akan bisa mendapatkan jalan keluar yang terbaik. Makanya saat kita bersedih, menderita, marah dan lain-lain, jangan sekali-kali mengambil suatu keputusan apapun. 

Lebih baik lanjutkan dahulu perasaan yang muncul pada kita. Bahkan, dalam keadaan bahagia yang melampaui batas, juga tidak diperkenankan mengambil suatu keputusan apapun. Khususnya, yang menyangkut segala sesuatu yang belum terjadi. Sebab, keputusan yang ada, akan mempengaruhi pada tindakan yang akan diambil, yang biasanya akan membuat kerugian pada diri sendiri.

Jadi, dengan adanya permasalahan-permasalahan pada diri kita, bisa mendapatkan pengalaman didalam perkembangan jiwa. Tetapi, yang sering terjadi, jika permasalahan itu timbul, khususnya perasaan marah masih sering membekas, bahkan bisa pula berakibat dendam pada seseorang.

Selanjutnya, sebagai langkah yang kedua,  disaat  berdoa, kurangilah segala hal yang secara tidak kita sadari menyuruh Tuhan untuk bekerja. Walaupun kelihatannya memohon secara halus, akan tetapi hal itu menunjukkan, bahwa kita yang menjadi Tuhan, dan memerintah Tuhan agar bekerja untuk kita. 

Contoh : Ya Allah mudahkan rejeki bagi kami, limpahkan rejeki, berilah kenikmatan pada kami, lapangkan dada kami masukkan kami kedalam surga. Bimbinglah kami, dan lain-lain. Menurut hemat saya, mestinya disaat berdoa harus yang mengandung arti bahwa kita yang bekerja, bukan Tuhan. Contoh doa yang benar adalah” Ya Allah, petunjuk apa yang harus aku laksanakan agar rejeki ku lancar”. Ya Allah Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa masuk surga, seperti mereka-mereka yang masuk surga? Ya Allah, apa yang harus aku lakukan supaya aku semakin dekat dengan-Mu dan jauh dari kesesatan?  dan sebagainya, tergantung konteks doa apa yang kita kehendaki. 

Ini hanya sekedar contoh, bagi mereka yang belum mengenal jati diri. Adapun bagi mereka yang telah mengenal jati diri, saya yakin bahwa mereka disaat berdoa, tidak akan pernah menggunakan kata-kata, melainkan cukup dengan suatu perbuatan untuk mencapai sesuatu. Namun, bila hal ini tidak saya tulis, lantas sampai kapan kita akan berhenti menyuruh Tuhan terus menerus? Sampai kapan kita akan dewasa dan mandiri?  Dan sampai kapan kita bisa benar-benar berbakti kepada Tuhan?

Kesimpulannya, dengan langkah doa yang saya sebutkan diatas, kita akan tertuntun untuk selalu bekerja sesuai dengan petunjuk Tuhan, bukan malah sebaliknya kita yang memerintah Tuhan untuk bekerja. Walaupun cara doa seperti yang lazim kita pergunakan itu adalah sah-sah saja. Akan tetapi, apabila doa seperti itu berkelanjutan terus menerus akan membuat kita malas untuk berusaha dan bekerja, serta akan pula kecanduan untuk menyuruh orang lain mengerjakan apa yang menjadi kesulitan kita. Sementara kita, hanya tinggal ongkang-ongkang kaki saja, dan tinggal memakainya.

Bukankah saat ini kita sering hanya sebagai pendengar, penonton, dan juga pemakai belaka? Dan jarang sekali yang sebagai pelaku sejarah, kendatipun itu hanya sejarahnya sendiri. Amat ironis sekali. Namun diantara kita masih belum menyadari, sehingga doa seperti yang menurut kita lazim, dan memang ada pedomannya, tetap saja dilakukan. Dengan adanya cara, dan redaksi doa yang masih seperti itu, akan membuat kita kebiasaan menyuruh orang lain. Atau setidak-tidaknya kita akan berlomba-lomba untuk menggunakan segala cara, bagaimana bisa selalu menyuruh orang lain terhadap kepentingan kita. 

Dengan demikian yang perlu saya pertanyakan dimanakah unsur kebaktian kita kepada Tuhan? Dan apakah kebaktian dan ibadah itu memang harus menyuruh Tuhan? Sehingga, semakin sering kita menyuruh Tuhan lantas kita dikatakan beriman kepada Tuhan?
Sebagai langkah yang ketiga atau terakhir, janganlah sekali-kali kita makan, minum atau lain-lain, yang sekiranya kita tidak benar-benar membutuhkan. Juga, jangan seringkali memikirkan segala sesuatu yang telah berlalu, walaupun itu pahit atau senang. Tetapi selalu melangkahlah kedepan agar kita tidak selalu terganjal oleh masa lalu. Dan sering-seringlah berlatih untuk bertanya pada dirinya sendiri apa yang harus dilakukan, sembari membaca, memperhatikan, berpikir, dan merenung, bahwa segala sesuatu yang terjadi, akan terjadi, adalah merupakan variabel yang memang harus dilalui serta diketahui oleh Tuhan yang telah menciptakan kita beserta alam seisinya ini.

Bahkan segala sesuatu yang tidak mungkin terjadi, bisa saja terjadi. Sehingga dengan begitu, apabila kita selalu berlatih untuk mengajak diskusi dengan diri sendiri, diharapkan “jati diri “kita akan muncul dengan sendirinya. Bahkan, kalau sudah terbiasa, kita akan sering mendengar suara kita sendiri, atau melihat diri kita sendiri. Karena sesungguhnya itulah yang benar. Dan, dia itulah yang selama ini melihat dan mendengar, kendati tanpa mata dan telinga, seperti apa yang pernah saya tulis terdahulu, yakni “mendengar warna dan melihat suara”.

JATI DIRI DALAM PANDANGAN ISLAM

JATI DIRI itu tentang tujuan akhir kita menghadap Allah SWT. Sebab JATI DIRI itu wajah batiniah kita. Wajah Ukhrawi kita. Seperti apakah wajah kita di hari kiamat kelak masih manusiakah atau berbentuk binatang. Krn umumnya kita belum bisa melihat secara kasat mata.Mungkin nanti saat menghembuskan nafas yg terakhir. Disitu kita akan terbelalak spt di dlm firman ALLAH SWT: QS.Qaf (55):22

"Maka kami singkapkan tirai yg menutup matamu dan tiba-tiba matamu hari ini menjadi amat tajam"

Didalam hadist RASULULLAH SAW yg dikutip dari tafsir Majma Al-Bayan 10:43 yg mengisahkan bagaimana wujud manusia pd hari kiamat kelak.

Pada suatu hari Muadz bin Jabal duduk di dekat Nabi SAW di rumah Ayub Al-Anshari. Muadz bertanya :
"Ya Rasulullah SAW apa yg dimaksud dengan ayat pd hari ditiupkan sangsakala dan kalian datang bergolong-golongan?"
Di dalam QS.An-Naba (78):18
Rasulullah SAW menjawab:
"Hai Muadz,kamu telah bertanya ttg sesuatu yg berat. Umatku akan dibangkitkan dalam 10 golongan. Allah SWT memilah mereka dari kaum muslimin dan mengubah bentuk mereka sebagian berbentuk monyet,sebagian lagi berbentuk babi,sebagian lagi berjalan terbalik dg kaki di atas dan muka dibawah lalu diseret-seret,sebagian lagi buta merayap-rayap,sebagian lagi tuli bisu tdk bisa berpikir,sebagian lagi menjulurkan lidahnya yg mengeluarkan cairan menjijikan semua orang,sebagian lagi mempunyai kaki & tangan terpotong,sebagian lagi disalipkan pd tonggak-tonggak api,sebagian lagi punya bau yg lebih menyengat dari bangkai,sebagian lagi memakai jubah ketat yang mengoyak-ngoyakan kulitnya".

Sehingga yg menentukan JATI DIRI kita sekarang & juga nanti adalah amal-amal kita selama di dunia.
Dalam pandangan orang-orang shaleh, bentuk sejati/bentuk batin kita ini pun sudah tampak olehnya.
Imam Ja'far ( Cucu Nabi SAW generasi.ke-5 )pernah memperlihatkan kepada sahabatnya Abul Bashir saat musim haji,betapa banyaknya binatang berputar-putar disekitar ka'bah ( tawaf ), sedangkan yg terlihat sebagai manusia hanya sedikit sekali & itu pun tampak bagai kilatan cahaya.
Oleh karenanya jangan sampai kita kembali menghadap ALLAH SWT dlm keadaan binatang berbungkus manuasia.....Na'udzubillah....
Tentu kita juga ingin tahu sebelum nafas terakhir menghembuskan krn akan sia2 jika kita tahu sdh terakhir krn bila dlm bentuk manusia kpn kita akan memperbaikinya krn sdh terlambat.

Itu yg dimaksud JATI DIRI sbb amal-amal kita, apapun itu yang baik atau yang buruk semua menjelma mewujud dan membentuk tubuh ukhrawi ( wujud batiniah ).
Mudah-mudahan pencerahan ilmu yg tdk seberapa ini akan menjadi petunjuk jalan utk mengerti apa itu JATI DIRI.

Manusia di dunia ini sesungguhnya sedang tidur…. Manakala mati, mereka bangun






Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA….pernah berpesan

Tuhan memberikan akal kepada manusia agar manusia mampu berfikir secara baik tentang alam dan ciptaan Tuhan sehingga bisa memberikan manfaat kepada manusia. Dengan akal manusia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Akal manusia dengan kemampuan yang begitu luar biasa mampu menyerap dan mengolah informasi sehingga menghasilkan hal-hal yang luar biasa.
Walaupun mempunyai kemampuan yang hampir tak terbatas, akal manusia diberi batasan oleh Tuhan, hanya mampu memikirkan hal-hal selain Tuhan. Ketika berhubungan dengan Dzat Tuhan, maka akal akan mengalami kebuntuan, akal tidak mampu membahas apapun tentang dzat Tuhan, mengapa?

Tuhan menciptakan manusia terdiri dari 2 unsur yaitu jasmani dan rohani. Akal termasuk ke dalam unsur jasmani yang melekat dengan tubuh manusia. Akal hanya bisa bekerja ketika manusia sadar dan normal, ketika manusia tidak sadar maka akal tidak berfungsi sama sekali. Sebagai contoh sederhana, dalam keadaan tidur, manusia bodoh dengan professor sama-sama tidak sadar, tidak akan mampu menjawab pertanyaan apapun walaupun pertanyaan itu sangat sederhana. Orang bodoh dan professor dalam keadaan tidur ketika ditanya, “Berapa 1 +1”, keduanya tidak bisa menjawab.

Kalau dalam keadaan tidur saja tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana, bagaimana mungkin akan bisa menjawab pertanyaan setelah mengalami kematian. Ketika masuk ke dalam kubur dan datang malaikat menanyakan, “Siapa Tuhanmu?” bagaimana mungkin dia bisa menjawabnya kalau hanya mengandalkan akal.

Akal sekali lagi mempunyai dimensi terbatas, itulah sebabnya Tuhan melarang manusia memikirkan dzat Tuhan karena memang akal tidak akan mampu memikirkannya. Akal berada dalam dimensi dunia sedangkan Dzat Tuhan berada dalam dimensi tak terhingga. Akal termasuk baharu sedangkan Dzat Tuhan bersifat Qadim.

Karena manusia mempunyai dua unsur, jasmani dan rohani, maka di dalam beragama khususnya ber-Islam, kedua unsur ini harus disentuh, harus diajarkan agar manusia ber-Islam secara jasmani dan rohani. Untuk mengislamkan rohani kita tidak akan pernah kekurangan Guru, begitu banyak di dunia ini Guru yang mengajarkan Islam secara jasmani.

Islam yang diajarkan kepada jasmani itu sayangnya tidak menyentuh sama sekali kepada ruh manusia karena keduanya mempunyai dimensi yang berbeda. Untuk bisa meng-Islam-kan ruh, diperlukan ruhani yang dimensi lebih tinggi yaitu ruhani para Rasul dan Para Wali yang telah mencapai tahap kamil mukamil (suci lagi bisa mensucikan).
Untuk bisa meng-Islam-kan ruh dari manusia diperlukan sebuah metodologi atau cara atau dalam bahasa Arab disebut Tareqatullah. Dengan Tareqatullah atau popular dengan tarekat inilah ruh manusia bisa dicucikan, diajarkan cara menyebut nama Tuhan sehingga ruh menjadi Islam.

Kalau ruh manusia tidak diajarkan cara menyebut nama Tuhan, maka selamanya ruh akan merana sejak di dunia sampai ke akhirat kelak.
Cara menyebut nama Tuhan, cara berkomunikasi dengan Tuhan harus dipelajari dan pengajarannya harus diselesaikan sebelum ajal menjemput. Di alam kubur dan alam setelahnya tidak ada lagi pelajaran itu. Kalau semasa hidup di duni tidak bisa berkomunikasi dengan Tuhan maka sampai di alam kubur dan alam selanjutnya tidak akan bisa berkomunikasi dengan Tuhan.

Kenapa hampir kebanyakan orang yang mengaku paham dengan agama ketika sampai kepada pembasahan tentang “Dzat Tuhan”, “Memadang wajah Tuhan” dan “Berbicara dengan Tuhan” mereka mundur secara teratur bahkan hal-hal seperti ini dianggap tabu, dengan dalih “Jangan kau pikirkan Dzat-Ku” akhirnya hal yang paling pokok ini terlupakan atau sengaja tidak dibahas. Jawabannya karena mereka hanya berbicara tentang agama secara Jasmani tanpa menyentuh ruhani sama sekali.

Ketika ruhani diajarkan agama oleh Arwahul Muqadasyah Rasulullah saw yang disalurkan oleh waliyamursyida, maka ruhani manusia akan mampu memandang hal-hal yang selama ini dianggap gaib. Ketika ruhani telah “dihidupkan” maka dia akan mampu mencapai alam Rabbani sehingga hal yang paling gaib sekalipun akan menjadi nyata.
Benar ucapan Ali bin Abi Thalib: “Manusia di dunia ini sesungguhnya sedang tidur. Manakala mati, mereka bangun” karena alam setelah kematian menjadi gaib atau abstrak bagi manusia yang sedang hidup, ketika manusia meninggal, alam kubur menjadi nyata dan alam dunia ini akan menjadi alam gaib atau abstrak baginya. Bagi orang yang telah meninggal dunia, alam kubur dengan segala isinya akan menjadi nyata (hidup) dan alam dunia akan menjadi abstrak (mimpi) baginya.

Alam kubur atau alam setelah kematian tidak akan bisa ditembus oleh jasmani manusia karena dimensinya berbeda, itulah sebabnya bagi kalangan awam, alam kubur itu menjadi sebuah misteri, hal yang tidak bisa terungkap. Berbeda dengan orang yang ruhaninya telah di isi dengan Kalimah Allah (ruhani nya telah diajarkan) atau telah mengalami apa yang di istilahkan oleh Rasulullah sebagai “Mati sebelum mati” maka ruhaninya akan bisa menembus alam kubur bahkan alam akhirat sekalipun.

Dalam surat Al-Fatihah Allah menyebutkan “Aku adalah Raja Akhirat”, artinya Allah berada dalam dimensi akhirat, itulah sebabnya ketika ruhani manusia belum dihidupkan, belum bisa menembus alam akhirat maka Allah tidak akan bisa dijangkau sama sekali. Akal akan mengalami jalan buntu ketika ingin menjangkau Allah yang berada di dimensi berbeda.

Ilmu agama yang dipelajari di sekolah, di pasantren atau universitas Islam adalah ilmu agama untuk jasmani manusia bukan untuk ruhani manusia. Disana hanya diajarkan sifat malaikat tapi tidak diajarkan teknik atau cara berjumpat dengan malaikat. Disana hanya diajarkan tentang Tuhan, nama dan sifat-Nya tapi tidak diajarkan cara berjumpa dan memandang wajah-Nya. Ketika kita terlalu fokus kepada pelajaran-pelajaran jasmani, maka ruhani akan merana, ruhani selamanya tidak berada dalam agama,
Ketika ruhani tidak berada dalam Agama atau tidak Islam, maka selama dia akan penasaran tentang alam kubur, alam akhirat, hal-hal yang berhubungan dengan kematian, dalam lubuk hati yang paling dalam dia pasti merasakan takut akan kematian dan selamanya tidak mampun menjawab nasib apa yang dialami setelah kematian. Sementara ruhani yang telah di isi dengan Kalimah Allah, dari dunia telah beserta dengan Allah maka dia tidak lagi penasaran akan hal-hal setelah kematian karena ruhaninya telah mampu menembus alam setelah kematian.

Rasulullah SAW dalam isra’ mi’raj mampu melihat surga dan neraka, melihat hal-hal yang tidak bisa dijangkau dengan akal karena ruhani Beliau telah melewati batas-batas alam dunia ini. 

Seharusnya ummat Nabi juga harus mampu menembus alam duniawi sehingga ruhaninya dari sekarang sudah berada di alam akhirat, alam Rabbani, Alam dimana manusia dengan Tuhan begitu dekat dan akrab.

Di akhir zaman ini manusia penasaran tentang wujud Tuhan sementara dia dengan yakin menolak cara untuk bisa mencapai yaitu Tareqatullah. Ketika tarekat dengan medote luar biasa warisan Rasulullah di tolak, diangap bid’ah maka saat itulah manusia menjadi bingung akan eksistensi Tuhan. Manusia hanya bisa berbicara tentang apa yang tertulis dalam kitab suci tapi tidak mampu menembus dimensi lain dari kitab suci itu sendiri yaitu dimensi tanpa batas atau dimensi tak terhingga.

Kemudian manusia hanya memahami agama secara jamaninya akan lalai dengan ibadah-ibadah rutin, meyakinkan diri bahwa dia telah shaleh, telah melaksanakan perintah agama dengan baik tanpa bisa naik kepada dimensi selanjutnya. Tuhan tidak bisa dijangkau dengan akal maka pelajaran agama yang diterima akal akan hilang ketika manusia tidur, akan hilang ketika manusia tidak sadar dan akan lenyap ketika manusia berada di alam setelah kematian. Lalu bekal apa yang diandalkan manusia menghadapi pertanyaan malaikat setelah kematian tentang “Siapa Tuhanmu?”. Ketika tidur pun dia tidak mampu menjawab pertanyaan itu bagaimana mungkin dia bisa menjawab pertanyaan itu setelah mati, sementara akal pikiran tempat ilmu agama itu tersimpan juga sudah tidak ada lagi. Artinya dia tidak bisa menjawab sama sekali pertanyaan-pertanyaan yang diajukan malaikat dan kalau pertanyaan itu tidak bisa dijawab maka tempatnya sudah jelas dimana, disiksa selamanya.

Kalau hanya mengandalkan amal ibadah, bagaimana mungkin amal ibadah bisa diterima kalau semasa di dunia ruhaninya tidak mengenal Allah sama sekali. Lalu siapa yang disembah dalam setiap ibadah? Wajah siapa yang hadir dalam ibadahnya? Sedangkan wajah Allah Yang Maha Agung tidak pernah dikenal sama sekali.

KETENANGAN CAKRA JIWA

Rabu, 01 Oktober 2014

AYAH


Tentang Ayahmu.....
Pesan Ibu untuk anaknya....

Anakku…
Memang ayah tak mengandungmu,
Tapi darahnya mengalir didarahmu.
Darinya kau diwarisi kedermawanan dan kerendahan hati…


Memang ayah tak melahirkanmu,
tapi suaranya-lah yang pertama mengantarkanmu pada Allah
ketika kau lahir… yaitu azan dan iqomah di telingamu

Memang ayah tak menyusuimu,
Tapi dari keringatnyalah setiap suapan yang menjadi air susu ibu untukmu…

Nak…Ayah memang tak menjagaimu setiap saat,
Tapi tahukah kau
dalam do’anya tak pernah terlupa namamu disebutnya…

Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar
karena dia ingin terlihat kuat
agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya
ketika merasa tak aman…

Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat ibumu
karena kecintaannya dia takut tak sanggup melepaskanmu…
Dia ingin kau mandiri agar ketika kami tiada
maka kau telah sanggup menghadapi semua persoalan secara mandiri....

Jauh didalam hatinya
Ayahmu hanya ingin mampu membanggakanmu di mata Allah,
menjadi penolong di Padang Mahsyar serta menjadi hijab dari api neraka..

ibu hanya ingin kau tahu nak…
bahwa… Cinta ayah kepadamu sama besarnya seperti cinta ibu…

Anakku…
dari didirinya juga terdapat surga bagimu.
Maka hormati dan sayangi ayahmu….
Karena ibu adalah tulang rusuk-nya….