Selasa, 20 Maret 2018

PERANG DALIL


Suasana Desa Suka Damai saat itu gerimis kecil, namun warga mulai rame berdatangan ke warung Mak Narti, yah mereka tahu benar 1 jam sebelum Adzan Magrib pasti Mbah Qodim melintas dan sudah bisa ditebak, Pak RW dan Pak RT sebagai Provokator utama menghadang perjalanan tersebut hanya untuk ingin berbagi pengetahuan bersama mbah Qodim, entah kenapa masyarakat saat ini lebih meresapi obrolan ringan daripada mendengarkan pengajian secara resmi.

Senyum para konsumen Mak Narti terlihat sumringah karena mbah Qodim benar-benar melintas, seperti biasa ... 2 suara yang paling nyaring menggelegar ... “Mbaaaaaahhhh siniiiiii kopinya baru saja memenuhi cangkir kesukaan mbah Qodiiiiiim!!”.

Walau mbah Qodim mengerti tujuan sipemanggil namun tetap saja mbah Qodim tersenyum dan mampir ke warung mak Narti.

Sebuah pisang Goreng karya mak Narti mulai menari-nari di bibir tua mbah Qodim, sesekali perjalanan pisang goreng tersebut serasa bertemu jalan tol menuju lambung renta tersebut karena diiringi sruputan seteguk kopi panas. Sruuuuppp glek ... glek ... renyah sekali iramanya.

Pak RT pun memulai tanpa basa basi “Gini mbah, sekarang ini kok banyak sekali para orang yang faham agama memberikan dalil-dalil namun bisa menimbulkan percikan perbedaan di lain tempat, padahal dalil-dalil tersebut shoheh-shoheh”.

Mbah Qodim sedikit berkenyit dahi mendengarnya, sepertinya ada rasa miris dalam hatinya, “Bapak-bapak sekalian, saya ingin bercerita kisah di sebuah pabrik pembuatan mobil, dimana disana ada satu kejadian di bagian perakitan mesin, seorang Instruktur menegur muridnya karena lalai memasang busi di mesin itu, lalu si Instruktur memberikan petuah, bahwa mobil akan sia-sia tanpa Busi, tidak akan bisa bekerja mobil tersebut, si murid lalu mendandani kesalahannya dan benar saja mesin mobil dapat dihidupkan dengan normal, teguran itu selalu ia ingat karena benar adanya apa yang dikatakan oleh Instrukturnya, lalu dibagian lain kasusnya hampir serupa ... seorang Instruktur menegur muridnya karena lalai memasang skring di bagian perlistrikan mobil, sia-sia mobil ini tidak akan bisa hidup kalau skringnya tidak dipasang, benar saja skring itu seolah-olah menjadi ruh hidupnya mesin”.

Srrrup mbah Qodim meminum kopi panasnya “Lalu malam harinya ternyata dua murid tersebut tidur 1 mess yang sama, keduanya menceritakan bahwa mobil akan sia-sia tanpa .... (......) nah disini lah muncul adu dalil yang sengit, yang satu kekeh karena busi yang satu kekeh karena skring. mereka lupa bahwa mobil merupakan rangkaian yang saling berhubungan, dalil itu turun pada saat situasi seperti apa? maka ada Asbabul Nuzulnya jika Al Quran, dan ada Sanadnya apabila hadist, karena pembelajaran islam ini lebih dari 22 tahun terjadinya ansuran turun ayat-ayat dan mengalami beberapa peristiwa hingga turunnya hadist”.

“Lalu bagaimana mbah?” tanya pak RW

Mbah Qodimpun melanjutkan “Jadi dalil itu lengkap adanya, untuk apa saja sebagai pedoman, terjadinya perang dalil itu karena kurang pemahaman secara universal, sehingga dalil yang dipakai tidak mewakili situasi yang sama saat turunnya dalil, maka akan selalu menjadi khilafiyah atau perbedaan, dah itu saja dari mbah, cermati sendiri-sendiri sesuai dengan apa yang jenengan mengerti”.

Semua orang di warung tersebut merenungi kata-kata mbah Qodim, mereka memang diajak menggunakan akal dan fikiran masing-masing untuk berkembang.

“Mbaaahhhh kalau gak ada kunci mobil gak bisa di starter dong?” Mak Narti berteriak

Mbah Qodim terkikih-kikih mendengarnya .... “Yah hehhe berarti sudah ada dalil baru kan padahal tidak ikut terlibat dipembuatan mobil hehehhe itulah ilmu perenungan ... betapa Allah SWT Maha Berkarya dalam menciptakan jagad Raya”.

Sabtu, 17 Maret 2018

BID'AH



Warung Mak Narti nampaknya semakin banyak yang mampir, ide Pak RW dan Pak RT mentraktir mbah Qodim semakin dijadikan alasan warga yang malu datang kepengajian menguping omongan-omongan mbah Qodim yang sederhana ...

Seperti biasa saat mbah Qodim di warung tersebut datang, orang-orang mulai memesan teh ataupun kopi panas, mereka mencari tempat duduk yang diperkirakan bisa menjangkau suara mbah Qodim.

“Mbah, saat ini umat kita seperti dihantui kata Bid’ah, apa-apa bid’ah, ini bid’ah, itu bid’ah, jadi bagaimana kita menanggapinya mbah?” Pak RT membuka pertanyaannya.

Mbah Qodim tersenyum “Yah demikianlah pak RT, tampaknya pengetahuan yang didapatkan lebih dahulu oleh seseorang dari gurunya dijadikan dasar utama untuk merasa paling tahu, paling faham sehingga jika ia mempelajari ilmu korek dari gurunya ya tahunya api itu akan ada asalnya dari korek, mendengar ada api dari percikan batu yo ngengkel salah, denger ada api dari konslet listrik juga langsung bilang salah, wong tahunya api itu dari korek kok”.

 Pak RW mulai kelihatan berwajah sengit “Tapi kenyataannya gitu mbah, kita di desa ini kan sering berkumpul malam harinya setelah penguburan salah satu warga yang meninggal untuk membaca surat Yasin dan Tahlil, itu dibilang Bid’ah juga mbah”.

Mbah Qodim memandangi wajah orang-orang yang ada di warung tersebut, beberapa orang menunduk serius tanda menunggu jawaban mbah Qodim, “Bid’ah itu kan berarti baru pak RW, lah Allah itu saja bersifat Al Badi’ (Maha Pencipta hal-hal baru) karena menciptakan Bumi ini tanpa contoh, (QS. Al Baqoroh : 117) lihatlah Ciptaan Allah sekarang ... banyak sekali, dari ikan Lele yang 1 jenis aja sekarang berkembang jadi banyak sekali jenis, juga yang lainnya, coba saja kita memikirkannya”. 

“Lalu kenapa sekarang banyak muncul istilah bid’ah mbah?” Pak RT pun bertanya.

Mbah Qodim tersenyum “Ya itu belajar ilmu Korek hehhehee, oh iya Pak RT, 2 bulan lalu pak Lurah beli Mobil APV ya?”

“Iya Mbah, lha kok nyelimur ke mobil APV toh?”. Jawab Pak RT.

Bukannya cepat menjawab mbah Qodim justru terkikik-kikik tertawa kecil, lalu menyrusup kopinya. “Begini Pak RT, waktu itu belinyakan ngajak pak RT, tetapi sampai di desa ini kok sudah banyak sekali Variasi?”

“Oh itu toh mbah, begitu pembayaran tunai dari showroom APV kami mampir ke tukang variasi, memberi begasi atas mobil karena di desa kan sering angkut-angkut barang, mengganti ban  radial karena kondisi jalan desa yang banyak jalanan berbatu dan becek/licin bila hujan, menambah lampu karena bila jalan malam harus lebih terang mbah “. Jawab Pak RT

Mbah Qodim memandang serius wajah Pak RT “Apa tidak takut sama Showroomnya pak RT, kan ada bonus ganti oli sebulan berikutnya di tempat membeli mobil APV tersebut?. 

Pak RTpun menjawab “Tidak itu mbah, wong saya nemenin ganti oli pertama ke bengkel showroom tersebut kok mbah, mereka tidak marah karena mengerti bahwa mobil APV mereka dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan sipemakai, lha memangnya kenapa Mbah?”.

Mbah Qodim menarik nafas dalam-dalam. “itu yang mbah maksudkan, dulu di Zaman Rosul masih hidup, kematian tetangga dan sahabat mayoritas karena peperangan, maka Rosul dan sahabat cukup menyolatkan lalu bersiaga untuk menghadapi perang kembali maka Rosulullah tidak pernah mengajak sahabat dan umatnya untuk berkumpul membaca surat Yasin berjamaah karena situasinya berbeda, lah di Negara kita ini ada budaya silaturrahmi yang kental dan keadaannya kan damai juga tenang, masak ada yang tertimpa musibah tidak mau berkumpul menghibur yang sedang berkesusahan, bayangkan seorang istri/suami yang hidup bersama saling mencintai 20 tahun tiba-tiba harus ditinggalkan pasangannya, pasti kesedihan akan ada dalam hatinya ... dan kita tetangganya menambahnya dengan membiarkannya seorang diri ... tetangga model apa itu?”

Orang-orang di warung Mak nartipun tertunduk merenungi kata-kata mbah Qodim

“Saya mau tanya  kepada panjenengan sedoyo ... kalau panjenengan semua di undang untuk sumbangsih do’a dan diajak membaca surat Yasin lalu ditengah jalan ada anjing menggonggong GUK GUK GUK ... apakah kalian semua tidak melanjutkan perjalanan untuk membaca surat Yasin?” tambah mbah Qodim

“Tetap berangkaaaaaaaaaaaaat mbaaaaaaaaaaaah!!!!”. jawab semua isi warung.

Mbah Qodim menunduk dengan mata berkaca-kaca sembari berucap lirih “Semoga demikian juga jika ada manusia yang menggonggong BID’AH BID’AH BID’AH... karena kita masih umat Rasulullah SAW walau lain keadaan zamannya laksana APV keluaran pabriknya dan APV modifikasi sesuai dengan kebutuhan penggunaannya”. 

Minggu, 11 Maret 2018

BAGAIMANA SIKAP KITA MENGHADAPI KERASAHAN AKHIR ZAMAN



Suasana di warung Mak Narti kali ini agak ramai, mereka berkumpul mengelilingi mbah Qodim yang sedang menikmati kopi panasnya.

Pak RT “Mbah ... akhir-akhir ini bangsa kita semakin susah bersatu, antar agama sepertinya semakin memanas, bagaimana sih caranya agar iman kita ini semakin kuat menjalani kehidupan yang bertujuan mencapai Baldatun toyyibatun wa Robbun Ghofur?” 

Mbah Qodim “Dalam meniti kehidupan ini, menggapai ketenangan jiwa, manusia memang akan mengalami 3 fase dalam kehidupannya”.

Pak RW “3 fase mbah, apa saja itu?”

Mbah Qodim “Pertama adalah Fase dimana ia bermaqom Muslim, muslim itu melaksanakan Rukun Islam yang 5, maka seorang muslim terkadang terlihat keras dan kekeh dalam menjalani hidupnya, ucapan dan tindakannya didasarkan atas ilmu-ilmu yang ia yakini sebagai pedoman hidupnya, tak jarang bila ucapannya akan melukai perasaan seseorang, namun memang begitulah situasinya, ia harus melakukan apa-apa yang diterima oleh aturannya,...  lalu fase kedua adalah ketika ia beranjak menjadi seorang mukmin, dimana ia mengimani rukun iman yang 6, kehidupannya penuh toleransi, karena ia mengimani bahwa Allah SWT sudah menurunkan 4 Kitab yang disebarkan oleh Rasul Nya, lalu ia menyadari sepenuhnya bawasannya para Rosul dan 4 kitab tersebut pasti memiliki pengikut yang setia dengan penuh keyakinan, seorang mukmin tidak akan mau mencela taqdir seseorang, karena memang dalam Rukun iman ada keimanan yang harus diyakini tentang ADANYA TAQDIR’.

Lalu Fase yang ketiga mbah?” mak Nartipun bertanya.

Mbah Qodim menunduk sembari memperhatikan kopinya “Fase yang ketiga adalah Mukhlis ... orang yang sudah mencapai titik Ikhlas, insan mukhlis ini sudah menganggap bahwa saat di dunia ini ...ada sebuah cerita yang disutradarai oleh Sang Pencipta, yang pasti akan ada seuatu kisah, baik sedih, tegang, menakutkan ataupun bahagia. ada aktor yaitu peran jahat, baik, plinplan, penghasud dan sebagainya, Seorang Muhlis ...ia akan berusaha menjalani peran yang diberikan kepadanya... ia perankan dengan sebaik-baiknya.... ia tidak akan mau mengambil peran orang lain, karena memang alur cerita itu adalah Karya Cipta Sang Sutradara, jadi ia yakin betul akan ada akhir kisah yang sangat berharga dari Sang Maha Pengasuh dan Maha Penyayang”.

“Lalu kita sebaiknya berada dimana mbah?” tanya pak RW

Mbah Qodim “Allah SWT menciptakan akal walau menciptakan nafsu juga ... gunakan akal kita ...kapankah kita sebagai harus sebagai muslim... kapankah kita menjadi mukmin dan kapankah kita menjadi Mukhlis (sembari tersenyum mbah Qodim melanjutkan)  "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhir, hendaknya ia tidak menyakiti tetangganya, barangisiapa yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam.” (Muttafaq ‘alaih).

Selasa, 27 Februari 2018

JAGA JIWA KITA DARI PRADUGA

Mak Narti menepuk pundak Pak RT … “Pak RT itu Mbah Qodim, cepet panggil suruh kesini!!” Pak RT segeranya member isyarat Pak RW lalu keduanya berteriak nyaris berbarengan “Mbaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh siniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!” mereka berdua hendak tersenyum sambil melihat Mak Narti, tetapi Mak Narti sudah tidak ada di samping mereka, yang jelas dari arah dapur terdengar suara gelas yang diisi oleh gula dan kopi lalu suara air panas yang masuk ke dalam gelas disusul dengan irama dentingan adukan yang tercipta dari gesekan sendok dan gelas.

“Assalamu’alaikum” Mbah Qodimpun memasuki warung dengan mata yang terlihat berkaca-kaca. “Wa’alaikumussalaam, mbah” jawab Pak RT dan Pak RW berbarengan dengan wajah bengong. “Kenapa Mbah, wajah mbah kok sepertinya sedang sedih?” Pak RW mengajukan pertanyaan.
Mak Narti tertegun saat mengantar kopi yang ia suguhkan, sungguh selama ini wajah Mbah Qodim selalu berseri laksana rembulan, manun mega hitam mendung kelam yang saat ini ia saksikan. Semua konsumen warung Mak Nartipun merapat mencari kursi terdekat dengan Mah Qodim, bahkan ada yang rela menggeser kursi mereka.

“Tadi mbah mampir ke rumah seorang yang di anggap berilmu dan suka ceramah kemana-mana di kampung sebelah” Mbah Qodim mulai berbicara lirih. “Lalu Mbah ?” Pak RT bertanya dengan lembut dan berhati-hati.
“Pertama datang saja beliau langsung menebak bahwa mbah pasti kesana akan meminta beliau berceramah, mbah senang sekali melihat kelebihan ilmu yang beliau miliki, 1 jam mbah takjub akan ilmu-ilmu yang beliau kuasai, pantas saja bila beliau sangat laris pada acara-acara pengajian, sampai suatu ketika beliau melihat tetangga yang ada di seberang rumahnya terlihat ada tamu dengan mobil yang mewah, beliau berdesis sembari beristighfar … matanya memerah menahan amarah, lalu mbah bertanya siapa orang itu, dan beliau menjawab, mungkin pejabat, mungkin juga orang kaya … atau bahkan mungkin orang yang sedang jauh dari cahaya Tuhan” Mbah Qodim menarik nafas lirih.
“Lalu mbah?” Tanya Mak Narti. Mbah Qodim kembali menghela nafas lalu melanjutkan ceritanya “Mbah bertanya, itu rumah milik siapa, beliau menjelaskan itu adalah rumah seorang pelacur, yang berlimang dosa, tak takut adzab Tuhan, tamu-tamunya adalah orang-orang Kotor, 1 hari bisa sampai dengan puluhan tamu yang hilir mudik datang kerumah tersebut, lalu mbahpun mengucapakan Istighfar mengikuti beliau, beliau lalu mendongak ke atas sembari berdoa bertanya kepada Tuhan mengapa ia harus diberikan aib memiliki tetangga pelacur, beliau sangat malu bertetangga dengan pelacur”

“Kemudian gimana mbah?” Tanya pak RT. Mbah Qodim meminum kopi panasnya, “Yah, setelah itu mbah pulang ….. dan tanpa diketahui oleh beliau, mbah mampir ke rumah orang yang diceritakan beliau”.
“Mbah Qodiiiiiiim, ngapaiiiiin kesana mbaaaaaahhh, mbahkan sudah tua!” teriak Mak Narti. Mendengar pertanyaan itu Mbah Qodimpun menangis, air mata yang selama ia tahan akhirnya keluar juga. Pak RT dan Pak RW langsung melotot memandang Mak Narti, sedikit banyaknya Pak RT dan Pak RW sudah tahu benar bagaimana mereka berdua pernah malu sewaktu memarahi Mbah Qodim yang adzan jam 10 malam tempo dulu. “Lanjutkan mbah!” Pak RT menatap serius ke arah Mbah Qodim.

“Di rumah pelacur itu, mbah disambut dengan senyuman, dan tidak ada kata-kata tawaran bahwa pasti mbah kesana ingin memakai pelacur itu, justru pelacur itu bertanya ada keperluan apa dan menawarkan bantuan bila ia sanggup, saat melihat ada tamu di seberang jalannya beliau selalu memandang dengan mata yang berkaca-kaca sembari beristighfar lirih, mbahpun bertanya rumah siapa di depan sana, terpaksa mbah pura-pura tidak tahu, si pelacur itu menjawab sembari menahan tangisnya, beliau adalah seorang yang  alim, terhormat dan memiliki samudera ilmu yang menyejukkan, beliau selalu berceramah kemana-mana memberikan pencerahan kepada orang-orang, tamu-tamu beliau pasti mendapatkan berkah atas doa-doa beliau, lalu sang pelacur menunduk sembari berdoa, Yaa Allah Yang Maha Kuasa, hamba malu dengan diri hamba yang hina ini, memiliki tetangga seperti beliau adalah anugerah bagi hamba, semoga esok aku bisa mendatangi MU yaa Allah dengan cahaya pintu Taubat MU Yang Maha Luas”

Mbah Qodim menghentikan ceritanya lalu menangis tersedu-sedu, semua yang berada di warung tersebut ikut menangis …. BETAPA ALLAH SWT SANG PEMEGANG RAHASIA … Al Insanu sirri wa Ana Sirruhu ….  (Sesungguhnya manusia itu adalah sebuah rahasia dan AKU adalah rahasianya)

Kamis, 18 Januari 2018

PERCAKAPAN IBLIS DAN BALA TENTARANYA

"Jika kau ingin merusak sebuah keluarga, rusaklah dulu ibunya!!"

beri ia perasaan akan rasa lelah bertubi yang membuatnya merasa lemah dan habis energi

jika ia sudah merasa lelah, ambil rasa syukurnya

biarkan ia merasa bahwa hidupnya habis untuk mengurus keluarga dan buatlah ia tidak memiliki apapun, selain lelah yang didapatnya

setelah kau ambil rasa syukurnya, buatlah ia menjadi orang yang tidak percaya diri

sibukkan pandangan matanya untuk melihat kebahagiaan orang lain dan buatlah ia lupa akan kebaikan yang ia miliki,

buatlah ia merasa minder dan merasa tidak berharga

jika itu sudah terjadi, ambilah juga sabarnya,

gaduhkan hatinya agar ia merasa ada banyak hal yang berantakan dalam rumahnya, buatlah ia merasa betapa banyak masalah yang ditimbulkan dari anaknya, dari suaminya

goda lisannya untuk berkata kasar,
Hingga nanti anak-anak mencontohnya dan tak menghargainya lagi, lalu bertambahlah kemarahan demi kemarahan, hilanglah aura syurga dalam rumah

dan kau akan menemukan perlahan, rumah itu rusak…dari pintu seorang IBU
....

Sekali lagi, makhluk penting itu bernama Ibu,

Lelah yang tidak selesai menjadi tempat masuknya syetan,

Ia mengambil bahagiamu, mengambil sabar dan syukurmu wahai ibu,

Jangan biarkan syetan mengambil itu,
Jika kau lelah, rehatlah.
Jika kau lelah, berbagilah

Sungguh tak ada satupun yang akan membiarkanmu merasa sakit sendiri
jika kau pandai menghargai dirimu,

Ringankan tugasmu bu,
Jangan menekan dirimu terlalu keras,
Sesekali tak masalah rumahmu kotor
tak masalah betapa banyaknya pekerjaan yang belum kau tuntaskan

Jangan terjebak dalam waktumu bu,
sungguh tugas muliamu jauh lebih penting dari sekedar rutinitas yang kau lakukan setiap harinya

rehatlah,
Jika pun tak mungkin kau tempuh jarak puluhan kilo untuk segarkan diri,

Sekedar menepi, menepilah
beri waktu untuk dirimu sendiri,

Sekedar melihat betapa banyak kebaikan yang kau punya,
betapa manisnya keceriaan anak-anakmu,
betapa bertanggungjawabnya suamimu,

rasakan pelukannya,
ada cinta dan ketulusanmu dalam tegap badannya

Kau berharga ibu, jangan pernah lupakan itu.

tapi, saat mendengar masalah orang lain,kita semakin sadar bahwa perspektif kita menentukan cara pandang kita terhadap masalah

jika kita melihat peran ini sebagai beban,maka kita hanya akan sampai pada titik lelah

jika kita memandang diri hanya sebatas pelaku rutinitas,kita tidak akan menemukan ruhnya

rewarding your self mom,
sungguh peranmu jauh lebih besar dari semua keluhanmu

jangan biarkan syetan merusak bahagia dengan mengambil rasa SABAR dan SYUKURMU

karena dari bahagiamu, tercipta ketahanan sebuah keluarga

Baarakallahu fiikum...

Selamat menjemput surga dalam aktivitas sebagai Ibu dan Istri yang HEBAT.

Rabu, 17 Januari 2018

SANG PEMENANG KEHIDUPAN

PEMENANG KEHIDUPAN

Seorang yangg bijak sewaktu ditanya “Apakah yang Paling Membingungkan” di Dunia ini ?

Beliau menjawab : “Manusia”

Karena dia “Mengorbankan Kesehatannya” hanya “Demi uang”;
Lalu dia “Mengorbankan Uangnya demi Kesehatan”.

Lalu dia “Sangat Khawatir” dengan “Masa Depannya”.
sampai’ dia “Tidak Menikmati Masa Kini”;
akhirnya dia “Tidak Hidup di Masa Depan atau pun di Masa Kini”;

Dia “Hidup Seakan-akan Tidak Akan Mati”,
lalu dia “Mati” tanpa “Benar2 Menikmati” apa itu “Hidup”….

Bersyukurlah apa yang selama ini kita dapati dan kita nikmati…..
Karena kita tidak akan tahu, apa yang akan terjadi hari esok…..

Ketika lahir dua tangan kita kosong…..
ketika meninggal kedua tangan kita juga kosong…

Waktu datang dan waktu pergi kita tidak membawa apa²……

Jangan sombong karena kaya dan berkedudukan..

Jangan minder karena miskin dan hina..

Bukankah kita semua hanyalah tamu dan semua milik kita hanyalah pinjaman.

Tetaplah rendah hati seberapapun tinggi kedudukan kita…..

Tetaplah percaya diri seberapapun kekurangan kita.

Karena kita hadir tidak membawa apa2 dan kembali juga tidak membawa apa2…
Hanya pahala kebajikan atau dosa kejahatan yang dapat kita bawa.

Datang ditemani oleh Tangis…..
Pergi juga ditemani oleh Tangis…..

Maka dari itu tetaplah bersyukur dalam segala keadaan apa pun….

Hiduplah disaat yg benar-benar ada dan nyata untuk kita, yaitu SAAT INI…
bukan dari bayang2 masa lalu maupun mencemaskan masa mendatang yg belum lagi tiba..

“Pemenang kehidupan....” adalah
Orang yang tetap sejuk di tempat yang panas…
Yang tetap manis di tempat yang sangat pahit….
Yang tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar….
Serta tetap tenang di tengah badai yang paling hebat......

Kamis, 30 November 2017

KISAH LIDAH DI TERPOTONG KARENA MEMUJI NABI


Dahulu di masa seorang penyair hebat dan sangat terkenal yaitu Syaikh Farazdaq dimana beliau selalu asyik memuji Rasulullah SAW., beliau mempunyai kebiasaan melakukan ibadah haji setiap tahunnya.

Suatu waktu ketika beliau melakukan ibadah haji kemudian datang berziarah ke makam Rasulullah SAW. dan membaca qasidah di makam beliau dan ketika itu ada seseorang yang mendengarkan qasidah pujian yang dilantunkannya.

Setelah selesai membaca qasidah, orang itu menemui Syaikh Farazdaq dan mengajak beliau untuk makan siang ke rumahnya. Beliau pun menerima ajakan orang tersebut dan setelah berjalan jauh hingga keluar dari Madinah al-Munawwarah sampailah keduanya di rumah yang dituju.

Sesampainya di dalam rumah, orang tersebut memegangi Syaikh Farazdaq dan berkata: “Sungguh aku sangat membenci orang-orang yang memuji-muji Muhammad, dan ku bawa engkau ke sini untuk ku gunting lidahmu!”

Maka orang itu menarik lidah beliau lalu mengguntingnya dan berkata: “Ambillah potongan lidahmu ini dan pergilah untuk kembali memuji Muhammad!”

Maka Syaikh Farazdaq pun menangis karena rasa sakit dan juga sedih tidak bisa lagi membaca syair untuk Sayyidina Muhammad SAW. Kemudian beliau datang ke makam Rasulullah Saw. seraya berdoa: “Ya Allah jika penghuni makam ini tidak suka atas pujian-pujian yang aku lantunkan untuknya maka biarkan aku tidak lagi bisa berbicara seumur hidupku, karena aku tidak butuh kepada lidah ini kecuali hanya untuk memuji-Mu dan memuji Nabi-Mu. Namun jika Engkau dan Nabi-Mu ridha maka kembalikanlah lidahku ini ke mulutku seperti semula.”

Beliau terus menangis hingga tertidur dan bermimpi jumpa dengan Rasulullah SAW. yang berkata:
“Aku senang mendengar pujian-pujianmu, berikanlah potongan lidahmu.”
Lalu Rasulullah SAW. mengambil potongan lidah itu dan mengembalikannya pada posisinya semula. Ketika Syaikh Farazdaq terbangun dari tidurnya beliau mendapati lidahnya telah kembali seperti semula, maka beliaupun bertambah dahsyat memuji Rasulullah SAW.

Hingga di tahun selanjutnya beliau datang lagi menziarahi Rasulullah SAW. dan kembali membaca pujian-pujian untuk Rasulullah SAW. Dan di saat itu datanglah seorang yang masih muda dan gagah serta berwajah cerah menemui beliau dan mengajak beliau untuk makan siang di rumahnya.
Beliau teringat kejadian tahun yang lalu namun beliau tetap menerima ajakan tersebut sehingga beliau dibawa ke rumah anak muda itu. Sesampainya di rumah anak muda itu, beliau dapati rumah itu adalah rumah yang dulu pernah beliau datangi lalu lidah beliau dipotong.

Anak muda itu pun meminta beliau untuk masuk yang akhirnya beliau pun masuk ke dalam rumah itu hingga mendapati sebuah kurungan besar terbuat dari besi dan di dalamnya ada kera yang sangat besar dan terlihat sangat beringas, maka anak muda itu berkata: “Engkau lihat kera besar yang di dalam kandang itu, dia adalah ayahku yang dulu telah menggunting lidahmu, maka keesokan harinya Allah merubahnya menjadi seekor kera.”

Dan hal yang seperti ini telah terjadi pada ummat terdahulu, sebagaimana firman Allah Swt.:
فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ ( الأعراف
“Maka setelah mereka bersikap sombong terhadap segala apa yang dilarang, Kami katakan kepada mereka: “Jadilah kalian kera yang hina”. (QS. al-A’raf ayat 166)
Kemudian anak muda itu berkata: “Jika ayahku tidak bisa sembuh maka lebih baik Allah matikan saja.”

Maka Syaikh Farazdaq berdoa: “Ya Allah aku telah memaafkan orang itu dan tidak ada lagi dendam dan rasa benci kepadanya”. Dan seketika itu pun Allah SWT. mematikan kera itu dan mengembalikannya pada wujud yang semula.

Dari kejadian ini jelaslah bahwa sungguh Allah SWT. mencintai orang-orang yang suka memuji Nabi Muhammad SAW. Karena pujian kepada Nabi Muhammad SAW. disebabkan oleh cinta dan banyak memuji kepada Nabi Muhammad SAW. berarti pula banyak mencintai beliau.