Minggu, 19 Oktober 2014

Apakah kita tidak memikirkannya




GAMBAR PERTAMA
adalah sebuah magnet dalam bentuk kotak dengan SERBUK BESI yang berserakan di SEKELILINGNYA. Medan magnet menyebabkan SERBUK BESI untuk mengatur diri mereka ke dalam gambar itu.

GAMBAR KEDUA ADALAH KAABAH..

ALLAH SWT BERFIRMAN MAKSUDNYA :-

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di alam semesta, dan dalam diri mereka sendiri, sehingga ternyata jelas kepada mereka bahawa ini (Al-Quran) adalah kebenaran. Adakah ia tidak mencukupi berkenaan kepada Tuhan kamu bahawa Dia adalah Saksi atas tiap-tiap sesuatu ? "- [41:53]

KETENANGAN CAKRA JIWA

Sabtu, 18 Oktober 2014

KISAH "TOBAT SEORANG HAMBA"

Ketenangan Cakra Jiwa


FOTO DI ATAS HANYALAH ILUSTRASI

Malam itu, Piso Jalak bersama para pelacur kelas tinggi sedang berbincang di hotel bintang lima. Di bulan suci, apa yang mereka inginkan? Ya, mereka juga pasti ingin hari raya, pulang kampung dengan membawa oleh-oleh. Di antara mereka banyak yang libur melacur, hanya minta kiriman lewat ATM para pelanggannya. Ada pula yang masih ngebut mencari “Tumpangan” layaknya angkot. Ada pula yang sudah berjanji, selepas lebaran, dunia kelam akan ditutup selamanya dalam hidupnya. Macam-macamlah.

Piso Jalak bercerita banyak tentang sejarah pelacuran di dunia,sampai profil-profil pelacur hingga seorang pelacur yang menjadi permaisuri raja, dan sempat menyelamatkan negrinya. Tak kurang pula bagaimana Piso Jalak mengisahkan tobatnya para pelacur dan sejumlah pelacur yang memondokkan anaknya di pesantren, walau uangnya dari hasil pelacuran.

“Malam ini kita akan lanjutkan ziarah bersama ke sebuah makam seorang perempuan mulia di mata Allah tapi hina di mata manusia…”
“Apakah dia seorang penjahat? Koruptor? Kanibal? Atau…? Seperti kita-kita ini, Mas? tanya salah satu hostes di hotel itu.
“Ya, Anda tebak sendiri. Kita kesana, kita bacakan tahlil dan berdoa bersama?”

Para pelacur itu sepertinya sudah mengerti siapa yang akan di ziarahi itu. Wajah-wajah mereka mengekspresikan pancaran yang beragam. Ada yang kelihatan pucat pasi, ada pula yang gembira, ada yang menunduk, ada pula yang langsung menitikkan air mata.

“Bagaimana kisahnya Mas Piso Jalak, kok sampai dia begitu mulia di hadapan Allah? Apakah kita-kita ini yang sangat kotor juga bisa?”
Mata Piso Jalak menerawang jauh. Lalu ia kisahkan tentang kehidupan pelacur itu. Ia adalah seorang hostes yang sangat cantik dan sangat laris. Semua orang di Jakarta yang hobi berselingkuh dengan dunia perempuan tahu namanya. Begitu juga orang-orang di kampungnya tahu profesinya. Makanya, ketika tiba-tiba meninggal dunia, hampir tak ada yang mau mnguburnya. Sanak saudaranya juga tidak jelas. Akhirnya pelacur ini dikubur saja asal-asalan, di kubur dekat sungai, yang tempatnya jauh dari kuburan umum. Masyarakat merasa jijik dan sekaligus menjadikan momentum, agar dikenang, bahwa seorang pelacur kalau mati tidak akan dikubur di makam umum. Mungkin masyarakat mau menghukum pelacur ini.

Sepuluh tahun kemudian, tiba-tiba ada proyek pelebaran sungai. Tentu kuburan pelacur ini akan digaruk begitu saja. Benar, ketika kuburan pelacur itu di buldoser, tiba-tiba buldosernya macet, dan berulang kali demikian. Akhirnya seorang kyai di kampung itu datang bersama masyarakat untuk mengeduk kuburan itu. Apa yang terjadi? Mereka semua terkejut setangah mati ketika melihat mayat pelacur sepuluh tahun yang lalu masih utuh, kafannya masih bersih, kulitnya masih mulus. Mereka terhenyak dan hampir semua yang melihat disana menangis, memohon ampun kepada Allah atas dosa dan penghinaan yang mereka lakukan selama itu. Akhirnya di kuburkan di makam umum, dihormati layaknya orang yang lain.

Piso Jalak terdiam sejenak hampir tersedak suaranya. Sementara para pelacur lainnya itu, sudah saling berpelukan menahan tangis atas kisah tragis itu.

“Apa yang dilakukannya selama jadi pelacur Mas?”
“Saya tidak tahu. Mungkin hatinya tidak pernah melacur, jiwanya untuk Allah. Dan setiap dia melacur dia hanya ingat Allah, bahkan menjerit-jerit. Saya dengar dari dunia waktu yang saya tembus, melihat dia menjelang meninggalnya menangis sampai kering air matanya dan menjerit sampai pingsan atas pertobatannya, sampai wafatnya… Allah mengampuni segala dosanya yang telah lalu. Saya merasa mendengarkan munajatnya begini:

“Yaa Allah, Engkau tahu aku hamba yang Engkau Ciptakan dan Engkau pun tahu aku seperti ini tidak lepas dari Takdir-Mu. Kini aku hanya ingin kembali kepada-Mu, setelah seluruh isi makhluk-Mu tidak ada yang menjadi harapanku. Kalau seluruh makhluk-Mu saja mencaciku, menghinaku, menghempaskanku, lalu Engkaupun juga hendak membuangku, maka siapa lagi yang bakal menerima hamba yang hina ini Yaa Allah… Padahal Engkaulah satu-satunya harapanku… Karena itu terimalah aku di Pangkuan-Mu ya Allah…”

Hotel berbintang itu seakan-akan mau roboh mendengar kisah Piso Jalak, karena setelah kisah itu diuraikan, berurai pula air mata dan jeritan para pelacur itu…

RENUNGKAN

Bukti-bukti kecintaan Allah SWT kepada para hamba-Nya, sebagaimana disebutkan di dalam Alquran, amatlah banyak. Di antara bukti yang paling penting adalah penerimaan Allah SWT atas tobat para pelaku maksiat, pengampunan-Nya atas dosa-dosa mereka, keridhaan-Nya kepada mereka dan kecintaan-Nya kepada mereka setelah sebelumnya Dia membenci mereka. Allah SWT berfirman (yang artinya): Memohon ampunlah kalian kepada Tuhan kalian karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun (QS Nuh: [70]: 10);

Siapa saja yang melakukan kesalahan atau menzalimi dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampunan kepada Allah, pasti ia akan mendapati Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang (QS an-Nisa’ [4]: 110);

Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas atas diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus-asa terhadap rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS az-Zumar [39]: 53);

Sesungguhnya Tuhanmu adalah pemilik ampunan bagi manusia yang telah menzalimi diri mereka sendiri (QS ar-Ra’du [13]: 6);

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (QS al-Baqarah [2]: 222).

Allah adalah Maha Penerima tobat. Ampunan-Nya amat luas. Karena itu, tidak seorang pun layak berputus asa dari rahmat dan kasih-sayang Allah SWT. Tangan Allah SWT selalu terbuka bagi orang-orang yang mau bertobat dan kembali kepada-Nya. Karena itulah, seseorang tidak selayaknya mendahului Allah SWT dengan menyatakan kepada pelaku dosa bahwa Allah SWT tidak akan mengampuni dosanya. Rasulullah SAW sebagaimana dituturkan oleh Jundab ra, pernah bersabda, “Sesungguhnya pernah ada seseorang berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.’ Lalu Allah SWT berfirman kepada orang itu, ‘Siapakah yang telah bersumpah atas nama-Ku dengan menyatakan bahwa Aku tidak akan mengumpuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengumpuni dia dan membatalkan amal kamu.’” (HR Muslim).

Abu Musa al-Asy’ari ra juga menuturkan bahwah Rasulullah SAW  pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah selalu membentangkan tangannya pada siang hari untuk menerima tobat para pelaku dosa pada malam harinya. Allah pun selalu membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima tobat para pelaku dosa pada siang harinya.” (HR Muslim).

Rasulullah SAW yang terpelihara (ma’sum) dari dosa sekalipun tetap memohon ampunan kepada Allah SWT, sebagaimana sabda beliau, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah SWT dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR al-Bukhari).

Yaa Allah berilah hidayah di hati kami agar senantiasa memohon ampun dan bertobat kepada Mu … Aamiin

Jumat, 17 Oktober 2014

BIARKAN CINTA ITU TETAP DI HATI KITA

Ketenangan Cakra Jiwa


Mengapa kita terus menyimpan beban dalam diri…
Jika kita mempunyai Allah sebagai tempat mengadu?

Mengapa kita takut semua orang membenci…
Padahal kita mempunyai Allah yang mengerti keadaan diri kita ?

Mengapa kita mengisi hati dengan kesedihan dan penderitaan…
Padahal kita memiliki Allah yang dapat mengisinya dengan kebahagiaan abadi?

Mengapa kita memilih nyaman diatas ketidaktenangan..
Padahal ada cinta murni-Nya yang berbicara tentang kedamaian ?


Bukalah hati kita , biarkan Allah membersihkan semua luka kita ..
dan memeluk kita dengan cinta-Nya yang terbesar
karena cuma Allah..yang bisa memberikan itu.


Berdoalah kepada Allah karena Dia mendengarkan semua doa-doa kita…
percaya kepada-Nya saja dan bukan kepada yang lain yang menipu kita…
lakukanlah apa yang Dia firmankan karena Dia adalah penuntun jalan kita…
cintai Allah sungguh-sungguh dan jangan menipu-Nya.


Jika kita dalam pertarungan dan tanpa senjata..
maka biarlah Cinta-Nya yang menjadi pedang kehidupan kita..

Jika kita terluka dalam pertarungan itu..
maka biarlah cinta-Nya menutup luka dan menghentikan pendarahan akibat luka..


Jika kita merasa kedinginan..
Maka biarlah cinta-Nya yang menghangatkan kita …

Jika kita tersandung dan jatuh...
Maka biarlah cinta-Nya yang menangkap kita..

Jika kita tidak memiliki makanan untuk dimakan lagi…
Maka biarlah kasih-Nya yang akan mengenyangkan kita..

Jika kita mulai susah bernafas…
Maka biarlah cinta-Nya mengisi paru-paru dan menjadi udara untuk kita…

Jika kita tidak mempunyai air untuk minum… m
Maka biarlah cinta-Nya menjadi air penyejuk dahaga kita...


Ketika kita tersesat dalam hujan…
Maka biarlah cinta-Nya yang menjadi naungan..

Ketika kita tersesat dalam gelap...
Maka biarlah cinta-Nya menjadi cahaya penuntun...

Bahkan ketika kita tidak dapat melihat...
Maka biarlah cinta-Nya yang akan menjadi pandangan..


Ketika kita salah dalam berargumen…
Maka biarlah cinta-Nya menunjukkan kebenaran..

Ketika tidak ada lagi yang mengerti tentang diri kita..
Maka carilah Allah biarkan cinta-Nya memahami tentang kita..

Ketika tidak ada lagi yang mendengarkan kita..
Maka biarlah cinta-Nya yang menjadi pendengar setia…

Ketika tidak ada lagi yang mempercayai kita…
Maka biarlah cinta-Nya dikirim untuk menjadi kepercayaan jiwa..


Ketika kita ragu tidak ada lagi yang melindungi…
Biarkanlah cinta-Nya yang menjadi pertahanan..

Ketika kita merasa tidak ada yang peduli dengan kita..
maka biarkanlah cinta-Nya yang memperhatikan..

Ketika seseorang mengatakan kita bodoh…
Maka biarkanlah cinta-Nya yang membuat kita bijaksana…

Ketika seseorang meninggalkan kita..
Maka biarkanlah cinta-Nya menunjukkan jalan...


Karena ketika kita lemah..
Maka biarkanlah cinta-Nya yang membuat kita kuat..

Karena ketika kita susah tersenyum…
Maka biarkanlah cinta-Nya membuat hati kita tertawa...

Ketika kita tersesat...
Maka biarkanlah cinta-Nya yang menjadi jalan dan arah tujuan…

Ketika kita susah untuk berbicara..
Maka biarkanlah cinta-Nya yang menjadi perkataan..


Bila kita takut..
Maka biarlah cinta-Nya merengkuh dalam lindungan-Nya..

Bila kita kecewa...
Maka biarlah cinta-Nya menjadi jalan pembebasan..

Bila kita disakiti..
Maka biarlah cinta-Nya menyembuhkan sakit tersebut..

Bila kita mencapai puncak perjalanan..
Malaikat langit akan datang para akhirnya untuk menyambut kita...
maka pergilah…


Berjalanlah menuju kemegahan surga-Nya...
Jangan pergi di hari itu tanpa cinta-Nya..
Kita tidak akan pernah goyah selama kita memakai pakaian Tauhid..
Jangan biarkan iblis menipu hati kita..
Jangan takut karena cinta Allah akan menaklukkan itu selamanya..

Tunggu dan percaya pada cinta Allah..
Itu yang terbaik yang bisa kita miliki..

Tolong jangan menangis lagi…

Dan di dalam hati kita …Biarkan cinta-Nya itu tetap abadi dan nyata!!

Minggu, 12 Oktober 2014

HIKMAH PADI YANG MENUNDUK



 oleh Ketenangan Cakra Jiwa (Syajaratul Yaqin)



Ya ayyuhassadirul muzawwiru min sholafin, mahlan fainnaka bil ayyami munkhodiWahai orang-orang yang egois sombong lagi berpaling, hati-hatilah karena hari-harimu yang menipu.

Sumber kehancuran seseorang lebih banyak berasal dari dirinya sendiri, dibandingkan faktor-faktor yang berasal dari luar, diri sendiri adalah kekuatan utama yang menopang kehidupan, jika kekuatan itu cukup mempunyai landasan yang kuat,

Faktor-faktor yang berasal dari luar diri akan mampu dikelola dengan baik betapapun keras dan sulitnya tantangan yang dihadapi, salah satu sifat dalam diri manusia yang menjadi sumber kehancurannya adalah apa yang disebut sebagai kesombongan.

Sombong adalah perasaan dalam diri manusia bahwa ia mempunyai berbagai kelebihan tertentu dibandingkan orang lain, dimana kelebihan tersebut membuatya merasa menjadi lebih mulia sehingga harus didahulukan pendapatnya, dihormati, dan lain sebagainya.

Sikap dan sifat semacam ini menjadikan manusia cenderung memikirkan bagaimana dirinya dihargai dan dihormati orang lain, karena merasa dirinyalah yang ‘serba’ dan ‘paling’ pintar, paling keren, paling kaya dan berbagai ‘paling’ lainnya.

Kesombongan itu menimbulkan sikap angkuh dan congkak yang bisa menjadi awal dari sebuah permusuhan dengan orang-orang disekitarnya, permusuhan dengan orang-orang sekitar kita adalah cara paling baik untuk menghancurkan diri sendiri permusuhan tersebut menjadikan kita lehilangan berbagai kesempatan untuk saling tolong menolong dan bekerjasama dalam berbagai hal.

Akibatnya akan banyak potensi dan kemungkinan pengembangan diri yang terabaikan karena proses permusuhan ini. Walau tidak bermusuhan sekalipun, kesombongan dan keangkuhan akan membawa keengganan pada seseorang untuk menjalin hubungan baik dengan kita.

Akibatnya kehidupan kita akan lebih banyak dikucilkan, sehingga mengurangi proses kebahagiaan dalam hidup secara keseluruhan. Disatu sisi mungkin kita tidak secara langsung mebutuhkan orang-orang disekitar kita, tetapi alangkah lebih indahnya jika kehidupan bertetangga kita juga baik dan saling mengenal serta menghargai satu dengan yang lain.

Kesombongan juga membawa kita kepada kehancuran, karena kesombongan merupakan awal dari diri kita untuk menutupi kesadaran dan kebenaran yang timbul kesombongan karena kita merasa lebih pintar dari orang lain akan membawa pada sikap mempertahankan diri yang membabi buta, karena yang kita pentingkan adalah bahwa orang lain mengikuti ide dan pandangan kita.


Tolok ukurnya bukan lagi kebenaran, keadilan atau kebaikan, tetapi kemenangan kita Akibatnya kesombongan menutupi kebenaran yang datang kepada kita, kesombongan pada akhirnya adalah cara kita untuk menutupi segala kekurangan yang kita miliki.

Dengan kesombongan kita berharap bahwa apa yang menjadi kesalahan kita bisa tertutupi oleh kesombongan yang kita tampilkan Kita berpura-pura terhadap suatu hal untuk menutupi hal lain.

Karena itulah mahfudzot diawal kalimat membuka kesadaran kita untuk sedapat mungkin menjauhi sikap dan sifat sombong dalam diri kita, karena sebenarnya sikap tersebut menipu kita dengan atau tanpa kita sadari.

Kita menipu diri sendiri bahwa kita tahu padahal kita tidak tahu, atau kta menipu diri sendiri seakan akan kita bisa, padahal kita tidak bisa.

Seperti sebuah gelas yang sudah terisi air, orang-orang sombong tidak akan pernah mau menerima pengetahuan dari orang lain, karena merasa dirinya sudah penuh dan tidak ada lagi yang perlu dipelajari.

Padahal dengan kemajuan dan percepatan zaman yang demikian dahsyat, belajar dan menerima pengetahuan terus menerus akan menjadi dasar untuk menjalani kehidupan modern yang semakin dinamis.

Jika kita setiap hari dengan rendah hati mau membuka diri terhadap berbagai pengetahuan yang dimiliki orang lain, kita akan siap menerima segala ilmu dan pengetahuan baru yang datang kepada kita.

Kita akan lebih mudah dalam melakukan adaptasi dengan lingkungan dimana kita tinggal, karena kita bisa dengan segera mempelajari bagaimana pola kehidupan tersebut.

Kesiapan untuk menerima ilmu dan pengetahuan juga menjadi dasar yang kuat dalam proses seseorang menghadapi perubahan zaman yang semakin dinamis, karena bagaimanapun dunia akan terus berubah.

Tidak ada di dunia ini yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri, maka kerendahan hati kita akan membantu kita untuk menyesuaikan diri dengan baik, sehingga kita mampu bertahan hidup.


Ingatlah sahabatku, SOMBONG itu adalah HAK KEPUNYAAN ALLAH, namun IBLIS ingin memilikinya hingga ia di murkai oleh ALLAH AZZA WA JALLA …

HASBUNALLAH WANI’MAL WAKIL … NI’MAL MAULA WA NI’MANNASHIR

Kamis, 09 Oktober 2014

SEBUAH ENERGI DALAM PELUKAN



Oleh : Ketenangan Cakra Jiwa ( Syajaratul Yaqin )

Suatu hari di gua Hira, Muhammad SAW tengah ber’uzlah, beribadah kepada Rabbnya. Telah sekian hari beliau lalui dalam rintihan, dalam doa, dalam puja dan harap pada Allah Yang Menciptanya.

Tiba-tiba muncullah sesosok makhluk dalam ujud sesosok laki-laki. “Iqra!” katanya.
Muhammad SAW menjawab, “Aku tidak dapat membaca!” Laki-laki itu merengkuh Muhammad ke dalam pelukannya, kemudian mengulang kembali perintah“Iqra!”

Muhammad SAW memberikan jawaban yang sama dan peristiwa serupa pun terulang hingga tiga kali. Setelah itu, Muhammad SAW dapat membaca kata-kata yang diajarkan lelaki itu. Di kemudian hari, kata-kata itu menjadi wahyu pertama yang yang diturunkan Allah kepada Muhammad SAW melalui Jibril, sang makhluk bersosok laki-laki yang menemui Muhammad SAW di gua Hira.

Sepulang dari gua Hira, Muhammad SAW mencari Khadijah isterinya dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!”. Ia gemetar ketakutan, dan saat itu, yang paling diinginkannya hanya satu, kehangatan, ketenangan dan Kepercayaan dari orang yang dicintainya. Belahan jiwanya. Isterinya. Maka Khadijah pun menyelimutinya, memeluknya dan mendengarkan curahan hatinya. Kemudian ia menenangkannya dan meyakinkannya bahwa apa yang dialami Muhammad bukanlah sesuatu yang menakutkan, namun amanah yang akan sanggup ia jalankan.

Salah satu pengakuan dari Jamaah Ketenangan Cakra Jiwa ….Suatu hari dalam sebuah pelajaran mengenali diri. Sang Guru tengah mengajarkan berbagai terapi penyembuhan permasalahan kejiwaan. Dari semua terapi yang diberikan, selalu diakhiri dengan pelukan, baik antar sesama Jamaah maupun oleh Sang Guru (kusus  sesama jenis).

Menurut jamaah, pelukan adalah sebuah terapi paling mujarab hampir dari semua penyakit kejiwaan dan emosi. Pelukan akan memberikan perasaan nyaman dan aman bagi pelakunya. Pelukan akan menyalurkan energi ketenangan dan kedamaian dari yang memeluk kepada yang dipeluk. Pelukan akan mengendorkan urat syaraf yang tegang. Rizal yang saat itu menjadi salah satu jamaah, mencoba menerapkan metode pelukan kepada istrinya. Dari hal tersebut, di kemudian hari memberikan perubahan besar dalam stabilitas emosi dan kejiwaannya.

Apa yang Rizal inginkan pertama kali ketika ia sedang bersedih, marah atau apapun yang secara emosi mengguncang perasaannya?
 
Dipeluk Istri.

Yaah… Pelukan itu akan menenangkannya, membuat ia nyaman dan tenang kembali. Apa yang Rizal dan istrinya lakukan setelah cekcok pendapat? Saling memeluk. Pelukan itu akan menurunkan tensi emosi di antara mereka. Pelukan itu akan merekatkan kembali ikatan cinta di antara mereka setelah luka dan kecewa yang sempat tertoreh.
Pelukan itu, akan membuat kehidupan rumah tangga Rizal dan Istrinya menjadi semakin mesra. Segala sedih, segala marah, segala kecewa, dan segala beban hilang oleh kehangatan pelukan. Pelukan itu, kemudian tidak hanya berlaku ketika Rizal terguncang secara emosi. Setelah setahun lebih mereka menikah, pelukan telah menjadi satu kebiasaan dalam hari-hari mereka.

Hal pertama yang Rizal lakukan ketika tiba di rumah sepulang dari bekerja atau dari bepergian adalah memeluk istrinya. Memeluknya erat-erat. Itu saja. Tak Lebih.
Hal pertama yang Rizal inginkan ketika ia bangun dari tidur adalah memeluk dan dipeluk oleh istrinya. Memeluknya kuat-kuat. Itu saja. Bukan yang lainnya.

Jika mereka bangun pada jeda waktu yang tak sama, maka ‘hutang’ kebiasaan itu dilakukan setelah shalat lail atau shalat subuh.


Jika mereka tidur di kamar yang berbeda, biasanya menjelang subuh atau habis shubuh, salah satu dari mereka akan menyusul ke tempat yang lainnya. Hanya untuk satu hal saja: memeluk dan dipeluk. Saat malam menjelang tidur, mereka terbiasa tiduran dan saling memeluk, berlama-lama sambil berbincang tentang aktifitas mereka masing-masing seharian.

Ada kata-kata yang minimal tiga kali sehari saya ucapkan kepada Istrinya, “I Love U” dan “Minta peluk!” Rasanya ada yang kurang jika kekurangan pelukan dalam sehari. Pelukan memberinya rasa aman dan nyaman. Pelukan, Rizal rasakan memberikan kehangatan yang tak tergantikan oleh apapun.

Pelukan kepada orang yang kita cintai (halal) membuat kita merasa istimewa.
Pelukan memanjakan sifat kekanak-kanakan yang ada dalam diri kita. Pelukan membuat kita lebih merasa akrab dengan keluarga dan teman-teman. Kalau kita telaah pelukan membuktikan dapat menyembuhkan masalah fisik dan emosional yang dihadapi manusia di zaman serba stainless steel dan wireless ini.


Bukan hanya itu saja, para ahli mengemukakan bahwa pelukan bisa membuat kita panjang umur, melindungi dari penyakit, mengatasi stress dan depresi, mempererat hubungan keluarga dan membantu tidur nyenyak (The Aladdin Factor, Jack Canfield & Mark Victor Hansen). Helen Colton, penulis buku The Joy of Touching juga menemukan bahwa ketika seseorang disentuh, hemoglobin dalam darah meningkat hingga suplai oksigen ke jantung dan otak lebih lancar, badan menjadi lebih sehat dan mempercepat proses penyembuhan.
 
Maka bisa dikatakan bahwa pelukan bisa menyembuhkan penyakit “hati” dan merangsang hasrat hidup seseorang.

Berdasarkan hasil penelitian yang dikeluarkan oleh jurnal Psychosomatic Medicine, pelukan hangat dapat melepaskan oxytocin, hormon yang berhubungan dengan perasaan cinta dan kedamaian.

Hormon tersebut akan menekan hormon penyebab stres yang awalnya mendekam di tubuh. Hasil hasil penelitian tersebut, memberikan keterangan ilmiah atas kecenderungan dalam diri setiap manusia untuk mendapatkan ketenangan dan kehangatan melalui pelukan.

Penelitan tersebut memberikan fakta ilmiah atas besarnya energi yang dapat disalurkan melalui pelukan.

Sayangnya, banyak dari kita dibesarkan dalam rumah yang di dalamnya pelukan adalah sesuatu yang tidak lazim, dan kita mungkin merasa tidak nyaman minta dipeluk dan memeluk. Kita mungkin pernah digoda sebagai “si anak manja” jika sering memeluk atau dipeluk Ayah, Ibu atau saudara kandung kita.

Dan jadilah kita atau remaja-remaja kita saat ini, tumbuh dengan kekurangan energi pelukan. Bisa jadi, kekurangan energi pelukan oleh keluarga dan orang yang dicintai  ini adalah termasuk salah satu faktor yang menyebabkan maraknya kasus ketidakstabilan emosi manusia seperti yang terjadi belakangan ini: tingginya angka kriminalitas dan narkoba pada golongan anak dan remaja, kesurupan di berbagai sekolah dan sebagainya.
Dan bisa jadi, sesungguhnya solusi untuk mengurangi berbagai permasalahan itu sebenarnya sederhana saja: Pemberian pelukan kasih sayang yang banyak kepada anak-anak dari orang tuanya.

Bukankah Rasulullah sangat gemar memeluk isteri, anak, cucu, dan bahkan anak-anak kecil di lingkungannya dengan pelukan kasih sayang?
Bahkan pernah ada satu kisah ketika Rasulullah mencium dan memeluk cucunya, seorang sahabat menyatakan bahwa hingga ia punya 10 orang anak, tak satu pun yang pernah ia curahi dengan peluk cium.

Rasulullah bersabda, “Sungguh orang yang tidak mau menyayang (sesamanya), maka dia tidak akan disayang.” (riwayat Al-Bukhari)




HIKMAH



Oleh : Ketenangan Cakra Jiwa ( Syajaratul Yaqin )


Hikmah - ialah ilmu di dalam ilmu, .... ilmu yang tidak terdapat di dalam kitab. Artinya orang yang di beri hikmah itu diberi faham oleh Allah sehingga dia faham jalan fikiran, hati, ruhani, atau bathin .

Dia faham hal-hal ruhani, nafsu, ruh, dan akal manusia .. artinya orang yang mendapat ilmu hikmah ini, dia diberi ilmu dan kefahaman oleh Allah secara langsung melalui ilham.

Dalam ayat lain Allah berfirman :



Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. QS. Al-'Ankabuut (Al-'Ankabut) [29] : ayat 43

Inilah ilmu hikmah atau kefahaman yang Allah beri secara langsung ke dalam hati kita.  Artinya setelah ada ilmu yang asas ( ilmu dasar ), dia diberi ilmu dan kefahaman lain oleh Allah. Ilmu asas mesti ada jika hendak berdakwah atau mendidik orang secara berkesan, para juru dakwah dan para guru semestinya juga harus mendalami ilmu hikmah , agar tidak sekedar ingin mendapat pahala atau sumber kehidupan.

Di sinilah kekurangan para juru dakwah dan pendidik sekarang ini. mereka tidak di berbekal ilmu hikmah... sebab Allah memberikan ilmu hikmah hanya kepada orang yang bertaqwa. karena tidak ber-hikmah, maka para juru dakwah dan para guru tidak faham jalan fikiran, hati, ruhani, akal, perasaan atau bathin seseorang, sehingga sasaran dakwah dan murid-murid akan sulit untuk di arahkan menuju kepada kebaikan.

Apakah itu Taqwa?
Taqwa bukan sekedar telah mengucapkan 2 kalimah syahadah, sholat, zakat, puasa dan haji saja,.... taqwa adalah himpunan sifat-sifat baik yang ada dalam diri manusia, baik terhadap Allah maupun terhadap sesama makhluk yang semata-mata hanya untuk mencapai ridha dan kasih sayang Allah.

Diantara sifat baik terhadap Allah adalah : rasa berTuhan yang tajam, rasa cinta, takut, rindu, tawakkal, mengharap dengan Allah, rasa di awasi, diperhatikan oleh Allah, melaksanakan semua yang diperintah dan dianjurkan oleh Allah dan meninggalkan semua yang dilarang dan dibenci oleh Allah, semata-mata hanya untuk mencapai ridha dan kasih sayang Allah.

Diantara sifat baik terhadap sesama makhluk dan manusia adalah : pemurah, kasih sayang, bertoleransi, tolong menolong, pemaaf, sabar dan lain-lain yang semuanya dibuat semata-mata hanya untuk mencapai ridha dan kasih sayang Allah.

Galilah sumur-Nya dan temukan air-Nya ...

Apabila Anda menggali sumur, Anda harus menggalinya jauh ke dalam sampai menemukan sumber mata airnya dapatkah sumur itu penuh tanpa mencapai sumber yang dalam itu? Bila Anda bergantung pada hujan atau sumber luar lain untuk mengisi sumur itu, maka air itu hanya akan menguap atau diserap oleh tanah. Lalu, bagaimana Anda dapat membasuh diri Anda atau menghilangkan dahaga Anda? Hanya jika Anda menggali cukup dalam untuk mendapatkan mata air, maka Anda akan sampai pada sumber air yang tak habis-habisnya.

Demikian juga halnya, jika Anda hanya membaca ayat-ayat dari kitab suci, tanpa menggali lebih dalam untuk mencari maknanya, hal itu seperti menggali sebuah sumur tanpa mencapai mata airnya atau seperti mencoba mengisinya dengan air hujan, kedua cara ini tidak akan memadai hanya apabila Anda membuka mata air yang ada di dalamnya dan ilmu Tuhan mengalir dari sana, maka mata air sifat-sifat Tuhan akan mengisi hatimu.

Hanya setelah itu Anda dapat menerima kekayaan-Nya hanya setelah itu Anda akan mendapatkan kedamaian dan ketenangan, kearifan dan ilmu Tuhan ini harus timbul dari dalam diri Anda kisah Tuhan dan doa mesti dipahami dari sisi batin, maka Anda akan memperoleh semua yang Anda butuhkan untuk diri Anda, dan Anda juga akan merasa cukup untuk berbagi dengan orang lain.

Allah Azza wa Jalla berseru kepada hamba-Nya

Wahai hamba !
Engkau tidak memiliki sesuatu apapun
kecuali yang Aku kehendaki untuk menjadi milikmu.
Tidak juga engkau memiliki jiwamu, karena Aku lah Penciptanya
Tidak pula engkau memilik jasadmu, karena Aku lah yang Membentuknya
Hanya dengan pertolongan-Ku engkau dapat berdiri
dan hanya dengan kalimat-Ku engkau datang ke dunia ini.

Wahai hamba !
Katakanlah tiada Tuhan melainkan Allah
Kemudian tegak berdiri di jalan yang benar
Maka tiada tuhan melainkan Aku
Dan tiada pula wujud sebenarnya kecuali untuk-Ku
Dan segala sesuatu yang selain daripada-Ku
Adalah buatan tangan-Ku dari tiupan Ruh-Ku

Wahai hamba !
Segala sesuatu adalah kepunyaan-Ku, bagi-Ku, dan untuk-Ku
Jangan sekali-kali engkau merebut apa-apa yang menjadi kepunyaan-Ku
Kembalikan segala sesuatu kepada-Ku
Niscaya akan Ku buahkan pengembalianmu dengan tangan-Ku
Dan Ku tambahkan padanya dengan kemurahan-Ku
Serahkan segala sesuatu kepada-Ku
Niscaya Ku selamatkan engkau dari segala sesuatu

Ketahuilah, bahwa hamba-Ku yang terpercaya
Adalah yang mengembalikan segala yang selain-Ku kepada-Ku
Tengoklah dengan pandangan yang tajam kepada-Ku
Bagaimana caranya Aku melakukan pembagian
Niscaya engkau akan melihat bahwa pemberian dan penolakan
Merupakan dua bentuk yang dinamakan
Agar dengan demikian engkau dapat mengenal Aku

Wahai hamba!
Sesungguhnya engkau telah melihat Aku sebelum dunia terhampar
Dan engkau mengenal siapa yang engkau lihat
Dan hanya kepada-Ku lah engkau akan kembali

Kemudian Aku ciptakan segala sesuatu untukmu
Dan Aku labuhkan tirai hijab atasmu
Lalu engkaupun tertutup dengan tirai dirimu sendiri
Kemudian Aku menghijab engkau dengan diri-diri yang lain
Yang mana diri-diri yang lain itu menyeru kepadamu
Juga pada dirinya masing-masing
Sehingga menjadi penghijab-penghijab daripada-Ku

Setelah kesemuanya itu
Maka Aku pun kembali menyata dibalik kesemua itu
Dan dari balik semua itu Ku perkenalkan kembali Diri-Ku
Ku katakan kepadamu bahwasannya Aku lah Maha Pencipta!

Aku yang mencipta semua itu
Dan bahwasannya Aku menjadikan engkau khalifah atas kesemuanya itu
Dan ketahuilah bahwa kesemuanya itu adalah amanah (titipan) pada sisimu
Dan diwajibkan bagi si pengemban amanah untuk mengembalikannya

Maka telitilah dirimu
Setelah engkau mempercayai-Ku
Sudahkah engkau mengembalikan segala sesuatu itu kepada-Ku?
Sudahkah engkau memenuhi perjanjian yang telah engkau buat dengan-Ku?

Wahai hamba!
Aku ciptakan segala sesuatu itu untukmu
Maka bagaimana Aku akan rela
kalau engkau peruntukkan dirimu bagi sesuatu itu
Sesungguhnya aku melarang engkau untuk menggantungkan dirimu
Pada sesuatu selain-Ku
Karena Aku adalah pencemburu padamu
Dan karena Aku pencemburu padamu

Wahai hamba !
Aku tidak rela engkau peruntukkan dirimu bagi sesuatu
Walaupun harapanmu akan surga sekalipun
Karena sesungguhnya Aku ciptakan engkau hanya untuk-Ku
Supaya engkau berada disisi-Ku
Disisi yang tiada sisi
Dan dimana yang tiada mana

Ku ciptakan engkau atas pola gambaran-Ku
Seorang diri, tunggal, mendengar, melihat
dan berkemauan serta berbicara
Dan Aku jadikan engkau mempunyai kemampuan
untuk tajallinya nama-nama-Ku
dan tempat untuk pemeliharaan-Ku

Engkau adalah sasaran pandangan-Ku
Tiada dinding penghalang yang memisahkan
Antara-Ku adan antaramu
Engkau teman duduk semajlis dengan-Ku
Maka tiada pembatas antara Aku dan engkau

Wahai hamba !
Tiada antara-Ku dan antaramu
Aku lebih dekat daripada dirimu sendiri
Aku lebih dekat dari ucapan lisanmu
Maka pandanglah Aku
Karena Aku senang memandang kepadamu


Kita mengenal istilah Iman, Islam dan Ihsan, yang pada hakekatnya adalah suatu proses perjalanan pengalaman keberagamaan kita yang berjenjang dari tingkat Iman, terus ke tingkat Islam dan mencapai puncaknya ke Tingkat Ihsan.

Tingkat pertama yang harus dijalani adalah Tingkat Iman, yaitu dimana seseorang harus mengimani apa yang termaktub dalam rukun iman, yaitu iman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Hari Kiamat-Nya dan Takdir-Nya.



Iman artinya percaya. Logikanya, keimanan atau kepercayaan itu akan tumbuh dalam diri seseorang, kalau dia sudah membuktikan apa yang di imaninya, inilah yang dinamakan Isbatul Yakin = Keyakinan berdasarkan bukti secara langsung.
Diantara kita kadang mengimani keberadaan rukun Iman itu, hanya berdasarkan kata-kata yang didengar melalui telinga, misalnya dari kecil kita sudah mendengar kata “Allah”, “Malaikat”, “Rasul” dan lain sebagainya, kemudian hal tersebut diyakini keberadaannya, padahal kita selama ini belum pernah melihat Allah, Malaikat-Nya dan Rasul-Nya.
Inilah yang disebut dengan iman berdasarkan pendengaran. Sehingga pengalaman keberagamaan kita hanya sebatas pendengaran saja atau yang disebut dengan Agama Samawi.

Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan iman kita dari hanya sebatas mendengar ke tingkatan Iman berdasarkan Isbat, sehingga kita menjadi orang yang shaleh dalam bidang Spiritual.


Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. [ QS Al Haj (22) : Ayat 11 ]

Tingkat kedua yang harus dijalani adalah Tingkat Islam, yaitu dimana seseorang yang telah beriman kepada apa yang termaktub dalam rukun Iman berdasarkan Isbat, mulai menjalankan rukun Islam, yang termaktub dalam rukun Islam yaitu Syahadat, Sholat, Zakat, Shaum dan Haji.

Islam mempunyai arti Damai, Pasrah dan Lunas Hutang. Semua ritual Islam itu pada hakekatnya adalah simbol-simbol yang menjembatani antara dunia spiritual/keimanan ( Keshalehan Spiritual ) dengan dunia Sosial/keihsanan ( Keshalehan Sosial ).

Diantara kita kadang ada yang melakukan ritual Islam yang termaktub dalam rukun Islam, hanya sebatas untuk menggugurkan kewajiban saja, sehingga hakekat tujuan akhir dari simbol-simbol ritual Islam tersebut, tidak tercapai.

Misalkan, kita sering bersyahadat tapi bersyahadat palsu, bersholat tapi tidak terhindar dari perbuatan keji dan mungkar, berzakat, tapi tidak membersihkan       ( menzakatkan ) diri dari sifat2 tidak terpuji. Bershaum, tapi tidak bisa menahan diri dari perilku negatif. Berhaji, tapi tidak berbuat kemabruran ( Kebajikan ).
Sehingga akhirnya walaupun kita sering melakukan ritual rukun Islam dengan baik dan teratur, tetapi kita tidak juga menjadi orang yang baik ( Ihsan ). Oleh karena itu marilah kita, tingkatkan KeIslaman kita ketingkat yang lebih tinggi yaitu ke Tingkan Ihsan.




Ihsan

Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah swt. Sebab ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat dimata Allah swt. Rasulullah Saw. Pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia. Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari aqidah dan bagian terbesar dari keislamannya karena, islam di bangun atas tiga landasan utama, yaitu iman, islam, dan ihsan, seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah Saw.dalam haditsnya yang sahih . Hadits ini menceritakan saat Rasulullah Saw. Menjawab pertanyaan malikat jibril – yang menyamar sebagai seorang manusia – mengenai iman, islam, dan ihsan. Setelah jibril pergi, Rasulullah Saw. Bersabda kepada sahabatnya, “ inilah jibril yang datang mengajarkan kepada kalian urusan agama kalian.” Beliau menyebut ketiga hal diatas sebagai agama, dan bahkan Allah Swt. Memerintahkan untuk berbuat ihsan pada banyak tempat dalam Al-qur’an
 

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.  (Qs Al-baqarah (2) :195)

“ Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan . . . .”(Qs. An-nahl : 90 )

Pengertan ihsan
Ihsan berasal dari kata hasana yuhsinu, yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk masdarnya adalah ihsanan, yang artinya kebaikan. Allah Swt. Berfirman dalam Al-qur’an mengenai hal ini.

” Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri . . .”(Al-isra’:7)

“Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) seperti halnya Allah berbuat baik terhadapmu . . “(Qs AL-Qashash: 77).

Ibnu katsir mengomentari ayat diatas dengan mengatakan bahwa kebaikan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan kepada seluruh mahluk Allah Swt. Tanpa memandang jenis Agama, Bangsa, Ras, bentuk atau lainnya

Hai sekalian orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kafah...... ” [ QS : 2 : Ayat 208 ]