Selasa, 07 Agustus 2018

Q.S. AL BAQOROH 1 - 3


Di warung mak Narti tampak jelas warga berkumpul dengan wajah yang sangat serius, pak RW selaku yang tertua di kelompok tersebut berkata-kata dengan sangat hati-hati “Coba bapak-bapak sekalian, kita ingat kembali isyaroh mbah Qodim yang berkata GERHANA sebelum PURNAMA … beberapa malam ini saya bertafakur mencari jawabannya, dan Subhan Allah … salah satunya saya temukan dengan adanya bencana di wilayah bangsa kita ini, dimana salah satu putra kebanggaan disana sempat menuju cahaya purnama sempurna .. namun sepertinya purnama itu keburu didahului oleh gerhana, maka jika beliau tersentuh isyarat alam... maka beliau tidak akan ikut pesta besar-besaran di saat orang-orang di sekelilingnya sedang menangis”.

Semua warga Nampak berfikir mencerna kata-kata pak RW, lalu pak RT berkata “Itu baru salah satunya pak RW?”, pak RW pun menengok “Yah … salah satunya, tetapi ini hasil tafakur saya, tentang benar tidaknya jangan bapak-bapak jadikan kesimpulan, itu karena saya ingin belajar dari mbah Qodim akan penilaiannya kepada dunia dan akhirat, semua seperti teta-teki saja …”.

Mak Narti mendekat sambil mengantar kopi para pemesannya “Sebelum bapak-bapak akrab dengan mbah Qodim, saya sudah banyak melihat isyaroh-isyaroh mbah Qodim kepada santri-santrinya yang kini sudah pada merantau, dari isyaroh zaman batu akik sampai zaman ngetril … semua ternyata terjadi pada bangsa ini”.

“Benarkah itu mak?” Tanya pak RT serius, mak Narti yang ditanya bukannya menjawab tetapi melengos pergi.

Pak RW mulai berkata “Begini bapak-bapak, saya ingin ngetes mbah Qodim, tetapi ini semua untuk mengetahui siapa mbah Qodim sebenarnya”. Lalu pak RW memanggil mak Narti “Mak nanti pas mbah Qodim datang, tolong beri beliau kopi tetapi jangan kasih gula, beri garam 3 sendok ya!” Mak Nartipun tidak menyetujuinya, namun karena desakan warga akhirnya mak Narti mengangguk sambil berkata “Kalau mbah Qodim tahu sebelum meminumnya apa yang akan pak RW lakukan?”

Pak RW terdiam lalu menjawab “Saya akan guling2 di jalan sana sebagai konsekwensinya mak”. Warga yang mendengarnyapun pada tersenyum.

15 menit berikutnya mbah Qodim mulai terlihat mendekati warung mak Narti, semua mulai membenahi tempat duduk masing-masing, di belakang mak Narti membuatkan kopi spesial buat mbah Qodim … segelas air panas, setengah sendok kopi dan 3 sendok garam.

Setelah mengucapkan salam dan dijawab warga mbah Qodim duduk diantara warga, mak Narti mulai menghidangkan kopinya, tidak seperti biasa … begitu kopi diletakkan di depan mbah Qodim, orang tua tersebut langsung memegangnya dan membaca doa lalu meminumnya sedikit, setelah minum mbah Qodim tampak diam sambil memandangi kopi yang baru diminumnya … sesaat terlihat hening, lalu pak RW bertanya “Ada apa mbah?” … dengan wajah polos mbah Qodim menjawab “Kopi ini rasanya asin pak RW”. Tiba-tiba warga pun tertawa cekikikan, diantara tertawa paling keras adalah tertawa pak RW yang terlihat lepas ….

Pak RW “Waah maaf mbah … ini kelakuan saya … yah semua demi mempererat dan pemperdekat hubungan kita mbah hehehhe”. Tak lama mak Narti sudah memberikan kopi gantinya, sementara kopi yang berisi 3 sendok garam dipinggirkan di samping kopi pengganti, saat mau di bawa ke belakang, mbah Qodim melarangnya “Jangan mak, kasihan mubazir, nanti pasti aka nada yang meminumnya sampai habis!”. Walau tidak mengerti tetapi mak Narti tetap menuruti kata-kata mbah Qodim.

Pak RW “Sekali lagi kami mohon maaf mbah? Kami tadi dapat ide ini karena mbah Qodim seneng buat teka-teki sih”.

Mbah Qodim tersenyum “Hehhee boten nopo-nopo pak RW, saya senang melihat tawa pak RW, seandainya saya tidak minum kan pak RW tidak akan tertawa sebahagia itu, pak RW mungkin sedang menahan malu karena guling-guling di jalanan sana”.

Kata-kata mbah Qodim tiba-tiba membuat pak RW pucat, warga lainnya hendak tersenyum namun menahannya.

Pak RW “Eh … kok saya guling-guling mbah … hehhe … (sambil memalingkan pembicaraan) ini mbah tentang gempa … yah gempa … itu saya fikir ada kaitannya dengan teka-teki mbah ?”

Mbah Qodim memandang pak RW “Sudahlah, jangan kaitkan apapun dengan omongan mbah, pak RW, tidak baik, yang sudah yah sudah, kita doakan agar tabah dan sabar, jangan dikaitkan dengan apa-apa”.

Pak RW “Habisnya mbah suka teka-teki sih!”

Mbah Qodim “Allah SWT pun sebenarnya suka teka-teki bapak-bapak sekalian … coba lihat Surat Al Baqoroh … surat pertama dalam Al Quran namun dimulai dengan teka-teki … ALIF … LAM .. MIM … dibaca terjemahan tetap Alif Lam Mim … atau ditulis terjemahannya hanya Allah yang Tahu … padahal setiap surat yang dimulai dari ayat teka-teki selalu butuh keimanan dan pemikiran untuk merenunginya …”

Pak RT “Terus mbah ?”

Mbah Qodim “Alif Lam Mim … jika kita renungkan bahwa Allah ingin kita mencari maknanya … mengapa dimulai dengan huruf Alif ? …. Alif itu SATU atau ESA … atau AHAD … jadi walaupun kita belum mengetahui isi Al Quran kita terlebih dahulu di ajak untuk mengesakan NYA … lalu Lam … Latifah … lembut … yah dalam arti tidak dapat dilihat .. diraba .. ataupun lainnya … namun MIM … Ma’rifat … harus kita kenal … jadi Alif Lam Mim mengajarkan jiwa kita untuk mengenal Sang Maha Esa yang tak terlihat oleh panca indera karena maha lembut … namun keberadaannya akan terlihat pada ALIF LAM MIM apabila kita baca alam …. Karena mustahil adanya alam jika tidak ada yang menciptakannya …”

“Lalu mbah?” pak RT mulai serius.

Mbah Qodim “Saat melihat alam ini maka Esakan DIA .. lembutlah kepada alam ini dan kenali alam maka kita akan semakin mengenali yang ESA dan tidak terlihat tersebut?”

Pak RW “Bagaimana cara mengenalnya mbah?”

Mbah Qodim “Baca ayat keduanya … Dzalikal kitabula Roibafihi … Jangan Ragukan Al Quran … jangan ragukan untuk apa ? Huda …jadikan Al Quran sebagai petunjuk arah kehidupan kita … petunjuk untuk menjadi orang yang muttaqin … “.

Pak RW “Orang Muttaqin itu orang yang bagaimana mbah ?”

Mbah Qodim “ Orang-orang yang percaya …”

Pak RT “Bagaimana mbah agar bisa kita mempercayai yang ESA dan lembut tersebut melalui Al Quran … lalu bagaimana agar kita bisa menjadi Muttaqin atau percaya? Apa syarat untuk menjadi orang muttaqin dan siapakah orang muttaqin tersebut?”

Mbah Qodim “ Ayat ketiga Alladzi …yaitu … orang muttaqin yaitu nayu’minuna bilghoib … orang-orang yang percaya pada yang GHOIB … mengapa karena Allah SWT itu ghoib … malaikat itu ghoib … pahala .. dosa bahkan sampai ke neraka dan syurga itu juga pekara yang ghoib …”

Pak RW “Benar-benar sulit yah bah ..kita harus percaya pada yang Ghoib itu … lalu bagaimana mbah agar kita bisa tahu yang ghoib tersebut ?”

Mbah Qodim “Wayuqimunashsholah .. dirikanlah sholat … nah disinilah yang akan kita buka selanjutnya … mendirikan sholat … dan jangan hanya mengerjakan sholat … berbeda antara MENDIRIKAN dan MENGERJAKAN … tetapi nanti kita bahas selanjutnya … lalu sebagai manusia yang memiliki kehidupan diri sendiri dan dunia luar maka mendirikan sholat tidak akan cukup untuk mengenal Allah SWT jika tidak dilengkapi dengan wamimma rozaqnahum yu(n)fiqun ..  dan memberikan sebagian rezeki yang dianugerahkan kepadanya … jadi saat kita sholat itu untuk diri kita sendiri … namun membagikan rezeki kepada sesama itu bukti kita sebagai makhluk yang hidup pada alam dunia dan memiliki kehidupan … maka kita pasti membutuhkan kebersamaan …”

Mbah Qodim berdiri setelah menghabiskan kopi miliknya lalu berkata lirih “Fikirkan saja itu dahulu bapak-bapak … ini sudah kesorean, jadi mbah buru-buru”.

Semua melongo melihat tubuh tua itu meninggalkan warung mak Narti setelah mengucapkan salam.

Pak RT “Apa mbah Qodim masih marah ya .. gara-gara kopinya diberi garam?”

Semua wargapun memaksa pak RW untuk meminum kopi yang berisi garam “Ayo coba rasakan kopi itu pak RW, gimana rasanya !! biar tahu perasaan mbah Qodim tadi... kan tadi mbah bilang tidak boleh mubazir!”

Perlahan pak RW mulai memegang kopi yang diudek dengan 3 sendok garam, dengan membaca Bismillah pak RW memjamkan matanya, lalu ‘sruuup’ ia menyeruput kopi tersebut, mata pak RW terbelalak, semua wargapun semakin penasaran … “Gimana rasanya pak RW hehehhe”.

Pak RW memandangi kopi yang ia pegang “Manis pak, tidak asin”

Warga yang tidak percaya satu persatu menyicipi kopi tersebut sampai keampas-ampasnya … semua merasa takjub mengapa kopi tersebut rasanya manis. Mak Narti yang melihat hal tersebut langsung mendekat dan merebut gelas miliknya … lalu membawanya ke belakang, di belakang secara sembunyi-sembunyi mak Narti mencicipi sisa setetes kopi yang melekat pada ampas kopi tersebut … fikirannya mulai berperang antara kenyataan dan mimpi … bagaimana mungkin kopi yang ia buat dengan campuran 3 sendok garam menjadi manis rasanya.

Senin, 06 Agustus 2018

TA’AWUDZ


Pagi jam 09.00 Adri sudah sampai di rumah mbah Qodim, rumah kecil sederhana dengan dinding bambu menjadikan rumah tersebut terasa seperti sebuah tempat peristirahatan yang menjauhkan diri dari kilauan dunia, beberapa kali mengucapkan salam, Adri belum mendapatkan jawaban, akhirnya ia melangkah ke belakang rumah mbah Qodim, Adri melihat tanaman sayuran tertanam rapi, beberapa kolam dihiasi ikan air tawarpun menjadi pemandangan yang indah, di ujung belakang halaman terlihat pohon kopi coklat yang rimbun, seorang tua sedang duduk di bawah dedaunan pohon tersebut asyik hanyut dalam sebuah aktifitas.

“Assalamu’alaikum, mbah” Adri mengucapkan salam.

 Mbah Qodim yang sedang asyik mengupas biji kopi coklatpun menengok dan membalas salam tersebut “Wa’alaikumussalaam, eh nak Adri, mari kemari”.

Kelalakuan mbah Qodim ini semakin menjadikan dirinya ingin lebih dekat lagi dengan mbah Qodim, bagaimana tidak, sesantai-santainya mbah Qodim, pria tua itu berusaha berdiri menyambut tamunya lalu mengajaknya untuk duduk di bawah rindangnya pohon kopi coklat yang bisa dijadikan titik pandangan ke beberapa kolam dan tanaman sayuran.

“Lagi apa nih mbah?” Adri mulai membuka omongan.

Mbah Qodim “Ini nak, mbah panen biji kopi coklat hehehe, walau cuma 2 pohon, tapi bila kita menjadikannya sebagai bentuk rizki yang diberikan Allah SWT maka melihatnya saja sudah mendapatkan kebahagiaan, nah nak Adri sendiri kok tumben kemari?”

 Adri “Ini mbah, pingin silaturrahmi ke rumah mbah, dan keduanya saya ingin mengabarkan bahwa liburan saya sudah habis, jadi sekalian saya mau pamit sama mbah”.

Mbah Qodimpun mantuk-mantuk, terlihat wajah tuanya menyimpan rasa sedih, “Semoga Allah selalu bersama dirimu nak”.

Adri “Aamiin, terima kasih mbah, rencana saya pulang ke kota nanti malam, tetapi sebelum berangkat saya ingin minta nasehat khusus dari mbah, karena situasi saat ini banyak sekali yang menimbulkan kebingungan, kususnya dalam penjabaran agama kita ini mbah, kenapa banyak sekali perdebatan akhir-akhir ini”.

Mbah Qodim “Ya ya ya, mungkin karena Negara kita sedang pesat-pesatnya terbuka segala informasi nak, bila nak Adri bertemu siapa saja yang senang berdebat, apalagi tentang Agama kita, jawab saja GURUMU BENAR, GURUKU YO BENAR … karena masing-masing guru saat mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya PASTI tidak akan berkata ILMU YANG KITA PUNYA ini paling benar, atau seorang guru tidak akan mungkin berkata kalau bukan seperti ajaranku maka yang lain itu salah, nah, murid inilah yang baru dapat ilmu dari gurunya sering bertemu dengan murid dari guru lainnya .. lalu 1 pelajaran yang sama akan menjadi sebuah perdebatan, mbah gambarkan, di satu sekolahan ada kelas X jumlah kelasnya ada 8 …. Disana ada 2 guru yang mengajarkan pelajaran Matematika, katakan saja X1-X4 Guru A dan X5-X8 Guru B, pelajarannya sama namun cara mengajarkannya berbeda, eh murid kok pada berantem hehhee kan aneh”.

Adri “Enggeh mbah, memang seperti itulah yang terjadi, lalu bagaimana kalau ada guru yang menyalahkan orang lain?”

Mbah Qodim “Berarti dia belum saatnya jadi guru”.

Adri menunduk “Berarti menjadi guru itu sulit yam bah?”

Mbah Qodim “Hehehe ya tidak juga, bagaimana cara kita menyikapinya saja nak, siswa kelas X saat mengajari siswa kelas IX pun saat itu bisa dikatakan sebagai guru, guru untuk adik kelasnya, wong anak SD saja pas mau ngajari anak PAUD hakekatnya saat itu ia sudah menjadi guru kok, namun ADAB mengajar itu yang sering terlupakan, maka walau jenengan sudah bisa ngajari orang lain tetapi masih melihat kejelekan dari ajaran lain orang, maka sebenarnya panjenengan belum bisa menjadi guru, tetapi harus mencari dan mencari guru lagi hhehehe”.

Adri “Iya mbah, lalu bagaimana supaya kita bisa menjadi guru, minimal untuk diri sendiri dan keluarga?”

Mbah Qodim memandang serius ke wajah Adri lalu bibir tuanya mulai berucap “Fahami dan laksanakan Makna Ta’awudz dengan sebenar-benarnya ….”

Adri “Maksudnya A’udzubillahi minasy-syaithoonirrojiim mbah ?”

Mbah Qodim “Ya nak Adri, tahu artinya?”

Adri “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk mbah”.

Mbah Qodim “Bener, nah mungkin mayoritas tahu artinya, namun tak bayak yang tahu maknanya, doa tersebut sebenarnya berasal dari QS An Nahl 98 … tetapi nanti pelajaran itu akan mbah kupas, namun saat ini mbah hanya singgung saja batasan yang disini, Ta’awudz ini adalah bentuk sebuah niat dan usaha bagaimana kita ingin memohon perlindungan kepada Allah SWT dari godaan syetan yang terkutuk …. Namun seringkali justru kita kebalikannya ... meminta perlindungan kepada syetan dari sifat Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Adri “Kok begitu mbah?”

Mbah Qodim “Hehehehe iya nak, coba sekarang mbah gambarkan, saat orang sedang berdebat, walaupun sebenarnya sedang membahas topik agama, mereka memenuhi hati mereka dengan rasa sesak dan panas di dada saat mendengar ucapan lawan bicaranya, sehingga dari pancaran mata bahkan lisannya terlihat jauh dari sifat Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mereka hanya ingin menang sendiri, ingin pengakuan bahwa apa yang ia ungkapkan adalah sebuah KEBENARAN yang mutlak, tak jarang kata-kata TABU terucap, KAFIRlah, MURTADlah, SESATlah dan yang lain-lain pokoknya, sifat welas asih saat itu justru jauh dari hati mereka, yang ada adalah singgasana SYETAN dalam dada yang terus menjauhkan prilaku mereka dari sifat-sifat ALLAH SWT….”

Adri Nampak mulai merenungi kata-kata mbah Qodim, ia memutar kembali memori rekaman otak miliknya saat melihat banyaknya perdebatan dalam hal menyajikan agama … embel-embel berjudul KEBENARAN.

Mbah Qodim “Makanya dalam kisah Wali Songo saat menyidang Syeh Siti Jenar, ketika para Wali mulai masuk kedalam TOPIK utama tentang kebenaran menurut keilmuan yang merka punyai, Wali tertua menghentikan sidang, beliau bilang, SAUDARAKU SEKALIAN, TAMPAKNYA SYETAN MULAI BERTENGGER DI HATI KITA … bla bla bla …. Nah Para Wali yang sudah mapan keilmuannya maka semuanya membaca ta’awudz dan Istighfar …. lalu menghentikan dahulu perdebatan … sampai syetan hengkang dari hati mereka... coba kalau kita, hehhee gebrak meja, caci maki dan perbuatan yang jauh dari Sifat-sifat Allah lah yang akan keluar... semua karena kita asyik dengan menetapnya syetan di hati kita”.

Adri “Injih mbah, saya akan gali makna Ta’awudz tersebut pada tindak tanduk dan prilaku saya, semoga saya akan bisa terus belajar memaknai SELAMAT/ISLAM yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah SAW, terakhir nih mbah, sebenarnya saya dapat pesan dari orang yang dekat sama mbah, orang tersebut pesan ke saya bahwa apabila bertemu dengan mbah Qodim yang kesehariannya bertafakur membaca tanda-tanda alam … bahwa mbah dulu pernah berkata kepada beliau semua kejadian yang ada di dunia ini selalu membawa tanda-tanda … sebagai contoh mengatuk adalah tanda-tanda dari tidur walau mengantuk itu bukan mutlak berakhir tidur… namun itu sebuah tanda-tanda ALAMI yang ditunjukkan oleh Allah SWT …. Mendung tanda-tanda akan turunnya hujan, mengandung adalah tanda-tanda adanya kelahiran, bahkan KIAMATpun .. diberi tanda-tandanya …. Yang ingin saya tanyakan … adakah tanda-tanda yang sedang mbah tafakurkan?”

Mbah Qodim menatap tajam wajah Adri, lalu ia memejamkan matanya “Kemarin ….. ada gerhana bulan … ISYAROH PERTAMA … malam adalah gambaran kegelapan …. dan akan bertambah kelam … bila itu kejahatan maka akan semakin menjadi angkara murka …. bila itu kebutaan maka kecerobohan akan jadi akhirnya … jika itu kemiskinan …. maka kenestapaan akan menjadi akhirnya ….maka selalulah INGAT KEPADA ALLAH SWT, SELALU BERMOHON KEPADANYA UNTUK PERLINDUNGAN DARI SEGALA SESUATU YANG TIDAK KITA INGINKAN … Isyaroh kedua … Negara kita kebagian di sepertiga malam untuk menyaksikan gerhana tersebut … bahkan diperkuat 1 hari sebelum purnama, gerhana sudah datang … artinya … akan adanya kekecewaan sebelum selesai kepuasan … akan ada kegagalan sebelum akhir usaha … dan ada pemberhentian sebelum selesai tujuan … GERHANA … sebuah gambaran nyata tertutupnya sebuah kenyataan … namun ini hanyalah tanda-tanda … Allah lah yang menentukan segalanya … amalkan ayat terakhir surat Yasin … dan fahami maksudnya In Syaa Allah kita akan selalu kuat dalam menjaga cahaya pelita jiwa yang kian rapuh terhembus angin berbagai rupa”.

Mbah Qodim tetap menutup matanya dan berusaha menenangkan gemuruh sengal nafas di dadanya.   

Sabtu, 04 Agustus 2018

Al Insanu Mahallul khata’ wan nissiyan



“Eh bapak-bapak pada mau kemana kok rombongan nih ?” Tanya Adri melihat rekan-rekan barunya bergerombol menuju Musholla Al Latif, padahal waktu Sholat Ashar masih lama.

Pak RW menoleh sambil menjawab, “Sudah ikut saja nak Adri, ayo kita temui mbah Qodim!”

Adri akhirnya diam saja, karena ingin mengurangi beban benak difikirannya, sesampainya di Musholla Al Latif terlihat sosok Mbah Qodim sedang menyapu teras Musholla, salam rombongan diucapkan dan dibalas dengan iringan senyuman.

“Ada apa bapak-bapak, biasanya nunggu di warung Mak Narti, eh ini kok rombongan sudah ngeruduk kemari” Tanya mbah Qodim.

Sedikit tersengal pak RT membuka pembicaraan “Begini mbah, kami ingin dengar pendapat mbah tentang dua ulama yang saat ini lagi viral, itu tuh yang katanya tanpa sadar menghina Nabi?”

Mbah Qodim terlihat melengos, lalu menyapu pinggiran teras, “Saya tidak mau ikut-ikutan bapak-bapak, bukankah masalah itu sudah selesai”.

Pak RT “Iya mbah, namun kami ingin memetik hikmahnya, sudilah kiranya mbah memberikan bagaimana pandangan mbah terhadap kejadian tersebut?”.

Mbah Qodim menatap para sahabatnya, lalu meletakkan sapu ijuk ke tempatnya, lalu menuju ke tempat wudhu, walau sesungguhnya wadhu beliau belum batal, namun terlihat mbah Qodim ingin menegaskan kembali untuk bersuci sekali lagi, mungkin agar iya tidak terjebak rayuan syetan dalam mengungkapkan sudut pandangnya.

Setelah berwudhu, mbah Qodim duduk di teras Musholla dan warga segera membentuk holaqoh tanda siap mendengar pendapat mbah Qodim.

Mbah Qodim “Bapak-bapak sekalian … tahukah kenapa dalam waktu 30 malam, rembulan itu hanya 1 malam saja ia bersinar penuh?”

Seluruh warga nampaknya sudah menebak, mbah Qodim selalu membuka muqoddimahnya dengan sebuah pertanyaan perenungan, namun jurus andalan warga lebih baik diam, menggeleng atau berucap tidak tahu.

Mbah Qodim “Itulah perlambang kita semua bapak-bapak, bulan dalam 30 malam hanya sempurna di 1 malam saja, 29 malam lainnya selalu ada sisi kekurangan, sebagai manusia pernahkah kita merenungi berapa lamanya kita sempurna mengingat Allah dalam 1 harinya … berapa lamanya kita sempurna mengingat Allah dalam 1 bulannya … berapa lamanya kita sempurna mengingat Allah dalam 1 tahunnya … atau berapa lamanya kita sempurna mengingat Allah dalam perjalanan usia sampai dengan saat ini? … 1 detik kah ? 1 menit kah ? 1 jam kah ? atau berapa lamanya …. Bahkan saat berdzikir Azma Allah saja, kita masih menyisipkan baying-bayang rumah, anak, makanan dan lain sebagainya ….”

Mata para warga mulai berkaca-kaca, apabila mereka benar-benar memikirkan hal tersebut betapa malunya manusia sebagai seorang hamba di hadapan Sang Maha Pencipta.

Mbah Qodim “Ada pepatah Arab yang berbunyi Al Insanu Mahallul khata’ wan nissiyan … manusia itu tempatnya salah dan khilaf … itu mengapa Allah SWT memberikan kalimat yang mahal harganya … kalimat itu bernama ISTIGHFAR, mengapa mahal harganya, karena pasti kalimat itu tak akan putus kita ucapkan manakala kita mau menghisap prilaku kita sendiri, Hmmm, langsung saja ya, mbah juga tidak ingin masalah ini menjadi panjang dan bertaut-tautan … bila saja kita mau perbanyak ta’awudz maka kita akan mengerti betapa kodrat kita sebagai manusia tak luput dari kesalahan dan dosa … Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seluruh Bani Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa), dan sebaik-baik manusia yang banyak kesalahannya (dosanya) adalah yang banyak bertaubat.”

Pak RT “Maaf nih mbah, saya lihat klarifikasi ulama tersebut beliau selalu beristighfar dan memohon ampun akan kekhilafannya”.

Mbah Qodim “Subhan Allah wal Hamdulillah, Semoga Allah tetap menjadi Cahaya dalam hatinya”

Pak RW “Tetapi beliau juga mengatakan bahwa semua itu beliau lakukan untuk sarana pendekatan dengan para remaja yang lazim mendengar bahasa-bahasa anak muda, dan beliau juga membacakan dalil yang berasal dari QS Ibrahim ayat 4 yang berbunyi ‘Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana’.

Mbah Qodim manggut-manggut “Enggeh bapak-bapak, namun yang perlu kita renungkan, itu dimaksudkan untuk bahasa-bahasa lazim suatu kaum peradaban, contoh berhadapan dengan orang Arab gunakan ya bahasa Arab, berhadapan dengan orang Indonesia gunakan bahasa Indonesia dan sebagainya … apakah anak muda atau remaja ada bahasa sendiri ? apakah remaja tersebut harus memaksakan kita selaku pemberi nasehat mengikuti bahasa muda mudi tersebut ? In Syaa Allah muda mudi juga akan tetap mengerti dengan bahasa Indonesia yang baik, silahkan bahasa muda mudi dipakai saat membeberkan dan menerangkan sesuatu, namun saat masuk ke sebuah contoh yang menuju kepada intinya gunakan bahasa yang beradab, contohnya, di antara para Nabiyullah, Nabi Musa AS terkenal memiliki kekuatan fisik yang lebih daripada yang lainnya, atau Aisyah RA dikenal juga dengan keramahannya dalam hal berkomunikasi dengan masyarakat saat itu … semua itu kita lakukan karena kecintaan kita kepada beliau-beliau yang mulya”.

Pak RW “Kalau itu karena kekhilafan mbah …????”

Mbah Qodim tersenyum “Allah SWT terkadang menunjukakan Sayang-Nya kepada seorang hamba itu dengan menegur, DIA bisa menggunakan pelantara siapapun, atau dari mulut hamba-hamba lainnya … semua mbah lihat karena KECINTAAN ALLAH terhadap orang tersebut, teguran akan terasa indah pada akhirnya dan akan semakin meningkatkan keimananya ...walau pahit saat diteguk dan dirasakan di kala itu”.

Pak RT “Bagaimana cara agar kita tahu bahwa kekhilafan kita itu berakibat fatal atau tidak mbah bagi keimanan kita?”

Mbah Qodim “Sabda Rasulullah …. Sudah jelas bahwa kita akan selamat jika memegang teguh warisan beliau, Al Quran dan Al Hadist, perkuat kembali bahwa Rasulullah SAW hidup dalam hati sanubari kita, dahulu dalam sebuah kisah Imam Al Ghozali RA pernah mendapat ujian seperti ini, Kitab Ihya Ulumuddin karyanya di tentang oleh Imam Ibnu Hirzihim … bahkan setelah Imam Al Ghozali wafat sekalipun Imam Ibnu Hirzihim tetap ingin membakar kitab Ihya Ulumuddin yang beliau anggap penuh dengan kesesatan dan khurofat, bahkan ada sholawat yang dianggap melecehkan Nabi Muhammad SAW, sholawat tersebut menyebutkan Muhammad yang UMMIYYI …. dengan mengumpulkan seluruh ulama saat itu beliau berencana akan membakar pada hari Jumat, Subhan Allah … Allahumma Sholli ‘ala sayyidina Muhammad, walau Imam Al Ghozali RA sekalipun sudah meninggal namun jiwanya selalu hidup dan memenuhi hatinya dengan Cahaya Rasulullah SAW, maka sebelum hari pembakaran Imam Ibnu Hirzihim bermimpi melihat Iman Al Ghozali RA menghadap Rasulullah SAW yang saat itu ditemai oleh Sayyidina Abu Bakar RA dan Sayyidina Umar RA memohon mengkaji kitab karyanya, Dalam mimpi tersebut Rasulullah SAW membaca kitab Ihya Ulumuddin dari awal sampai akhir, bahkan sempat tersenyum saat membaca ‘Allahumma Sholli 'ala Sayyidina Muhammadin Nabiyil Ummiyi Wa 'ala Alihi Wa Shohbihi Wa Sallim’ lalu memberikan kepada Sayyidina Abu Bakar RA dan Sayyidina Umar RA untuk membacanya juga, beliau berkata “Demi Allah, buku ini sungguh mulia“ lalu kedua sahabat beliau berkata pula “Demi Allah yang mengutus Nabi Muhammad dengan benar, buku ini sungguh mulia“. Dan dalam mimpi tersebut Rasulullah SAW memerintahkan Imam Ibnu Hirzihim untuk membuka bajunya lalu di cambuk, setelah cambukan yang kelima kalinya, Sayyidina Abu Bakar RA mencoba memohonkan ampun untuknya: “Wahai Rasulullah, mungkin saja dia ingin membela sunnahmu tapi prediksinya salah“. Imam Ghazali menyetujui usulan Sayyidina Abu Bakar RA dan Rasulullah pun memenuhi permohonan itu…. Akhirnya, Imam Ibnu Hirzihim terjaga dari tidurnya, detak jantungnya terasa tidak menentu, rasa gelisahnya semakin menjadi-jadi saat menyaksikan mimpinya begitu nyata, ….dan yang lebih menyayat hatinya takkala ia merasakan jelas di punggungnya ada rasa perih dan tetesan darah, air matanya pun membasahi wjahnya… tanpa berpikir pendek sekalipun, ia segera menceritakan apa yang ia alami kepada seluruh tokoh dan masyarakat... Ia bersaksi bahwa karya Imam Ghazali adalah kitab suci yang mulia…. jika ada yang belum mempercayai akan mimpinya, maka luka di punggungnya sebagai bukti paling nyata... luka itupun terus menyakiti… dan rasa sakit itu terus menemani hingga berbulan-bulan lamanya … Imam Ibnu Hirzihim lalu bertaubat... beliau sadar bahwa memusuhi auliya’ adalah kriminal yang amat besar… beliau kembali mengkaji dan mengamalkan kitab Ihya’ Ulumuddin serta mengajarkannya kepada khalayak umat…. Tak lama dari itu… Rasulullah SAW datang menjumpainya dalam mimpi dan menghapus luka punggung dan hatinya, akhirnya beliau bebas dari segala belenggu yang telah lama menghantui perasaannya”.

Pak RW tiba-tiba sesegukkan “Lalu ulama yang satu lagi bagaimana mbah?”

Mbah Qodim “Beliau juga sebenarnya niatnya mungkin untuk meluruskan kembali .... NAMUN ... Intinya semua harus mawas diri, KETIKA SESEORANG BENAR dan MERASA PALING BENAR … sesungguhnya ia sudah tergelincir pada yang SALAH … namun jika KETIKA manusia tersebut dalam kesalahan dan mengaku SALAH … sesungguhnya ia sudah pada anak tangga KEBENARAN … sebagai sesama muslim HANYA ADA SATU TEKAD … saling NASEHAT MENASEHATI dan bukannya SALING MENGHAKIMI …. In Syaa Allah itu akan kita bahas dalam BAB Ta’awudz … In Syaa Allah … In Syaa Allah …"
     

Kamis, 02 Agustus 2018

Q.S. YASIN 1 – 11


“Bapak-bapak sekalian, coba kita renungkan, kok makna Surat An Nas sepertinya selalu tertunda, mbah Qodim itu penuh dengan teka teki, selalu ada saja kejadian-kejadian yang justru perlu di dedar sebelum Surat An Nas”. Pak RW membuka pembicaraan saat warga sudah berkumpul di warung mak Narti, semua mulai mencermati kata-kata pak RW, mereka semua mulai memikirkan apa yang sebenarnya sedang berjalan tersebut demikian pula dengan Adri yang sudah berada di holaqoh tersebut,

Pak RW “Eh .. nak Adri, panjenengan itu kan sudah banyak menimba di tempat lain, bisa gak kira-kira memecahkan teka teki ini?”

Adri pun merenungi pertanyaan pak RT, ia mencoba mengingat-ingat kode alam mbah Qodim yang sempat ia terima saat menjelang pulang sholat Isya waktu lalu “Mbah Qodim pernah saya Tanya tentang Mukzizat Al Quran yang agung ini bapak-bapak, beliau hanya tersenyum dan melirik buku-buku yang sering saya bawa, dan berkata sedikit saja, apa yang membuat nak Adri suka ketika baru melihat sebuah buku?, itu saja bapak-bapak, lha panjenengan sedoyo itu kan yang lebih lama bareng mbah Qodim”.

Semua manggut-manggut, namun terlihat berfikir keras mencari sebuah jawaban, lalu pak RW bertanya sambil memperhatikan satu buku milik Adri yang ia pegang “Dulu waktu beli buku ini apa yang membuat nak Adri suka?”

Adri “Yah pertama sudah pasti dari sampulnya pak, lalu judulnya, sebulum saya sah beli buku ini pertama yang saya lihat ya sampul depan dan belakang, lalu saya amat-amati judulnya, biasanya ada keterkaitan antara judul dan gambar dari sebuah buku, itu akan menggambarkan sekilas tentang isinya”.

“Nah ini dia !!!” Tiba-tiba pak RW menggebrak meja di depannya, semua warga yang ada di warung mak Narti tampak kaget, mak Narti dari dapur warungpun terlihat berlari kecil menghampiri.


Pak RT “Bikin kaget aja pak RW ini … jantung ku hampir copot rasane”.

Pak RW cengengesan “Maaf hehehhe, itu sangking senengnya hehhehe”.

Adri “Maksudnya gimana pak RW?”

Pak RW mengambil duduk sempurna (lagaknya mulai meniru mbah Qodim apabila mulai masuk dalam mendedar makna) “Bapak-bapak sekalian, kita ketahui sampul depan Al Quran itu kita anggap saja Surat pertamanya …. Yaitu Surat Al Fatihah .. lalu tiga QUL atau Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nas adalah surat penutup, tepatnya An Nas adalah surat ke 114 …. Ini ada kaitannya dengan kata judulnya … AL QURAN … jelas diskripsi awalnya di Al Fatihah dan ada 3 Qul belakangnya.. saat ini kita sudah mendapat 2 Qul .. tinggal yang terakhir … maka ini yang membuat mbah Qodim seperti menunggu Rangkumannya selesai, lagipula kita semua belum menjawab mengapa Allah berfirman raja dulu baru sesembahan … hemm banyak sekali yang memang masih harus kita renungkan”.

Mak Narti “Sttt bapak-bapak sekalian, itu mbah Qodim datang”.

Wargapun mulai memperbaiki kembali tempat duduknya masing-masing, sebuah salam terdengar merdu dan tenang, jawaban salampun terlihat antusias mengantarkan langkah tua menuju tempat duduknya.

Mbah Qodim “Wah tampaknya jiwa-jiwa yang sudah menghidupkan pelita hatinya semakin banyak nih, Alhamdulillah”.

Pak RW “Enggeh mbah hehhehe”.

Mbah Qodim “Lagi ngobrolin apa nih?”

Pak RW sedikit gugup “Ini mbah, kita ada PR dari sahabat kita Dawud Ahdda, di era zaman modern ini, banyak sekali yang sudah tahu ilmu-ilmu agama, namun kok banyak yang melanggarnya, lha kita selaku muslim kan wajib untuk memberitakan yang sebenar-benarnya, yah walau pahit harus kita ingatkan, gitu mbah?”

Mbah Qodim “Benar itu pak RW, kewajiban kita ya memang harus mengingatkan walau disesuaikan dengan kadar keadaan diri kita masing-masing, wajib disini lah yang mebuat kita berdosa bila diam saja, namun kadar diri akan membatasi tindakan berlebihan dari kita, contoh apabila kita melihat orang mabuk-mabukan, wajib kita ingatkan namun disesuaikan dengan kadar diri yaitu bukan melabrak langsung ke kelompok yang sedang mabuk-mabukan tersebut, namun dengan cara melaporkan kepada pihak yang berwenang, perbuatan itulah yang akan menggugurkan kesalahan kita, jika kita diam saja karena cari selamat atau karena gak enak, justru sebenarnya kita mulai menjauh dari selamat itu sendiri dan akan dibuat tidak enak pada suatu kelak, contohnya kita diam dan tidak mau lapor, eh .. taqdir Allah berkata bahwa anak kita lewat di depan rombongan tersebut, lalu terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan … namun ini hanya contoh saja bapak-bapak”.


Pak RT “Iya mbah, itu memang menjadi folemik buat kita semua, namun yang membuat hati teriris-iris itu sudah ngomongin benar namun tidak di dengar, sakitnya tuh disini, mbah” sambil menggenggam tangan kanan di tempelkan di dada kiri pak RT

Semua terlihat menahan senyum, namun masih terlihat mengembang bibir masing-masing.

Mbah Qodim pun ikut tersenyum “Hehehhe enggeh pak RT … jika ada 1 orang dokter namun pasiennya 30 orang, yang diperlukan sang dokter yaitu SABAR dan ISTIQOMAH… karena manusia sudah memiliki kemampuan sesuai dengan batas kadarnya masing-masing, namun jangan berhenti untuk tetap mengobati, dahulu … ada yang merasakan kepiluan seperti pak RT, namun kadarnya jauuuuuuuuuuuh lebih besar.”

Pak RT “Siapa mbah ?”

Mbah Qodim “Rasulullah SAW, seseorang manusia mulya yang sudah diizinkan melihat gambaran syurga yang berlimpah mahligai kebahagian dan diperlihatkan pula Neraka yang dipenuhi derajat tertinggi kenestapaan, beliau berjuang untuk mengajak orang-orang disekitarnya agar SELAMAT/ISLAM dari lubang Neraka yang jalannya justru lebih mulus daripada jalan menuju ke Syurga … namun umatnya justru memeranginya, mencibirnya bahkan tidak sedikit yang menfitnahnya.”

Adri “Lalu mbah?”

Mbah Qodim “Kesedihan yang sangat dalam itulah yang menjadikan Allah SWT menurunkan Surat Yasin untuk menghibur Rasulullah SAW, maka surat Yasin dikenal juga sebagai HATINYA Al Quran”.

Semuanya mulai menundukkan kepala.

Mbah Qodim “Bayangkan, andaikata semua orang sengsara, sebagai contoh desa kita kemarau panjang dan semua tidak ada air, lalu kita sendiri yang memiliki air, pastilah rasa syukur akan terus kita panjatkan kepada Allah SWT, itu karena kadar iman kita segitu, namun bagi Rasulullah SAW … bila beliau sendiri yang SELAMAT/ISLAM … sampai ke Syurga-Nya namun yang lain di neraka maka itu menjadikan Hati Beliau tercabik-cabik terbebani kesedihan yang mendalam, yang Rasulullah inginkan bahwa kita-kita semua SELAMAT/ISLAM bersama beliau menuju kebahagiaan hakiki, ini mengapa Allah SWT berfirman YAASIIN ….apa bapak-bapak tahu arti Yaasiin?”.

Pak RW “Hanya Allah yang Tahu mbah”.

Mbah Qodim “Ya ya ya … memang itu yang sering kita dapatkan di sekitar kita, namun apabila kita jeli, lihatlah pada Sholawat Badar … ‘Ala Yaasiin Habibillah … kepada Yasin kekasih Allah … siapa Yasin yang dimaksudkan dalam sholawat Badar?”

Pak RW “Nabi Muhammad SAW, mbah!”

Mbah Qodim “Enggeh pak … Allah SWT terkadang memanggil Junjungan kita dengan nama-nama kusus yang maknanya menunjukkan kasih sayang yang lebih pada saat itu, Yaasiin, Toha dan banyak lagi yang lainnya, anggap saja nama mbah, 'Qodim', namun saat tertentu orang tua mbah memanggil mbah dengan panggilan NGGEER atau Tole atau lain sebagainya, disesuaikan dengan keadaan mbah saat itu, dan itu Hak Allah SWT, namun kita sebagai umat Rasulullah SAW setidaknya tahu maksud dari Yaasiin itu”.

Mak Narti diam-diam mendekati holaqoh warga dan duduk mendengarkannya.

Mbah Qodim “Panggilan Allah SWT yang disampaikan Malaikat Jibril AS tampaknya belum bisa menuntaskan kesedihan Rasulullah SAW, maka Firman keduapun diwahyukan kembali WAL QUR’ANIL HAKIM Demi Al Qran yang penuh dengan hikmah … disini Allah SWT ingin membangkitkan semangat dakwah Rasulullah SAW yang tidak didengarkan oleh umatnya, sebuah energy dari Al Quran yang merupakan Mukzizat mulya yang mengandung banyak hikmah, namun Rasulullah SAW belum juga lepas dari kesedihannya … maka INNAKA LAMINAL MURSALIN …. Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari rasul-rasul … maknanya adalah apabila Rasulullah memperhatikan Al Quran maka sebenarnya Rasul-rasul Allah SWT sebelum beliau … pasti akan merasakan juga kepedihan dalam hal berdakwah … ‘ALA SHIROTI(N)MUSTAQIM … yang berada diatas jalan yang lurus … Allah SWT ingin memberikan kekuatan moril bahwa tindakan Rasulullah masih dalam kaidah-kaidah KEBENARAN … karena Rasulullah belum banyak perubahan dalam kesedihan maka TANZILAL AZIZIRROHIM … sebagai wahyu dari Sang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang …. Disini Allah SWT mulai menyinggung keperkasaan-Nya namun tidak meninggalkan sifat Penyayang-Nya”.

Adri “Maksudnya gimana Mbah?”

Mbah Qodim “Artinya … Allah itu Maha Perkasa atas ketentuan-Nya namun masih memberi waktu untuk hamba-hamba-Nya sudah tentu itu karena Kasih Sayang-Nya … lalu Allah SWT mulai memberikan kejelasan LITU(N)DZIRO QOUMA(N)MA U(N)DZIRO ABA UHUM FAHUM GHOFILUN … Agar kamu memperingatkan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum diberi peringatan, karena itu mereka lalai … disini Rasulullah diberi gambaran bahwa sebeuah generasi itu merupakan tanggung jawab dari generasi sebelumnya, kesalahan anak merupakan tanggung jawab orang tua, maka untuk memutuskan rantai keburukan, bila orang tua mereka tidak mengajarkan kebaikan maka kita wajib berdakwah kepada mereka … LAQOD HAQQOL QOULU ALA AKSTARIHIM FAHUM LAA YU’MINUN … Sesungguhnya telah berlaku ketentuan Allah kepada mereka, karena mereka tidak beriman…. Maknanya adalah Allah Maha Tahu tentang mereka yang akan tetap inkar, namun Rasulullah SAW harusnya terus berdakwah … karena hidayah itu HAK ALLAH SWT … INNA JA’ALNA FII A’NAQIHIM AGHLALA(N) FAHIYA ILAL ADZQONI FAHUM MUQMA(KH)UN … Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka lalu tangan mereka diangkat ke dahu, maka karena itu mereka tengadah … walau nasehat benarpun mereka sudah terikat pada kesombongan … WA JA’ALNA MI(N) BAINI AIDIHIM SADDA(N)WAMIN KHOLFIHIM SADDA(N) FAAGHSYAINA HUM FAHUM LAYUBSHIRUN … Dan Kami berikan dinding di depan dan di belakang mereka, dan Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat … WA SAWAUN ‘ALAIHIM A A(N) DZARTAHUM AM LAM TU(N)DZIRHUM FAHUM LAYU’MINUN … Sama saja apakah kamu meberikan peringatan kepada mereka ataupun tidak, mereka tetaplah tidak beriman …. “.

Adri “Mengapa Rasulullah tetap harus berdakwah mbah jika Allah sudah mengetahui bahwa mereka tidak beriman?”

Mbah Qodim tersenyum mendengar pertanyaan Adri “Yaah … kelak bila mereka di masukkan ke dalam neraka karena kesalahan mereka tetapi mereka bisa saja protes … salah kami dimana …. kami tidak tahu dimana kesalahan kami ... Nah ini akan membuat presepsi Allah tidak adil … tetapi jika mereka sudah pernah diperingati lalu mereka bertanya kenapa mereka disiksa ... maka Allah akan menjawab, dulu AKU pernah mengutus Rasul KU untuk memperingatkan kalian … NAH ... pasti mereka tidak akan bisa protes lagi … begitu juga saat ini, jika kita tidak ada yang memberi tahu bahwa berjudi itu dilarang, pasti kita akan protes kalau ditangkap Polisi, tetapi kalau kita sudah diberi tahu tetapi masih nekat judi yah dipenjaralah kita …..tetapi pada ayat ke 11 nya Allah SWT berfirman … INNAMA TU(N)DZIRU MANITTABA’ADZDZIKRO WAKHOSYIYARROHMANA BIL GHOIB, FABASYIRHU BIMAGHFIROTI(N) WA AJRI(N) KARIM .. Sesungguhnya kamu hanya memperingatkan mereka yang mau mengikuti dan takut kepada Allah Yang Maha Pemurah … walau mereka belum pernah melihat Allah SWT … maka berilah kabar gembira kepada mereka tentang ampunan dan pahala yang mulia …”

Pak RT “Jadi 'pasti' masih akan ada yang mendengarkan nasehat-nasehat baik kita mbah”

Mbah Qodim mengedipkan mata kanannya “Yups … Ainul Yaqin masih banyak pak … sampai pada ayat ini Rasulullah SAW bangkit kembali semangatnya untuk berdakwah”.

Pak RT kembali memegang dada dirinya “Tapi sakiiiiiit mbah rasanya kalau keinginan baik kita tidak didengar oleh mereka …”

Gigi putih mbah Qodim terlihat saat senyumnya melebar “Kita ini umat Rasulullah SAW, belum seujung kukunya dalam hal sakit pak RT, pernahkan kita berdakwah dibalas ludah … pernahkah kita dakwah dibalas lemparan batu … pernahkan kita dakwah dibalas perang hingga renggutan nyawa … hehhee kita semua belum bertemu itu pak RT … (Mbah Qodim menghela nafas) namun Rasulullah SAW sudah bahkan ribuan kali merasakannya (Mata mbah Qodim menjadi basah dan senyumannya terlihat langsung menghilang)”. 

Senin, 30 Juli 2018

SHOLAT PAKAI BAHASA INDONESIA



Warung Mak Narti masih dipenuhi oleh warga, keberadaan pemuda bernama Adri nampaknya akan menimbulkan banyak pertanyaan yang baru daripada pertanyaan-pertanyaan warga Desa Suka Damai, itu karena Adri sudah menjajaki wilayah perkotaan.

Adri “Mbah, tolong berikan lagi jawaban yang masuk akal tentang fenomena akhir-akhir ini, itu tuh dengan adanya kelompok orang yang Sholat namun bacaannya di bahasa Indonesiakan, mereka punya keyakinan bahwa Allah Maha Tahu, jadi SAH menurut mereka walaupun sholat pakai bahasa Indonesia”.

Mbah Qodim tersenyum, lalu celingukan mencari mang Jupri, lalu mbah Qodim berkata “Mang Jupri, panjenengan kan cedal, bisa ucapkan kata ‘R’ tidak ?”

Mang Jupri yang duduk tepat di belakang pak RT tersenyum-senyum malu sambil menjawab “Tidak bisa Mbah”.

Mbah Qodim mantuk-mantuk “Jika mang Jupri ngobrol dengan kita dan saat mengucapkan huruf R logatnya cedal, maka kita semua akan memakluminya, bahkan Guru Bahasa Indonesiapun tidak akan memberikan nilai jelek pada logat R nya itu, namun, jika mang Jupri BISA mengucapkan R karena ia tidak cedal, namun ia mencedalkan logatnya, jangankan guru bahasa Indonesia, kita semua pasti akan risih dengan prilaku itu, sekarang mbah mau bertanya kepada mang Jupri, sebenarnya panjenengan itu ingin cedal atau ingin normal?”

Mang Jupri “Normal mbah”. (tampak sekali logat cedalnya)

Mbah Qodim “Nah bila yang cedal saja sebenarnya ingin normal kenapa yang normal ingin cedal … jika masuk ke dalam agama yang mulya ini aturan/contohnya harus membaca dengan lafadz Arab mengapa kita harus meng Indonesiakannya, lain halnya apabila kita benar-benar belum bisa belajar dengan sempurna, contoh dalam berdoa, mungkin banyak keterbatasan kita dalam hal MAMPU menghafalnya, namun dalam Sholat, jangankan kita yang sudah dewasa, anak kecil saja bila mau belajar akan hafal dan fasih dalam mengucapkannya, itu karena Sholat dalam 1 harinya wajib 5 waktu kita laksanakan, belum lagi tambahan sholat-sholat sunnah … bacaannya toh itu-itu saja, masak begitu saja harus kita otak atik atau tawar menawar lagi”.

Adri “Tapikan Allah itu Maha Tahu, mbah?”

Mata mbah Qodim tiba-tiba menajam “Justu karena Allah Maha Tahu, maka kita sebagai hamba-Nya harus mengikuti apa yang diinginkan oleh Allah SWT, Al Quran itu mukzizat … dan bila diterjemahkan menurut bahasa masing-masing maka MAKNA SESUNGGUHNYA tidak akan 100% tepat, karena terjemahan adalah kemampuan otak manusia dalam memaknainya ….  Jika kita ingin bekerja atau mengabdi pada perusahaan besar milik Amerika … maka gunakan bahasa Amerika dalam mengucapkannya, bukan pakai bahasa Indonesia, ucapkan WAN walau tulisannya ONE … karena bila itu tidak dilaksanakan maka perusahaan besar itu akan menendang kita keluar dari perusahaan tersebut, begitupun PERUSAHAAN SANG MAHA HEBAT … ikuti apa yang menjadi aturannya bila ingin mendapatkan berkah dan keuntungan sebesar-besarnya dari PERUSAHAAN tersebut !!!”

Semua yang ada di warung tampak sedikit kaget, mbah Qodim ternyata bisa berkata tegas dan saklek pada poin-poin tertentu.

Mbah Qodim menghela nafas “Jangan mencedalkan huruf R jika kita Normal … karena itu sebuah penghinaan kepada orang lain terlebih lagi kepada pencipta huruf R tersebut dan sesungguhnya perbuatan itu justru merendahkan martabat kita sendiri, TOLERANSI terjadi apabila memang taqdir menuliskan bahwa ia terlahir cedal, itulah mengapa Allah SWT itu Maha Tahu, karena toleransinya untuk mereka-mereka yang memiliki takdir tidak normal … dan Maha Tahu-Nya akan menjadi murka disaat mereka-mereka yang normal namun mencedal-cedalkan dalam pelaksanaannya … patuhi aturan yang sudah baku dibuat oleh Nya maka Islam lah kita … atau SELAMATLAH kita”.   

Rabu, 25 Juli 2018

AL ISLAMU DINUL AQL



“Mana mbah Qodim, kok belum muncul-muncul?” Tanya seorang pemuda di warung mak Narti, Pemuda tersebut membawa beberapa kitab, entah apa maksudnya, Pak RT, pak RW dan para warga gemas melihat pemuda tersebut, kepala mereka sesekali dicelingukkan ke arah jalanan, berharap mbah Qodim berjalan melintas seperti biasanya.


“Sabar toh cah bagus, ntar lagi mbah Qodim pasti…. ..Mbaaaaaaaaaaaaahhhh!!!” Mak Narti belum sempat menyelesaikan kalimatnya namun matanya melihat mbah Qodim berjalan dengan tenang, melihat dirinya diteriaki mak Narti Mbah Qodim membalasnya dengan lambaian tangan, itu dilakukan agar mak Narti berhenti berteriak, hemat energi hehhee.


Mak Narti langsung tancap gas menuju belakang warungnya sembari mengeluarkan suara melengking “Pak RW tugas panjenengan sekarang!!!”.


Mbah Qodim masuk ke dalam warung, lalu duduk seperti biasa, warga mulai ngariung, Pemuda yang sedari tadi menunggu segera berpindah tempat duduknya mendekati meja mbah Qodim, buku-bukunya ia pindahkan di meja mbah Qodim, terlihat menumpuk rapi, mbah Qodim hanya melirik buku-buku tersebut lalu bertanya “Ini siapa pak RW ?”


Pak RW “Ini mbah, pemuda ini anak desa sini, tetapi melanjutkan menimba ilmu di luar daerah”


Mbah Qodim mantuk-mantu sambil tersenyum, pemuda itu lalu berucap sopan “Mbah, perkenalkan nama saya Adri, saya warga sini, kebetulan sedang liburan, dan saya banyak mendengar mbah bercerita tentang Ayat-ayat Al Quran secara akal, saya ingin meluruskan mbah, dalil yang agama kita pakai itu kan aqli dan naqli, terkadang ada yang tidak dibisa di jelaskan oleh akal”.


Mbah Qodim memandang sejuk kepada pemuda tersebut, senyumnya mengembang “Benar sekali nak, yang panjenengan katakan itu benar, lalu dimana permasalahannya?”


Adri “Kalau mbah Qodim menjelaskannya selalu masuk akan, Saya takut nanti pas ada ayat yang tidak bisa dijelaskan secara akal, mereka tidak beriman, mbah?”


Mbah Qodim “Yaa yaa, mbah mengerti, anak muda ... Al Islamu addinul aql … Islam itu agama yang masuk akal, agama untuk orang-orang berakal dan yang mau menggunakan akalnya, dengan akal itulah manusia dapat menimbang apakah yang mereka lakukan benar atau salah, baik atau buruk .. itu fungsinya akal, jika kita menjelaskan bentuk Negara ini, maka peta adalah sarana yang masuk akal untuk melihat secara keseluruhannya”.


Adri “Tapi mbah semua tidak bergantung pada akal kan?”


Mbah Qodim “Benar, naqli itu sumber utama untuk akal, adapun ayat-ayat yang tidak masuk akal hakekatnya bukanlah demikian, namun yang benar adalah akal belum bisa menjangkaunya, sebagai contoh … dahulu 1400 tahun yang lalu Ayat-ayat Al Quran sudah menjelaskan tentang tata surya, janin dalam perut, atau akan ditemukannya jasad Firaun yang dapat dijadikan bahan kajian ... dan bayak lagi yang lainnya, mungkin untuk tempo dulu ayat-ayat tersebut belum terjangkau akal dan bukannya tidak masuk akal ….sekarang, dengan tehnologi yang canggih satu persatu ayat-ayat tersebut mulai terjangkau akal, itu mengapa orang-orang yang pintar dari negeri seberang justru masuk ke dalam agama ini karena mereka mulai menggunakan akal mereka menerima sebuah kebenaran”.


Adri “Maksud saya gini mbah, saya contohkan, kita berwudhu, mulai kumur-kumur, basuh muka sampai basuh kaki, terus kita kentut, kan wudhu ulangnya mulai dari kumur-kumur lagi sampai basuh kaki, takutnya ada yang bilang Islam itu agama gak masuk akal, mosok yang kentut itu pantatnya kok yang di basuh mulut, hidung, tangan sampai kaki, tapi gak cebok, lha yang kentut kan pantatnya”.


Mbah Qodim tertawa terbahak-bahak mendengarnya lalu berkata “Ya masuk akal toh anak muda, justru kalau panjenengan jawabnya pakai Naqli dan dia beda keyakinan maka dia gak akan percaya, wong Naqli itu bersumber pada Al Quran dan Al Hadist, jadi wajar jika umatnya mengikuti itu, lha kalau lain keyakinan ya otomatis akan bilang itu gak masuk akal, maka itu fungsinya akallah yang harus menjelaskannya”.


Adri terlihat bingung “Masuk akal gimana mbah? Lha wong jelas memang dalam tata cara berwudhu memang jika kita buang angin kan wudhu lagi, walau g cebok kan g papa”


Mbah Qodim semakin cekakakan “Hahhahahaha anak muda … anak muda …. Panjenengan pernah sakit kepala?


Adri “Pernah, mbah?”


Mbah Qodim “Kalau berobat ke dokter disuntik di bagian mana?”


Adri "Di pantat mbah!”


Mbah Qodim “Wahahahhaha bilang ke dokter tersebut, suntiknya di kepala pak dokter, yang sakit kepalanya wahahahhahahhahaha”


Seisi warung mak Narti ikut tertawa terbahak-bahak, sedangkan Adri hanya garuk-garuk kepala.


Adri “Okelah mbah saya setuju, tetapi saya juga pernah ditanya bahwa Isro wal Mi’roj itu gak masuk akal, perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqso lalu ke Sidratul Muntaha …. Nah yang dia tanyakan, luar angkasa itu kan hampa udara, jika kita tidak bernafas 5 menit aja bisa mati, eh ini lewat atsmofir kok santai santai aja, darimana sumber kita bernafas”.


Mbah Qodim menghentikan tawanya mendengar kalimat Rasulullah SAW, di dalam hatinya langsung berucap Allahumma Sholli wa sallim wa Barik alaih, lalu menatap anak muda tersebut, kebetulan saat itu bertepatan kopi mbah Qodim diantar oleh mak Narti, mbah Qodim memandang Mak Narti “Mak, ada lilin tidak di dapur?


Mak Narti “Ada mbah …”.


Mbah Qodim “Tolong bawa kesini”.


Mak Nartipun lalu mengambil lilin tersebut.


Mbah Qodim menghidupkan lilin tersebut lalu berkata “Anak muda, lewatkan jari telunjukmu diatas api lilin ini secara perlahan”.


Walau sedikit bingung Adri mengikutinya … dan saat jari telunjuknya tepat diatas api ia segera tarik tangan tersebut, karena terasa panas api, menyengat jari telunjuknya.


Adri “Panas mbah”.


Mbah Qodim “Sekarang ulangi lagi namun dengan cepat”


Adripun melakukannya, jarinya tidak terasa apa-apa, ia mencobanya sampai berulang kali, lalu bertanya “Maksudnya gimana mbah?”


Mbah Qodim “Saat melintasi ruang hampa, Rasulullah SAW menaiki kendaraan yang bernama Buroqh made in Allah Azizul Jabbar … jadi belum sempat ambekan aja Rasulullah SAW sudah sampai di tujuan , jikalau saat ini, manusia sudah bisa menciptakan pesawat yang kecepatannya bisa melebihi kecepatan cahaya, maka buatan Allah SWT berjuta-juta kali lipat dari itu, jika melintasi ruang hampa udara hanya sekejab kedipan mata, apakah kita akan kehabisan nafas?”


Adri menunduk, masih banyak ilmu yang belum ia dalami, ada niatan dalam hatinya untuk dekat dengan mbah Qodim sehingga bisa mendapatkan banyak hikmah dan kebenaran dari agama yang ia yakini akan membawanya kepada kebahagiaan abadi.


Mbah Qodim “Terjadinya perdebatan itu disaat sebuah persoalan tidak bisa masuk dalam otak mereka, sehingga otak lelah, lalu nafsu lah yang berkuasa memerintah saat itu... setelah ini kita mengaji tentang Surat An Nas, namun sebelumnya mbah ingin melihat apakah akal penjenengan sedoyo sudah di fungsikan untuk menjangkau kebenaran aya-ayat Allah SWT … dalam surat AL Fil disana disebutkan bahwa burung-burung Ababil mengambil kerikil dari neraka lalu dijatuhkan kepada tentara bergajah … yang mbah tanyakan … bagaimana tanggapan akal panjenengan mendengar ayat tersebut, bukankah dunia dan neraka itu merupakan alam yang berbeda … beda dimensi ? lalu kenapa di paruh burung tersebut kerikil neraka tidak membakar burung Ababil... namun membuat keropos tentara bergajah … bagaikan daun yang dimakan ulat … jika Tafakkur panjenengan semua sudah istoqomah dilaksanakan, maka tabir kebenaran Al Quran akan menancap dalam pada Iman panjenengan sedoyo”.

Rabu, 27 Juni 2018

AL FALAQ


“Ayo kita dekati mbah Qodim, sepertinya wiridannya sudah selesai” ajak pak RW kepada warga seusai sholat isya berjamaah.

Seperti biasa dalam Mushola Al Latif  akhirnya mereka berkumpul membentuk holaqoh, setelah beberapa kalimat menjadi muqoddimah, pak RW mulai berkata “Mbah, kami sebenarnya ingin menggali tentang surat An Nas … tetapi kami masih ingin berusaha memecahkan rahasia kenapa Allah SWT berfirman Malikinnas … Ilaahinnas … Raja dulu baru sesembahan, namun kini kami semua sepakat mau bertanya tentang Surat Al Falaq (Waktu Subuh) entah kenapa kami ingin dari surat ini dulu mbah!”.

Mbah Qodim mulai tersenyum, ia melihat betapa saudara-saudaranya sudah terlihat titik cahaya pada usaha menggapai TITIK BA yang akan merubah pandangan tentang keagungan DINUL ISLAM yang di bawa oleh Rasulullah Muhammad SAW … sebagai Rahmatan lil ‘alamin dari Sang Penguasa Jagat Raya … Allah Azizul Jabbar … “Baiklah bapak-bapak sekalian … sural Al Falaq ini memang salah satu bahan yang diperlukan dalam pembentukan pondasi iman, sehingga bila bahan-bahan pondasi sudah lengkap maka bangunan pondasi akan kokoh … lalu apapun yang akan dibangun di atas pondasi yang kokoh akan kuat terhadap cuaca ekstrim … yah anggap saja ada pasir, batu, semen dan air … Surat ini salah satu dari bahan tersebut … namun sebelum kita membahas SUBUH … mbah ingin bertanya … apa itu SIANG … apa itu MALAM … dari sinilah nantinya kita akan bisa melihat jeli apa itu BAIK .. apa itu BURUK … “.

Pak RT “Siang itu terang, malam gelap mbah?”

Mbah Qodim tersenyum, “Lalu saat siang tiba-tiba mendung ataupun ada gerhana apakah itu bisa juga dikatakan siang Pak RT?, dan saat malam dipenuhi cahaya lampu sehingga menjadi terang, apakah itu dikatakan siang?, monggo jamaah yang lain”.

Dari belakang pak Jimin salah satu jamaah menjawab “Karena siang itu tersinari matahari mbah, malam tidak”.

Kembali mbah Qodim tersenyum “Itu tadi kalau sinar tersebut di halangi mendung ataupun terhalangi bulan (gerhana) apakah itu juga masih dikatakan siang?”

Semua menunduk, hampir semua mengerti apa itu SIANG apa itu MALAM akan tetapi mereka jarang sekali memikirkannya.

Mbah Qodim “Dikatakan siang itu tak kala sisi tersebut sedang bersama matahari, dan malam itu dimana sisi itu jauh dari matahari, … demikian pula saat orang dikatakan baik … berarti saat itu sisi prilakunya sedang bersama Allah SWT demikian pula kebalikannya … banyak yang berbuat baik namun sebenarnya ia sedang tidak bersama Allah … ini artinya sama saja dengan MALAM yang ditaburi dengan cahaya-cahaya lampu sehingga terlihat terang … namun hakikatnya ia tetaplah malam …. Banyak yang membungkus prilaku dengan perbuatan-perbuatan baik … namun hakikatnya ia memiliki tujuan-tujuan yang sebenarnya kebalikan dari prilaku baik itu sendiri, Ingat bapak bapak … mari kita renungkan … apakah saat ini kita berusaha untuk selalu dekat dengan NYA … sehingga prilaku-prilaku kita bisa dikatakan baik? Baik dalam arti yang sebenarnya … bukan hanya manipulasi belaka …. Walau Allah menguasai Jagat semesta … menguasai Syurga dan Neraka … yaqinlah … apabila kita di syurga maka disitu ada Allah … namun saat di neraka … Allah sebenarnya jauh dari keberadaan kita….”

Pak RW “Terus gimana mbah kita memaknai arti siang dan malam itu?”

Mbah Qodim “Tafakkarun terus tentang ayat-ayat Allah yang tersirat di dunia ini …. Apabila kita tidak menyadari maknanya … maka kita bisa lihat … betapa banyak orang mengalami kecelakaan disaat siang hari … namun banyak pula yang selamat sampai ketujuan karena tindakan kehati-hatian seseorang di malam hari, pada saat siang … kita sering kali terlena … saat berkendara di siang hari kita sering kali justru menacap gas hanya demi tujuan agar cepat sampai, lain halnya dengan orang yang berbekal lampu kecil menyusuri malam … ia sangat hati-hati dan berjalan perlahan … ia menjadikan cahaya kecil itu sebagai pedoman … namun banyak saudara kita melupakan sang Matahari yang bersinar terang sebagai pedoman …. Lihatlah … banyak sahabat-sahabat kita yang banyak ilmunya … justru lalai akan ilmunya … banyak yang hafal dalil-dalil .. namun lalai tak mau menerima nasehat dari sesamanya ….namun disisi lain …sang fakir ilmu lebih memperhatikan ilmu itu sendiri … … dan jauh disana … ada insan dalam lembah hitam yang menangis hanya karena 1 titik cahaya saja … ia menangis hanya karena 1 ayat saja … 1 ayat yang ia rasa bisa ia jadikan pedoman keluar dari lembah kenistaan… satu pedoman yang mungkin datangnya dari hal-hal yang sederhana … meyaqini 1 ayat walaupun itu terucap dari seorang anak kecil …itu mengapa justru Allah SWT menyediakan banyak pahala di malam hari saat hambaNya ingin bermunajad .. Laitul Qodri adanya di malam ... sholat sunnah yang berpahala besarpun banyak di saat malam, demikian pula pahala terhadap hamba-hambaNya yang ingin hijrah mendekatiNya ... ”.

Jamaah Musholla Al Latif mulai menunduk, merenungi apa yang di katakan oleh mbah Qodim.

Mbah Qodim “Nah kembali kepada Surat Al Falaq … yaitu SUBUH … setelah kita tahu apa itu siang ataupun malam maka kita akan tahu … apa itu SUBUH … subuh adalah saat sisi mulai meninggalkan malam menuju kepada siang … maknanya adalah kita yang mulai meninggalkan prilaku yang jauh dari sisi Ketuhanan .. menuju dekat dengan NYA … manusia yang mulai melangkah hijrah pada Allah Sang Kholiq … Qul a’uudzu biRobbil falaq …KATAKANLAH … aku berlindung kepada ROBB yang menguasai subuh … memaknai agar kita juga tetap harus tetap dalam perlindungan NYA … yang senantiasa menjadi pelindung bagi orang-orang yang mulai hijrah mendekati Nya … ingat bapak-bapak sekalian … jangan sekali-kali mencaci maki orang-orang yang berniat Tobat kepada Allah … jangan sekali-kali menghina orang-orang yang mulai berbuat baik … jangan sampai kita memfitnah orang-orang yang mulai menuju CAHAYA pagi … karena mereka punya PELINDUNG yang sebenarnya kita juga mengharapkan perlindungan dari Pelindung mereka ….”.

Terlihat ada beberapa jamaah yang matanya mulai berkaca-kaca

Mbah Qodim “Apa itu BENAR … apa itu SALAH … semua sama dengan penjelasan mbah diatas tadi … Min syarri maa kholaq … disinilah SANG MAHA PELINDUNG itu mulai merealisasikan rahasia NYA .. DIA mendengar bahwa orang-orang yang mendekati pagi akan memohon perlindungan dari kejahatan-kejahatan makhluk ciptaan Nya … wamin syarri ghoosiqin idza waqof … Dan dari kejahatan malam apabila telah gulap gulita … maknanya adalah … saat insan mendekati pagi … bisa saja rekan-rekannya yang masih dalam malam akan semakin gelap gulita .. mereka akan semakin ingin menghalangi dengan berbagai macam cara yang lebih dari yang lain, jika fitnah maka fitnah yang luar biasa … jika hasud maka hasud yang juga luar biasa …. Lalu dilanjutkan wamin syarrin-naffastaati fiil uqod … dan dari kejahatan-kejahatan wanita –wanita sihir, yang menghembuskan pada buhul-buhul … (mbah Qodim mulai menunduk) disini Allah SWT menyebut ada golongan kaum wanita … maknanya … wanita itu sesungguhnya lebih tajam perkataan ataupun tipu dayanya maka disebutkan wanita tukang sihir .. wanita yang menguasa taktik tipu daya … lalu Allah menyebutkan buhul-buhul … yaitu tali jiwa yang tidak terlihat namun bisa mengikat … MANUSIA yang hendak hijrah menuju CAHAYA … harus bisa melepaskan tali jiwa dalam dirinya pada kegiatan-kegiatan masa lalunya yang penuh dosa … walaupun itu berupa kesenangan-kesenangan semu ....tak peduli akan ada banyak yang jahat kepadanya … ataupun akan banyak fitnah yang datang kepadanya … wamin syarri khasidin idzaa khasad … dan dari kejahatan orang-orang yang dengki … apabila ia dengki … ini adalah tantangan dari pagi … yaitu kecurigaan, makian, hinaan atau fitnahan dari orang-orang baru yang akan ada disekelilingnya … sadarilah .. masih banyak saudara-saudara kita yang sudah berada lama tinggal di waktu pagi dan siang … namun mereka khilaf saat memandang orang yang sedang baru menemukan cahaya … itu apabila di dalam hati mereka ada rasa DENGKI yang kelak bisa menutupi cahaya matahari kepada mereka sendiri … mereka sudah tinggal di SIANG namun dalam keadaan GERHANA. Sebenarnya masih banyak lagi penjabarannya ... namun semua akan mengalir menjadi muara... apabila jamaah sekalian mencoba membuat jalan aliran tersebut kedalam jiwa panjenengan sedoyo"